Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts

Wednesday, February 15, 2017

Perjalanan Ke Kudus

Kudus adalah nama salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Ibukota Kabupaten Kudus adalah Kota Kudus. Tidak terlalu padat tetapi sudah cukup ramai. Saya berkunjung ke Kudus untuk urusan pekerjaan yang direncanakan akan berlangsung selama sekitar satu minggu. Tetapi ternyata tidak sesuai dengan yang sudah ditargetkan, jadi saya berada di Kudus agak lebih lama.
Saya datang dari Yogyakarta. Untuk menuju ke Kudus bisa menggunakan bus dan travel. Saat itu saya memilih menggunakan travel. 
Alamat: Jl. Ring Road Utara No.261 (Barat UPN Condongcatur) Yogyakarta - 081328122309
Tarif bulan Desember 2016 adalah Rp 115.000,- 

Saya berangkat berdua dengan kak Ren sekitar pukul 18.00. Ternyata hari itu hanya ada empat penumpang termasuk kami berdua yang akan menuju Kudus. Jadi tidak terlalu sumpek rasanya. malam itu kak Ren membawa cukup banyak bekal makanan. Dengan senang hati saya ikut menikmati karena ditawari.

Karena perjalanan ini dilakukan pada malam hari dan keesokan harinya saya sudah harus mulai bekerja, jadi saya tidak terlalu memperhatikan rute dan sebagainya melainkan langsung segera tidur. Yang saya ingat tiba-tiba jalannya terasa lurus dan tidak macet, agak gelap karena minim penerangan di sepanjang jalan. Saya bertanya pada supirnya, "Ini dimana, pak?". Bapak supir menjawab, "Demak, mbak. Kalau lancar begini, satu jam lagi juga sudah sampai Kudus."

sekitar pukul 24.00 WIB, akhirnya saya sampai di Kosan yang selanjutnya menjadi basecamp  kami. Namanya Kosan Hawaii. Lokasinya di Jalan Sunan Muria, tepat di sebelah Barat SDN 3 Barongan. Kosan ini disewakan dengan kisaran harga 400 - 600 ribu per kamar. Pemilik kosan adalah Bapak Haryanto. sayang sekali saya tidak menyimpan nomor beliau. Pka Haryanto tinggal cukup jauh dari Kosan Hawaii, beliau tinggal di komplek Perusahaan Sukun Grup, karena beliau yang sehari-harinya sebagi Kepala Desa adalah bagian dari Sukun Grup.

Setelah dua malam berada di Kudus, saya menyimpulkan beberapa hal diantaranya,
  • Panas. Mungkin karena pengaruh lintang sehingga hawanya gerah.
  • Simpang 7. Saya rasa ini pusat kotanya, alun-alun tepat di depan kantor bupati Kudus yang sepertinya tidak pernah sepi. Banyak penjual makanan: batagor, siomay, angkringan, nasi goreng, dll.
  • Ada dua pusat perbelanjaan yang terbesar, yaitu Plaza Kudus (isinya Ramayana) dan Matahari yang berada dalam satu area dengan Carrefour.
  • Kotanya kecil. Untuk menuju lokasi tertentu saya beberapa kali mengelilingi alun-alun Simpang 7. Sepeti tidak terlalu banyak alternatif pilihan jalannya.
Senang bisa tinggal di Kudus selama lebih dari satu minggu. Semoga suatu hari bisa ke Kudus lagi.

Tuesday, June 10, 2014

Negeri di Atas Awan. Rumor has it!

    Negeri di atas awan? Benarkah? Negeri apa pula itu? Masih di Indonesia? Jangan-jangan hanya khayalan saja.. Memang kebanyakan dari kita, termasuk pula saya, sering berlebihan dalam menanggapi suatu fenomena, bahkan untuk hal yang belum kita ketahui secara gamblang sekalipun. Tetapi tidak apa-apa, adalah hal yang teramat sangat wajar bila manusia biasa seperti kita takjub, terperangah, atau mungkin lebih baik bila disebut lebay dengan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan, rasakan, lihat, dengan, dan kita ciptakan. Hanya Tuhan yang bisa menciptakannya, dan sudah sepantasnya kita takjub penuh syukur pada-Nya.

    Kembali pada negeri di atas awan.. Negeri ini tentu saja ada di Indonesia. Karena saya yang menceritakan kisah ini dan saya belum pernah pergi meninggalkan negara kita ini walau hanya sekali, mungkin kelak saya akan pergi bila Tuhan menghendaki. (jangan lupa.. saya selalu percaya segalanya ada karena “jalan Tuhan”). Apakah saya sudah cukup bertele-tele? Mari melanjutkan tentang negeri di atas awan. Tepatnya adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Pacitan, Propinsi Jawa Timur. Kecamatan Bandar.


sebagian bentang alam

pola persebaran pemukiman berkelompok

     Sebagian besar wilayah Kecamatan Bandar.. ah mungkin sebaiknya saya bilang seluruh wilayahnya merupakan daerah yang berbukit-bukit dan berlembah dengan kemiringan yang mencapai 100%, jurang di kiri atau kanan jalan dan tebing batu di bagian lainnya. Jalannya? Berkelok-kelok macam ular naga.. (sudah pernah lihat ular naga? Nah itu juga bagian dari hal berlebihan dari masyarakat Indonesia, ular naga). Karena berada pada ketinggian mdpl, maka sudah pasti suhunya lebih rendah daripada daerah lainnya di Pacitan yang sebagian besar wilayahnya berada di garis pantai selatan Jawa yang sekaligus langsung menghampar di depannya Samudera Hindia.

      Karena tempatnya yang jauh dari ibukota kabupaten (lebih dekat ke Kabupaten Ponorogo), berada di ketinggian, hawanya dingin, jalannya berliku. Maka munculnya sebutan “negeri di atas awan”. Apakah memang benar-benar di atas awan? Seperti waktu kita sedang naik gunung? Silahkan kunjungi sendiri yaa.. J Tapi akan saya beri tahu, tidak sepenuhnya benar. Jarak tempuh dari kota memang sangat jauh, sekitar 2,5 jam perjalanan santai.. jangan lupa, itu jarak relatif. Jalanan berliku, sudah berkali-kali terjadi kecelakaan kendaraan yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia. Suhunya memang termasuk sangat dingin, terlebih pada malam hari. Hawanya sejuk, iklim sosial pedesaan yang khas seperti yang sering digambarkan dalam buku-buku pelajaran di sekolah. Cukup jauh dari fasilitas umum yang bisa menunjukkan kemewahan, status sosial dan lain sebagainya.
Jalan lokal

SDN Bandar 1
        Wah berarti pelosok banget ya? Itu juga relatif J Bandar, khususnya Dusun Grenjeng, memang hanya sebuah dusun kecil dengan kepadatan penduduk yang jarang, mayoritas penduduknya bertani dan beternak. Bukan bertani tanam sayur seperti yang di kaki gunung.. bahkan pagi saja tidak di sawah, padinya padi gogo, itu dikarenakan kondisi geografis Pacitan yang bentukan lahannya adalah karst atau secara awam dikenal dengan kapur. Meskipun demikian, fasilitas yang ada disini sudah termasuk cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Ada sebuah Bank konvensional negara yang membantu perputaran uang masyarakat, sarana dan prasarana pendidikan hingga jenjang sekolah menengah atas. Sebuah pasar tradisioal yang digelar dalam lima hari sekali, yaitu setiap hari Pon, itu adalah salah satu hari dalam hitungan jawa. Masyarakat percaya itu akan membawa berkah dan hal baik. Sarana ibdah yang memadai, bahkan sedang dibangun sebuah rumah ibadah yang megah untuk ibadah masyarakat setempat.

        Jadi maksudnya penduduknya disana makmur? Kaya raya? Kalau untuk masalah itu.. saya sangat tidak berani menjawabnya. Karena kemakmuran dan kekayaan itu harus dikembalikan pada diri masing-masing. Tolak ukur makmur dan kaya tentu saja berbeda antara seseorang dengan orang lainnya. Hanya saja, saya bisa katakan, tempat ini lebih baik secara visual daripada tempat tinggal saya yang masih sangat jauh dari pembangunan (ndak perlu membayangkan tempat tinggal saya, fokus saja pada kisah dalam postingan ini). Masyarakat juga mengenal arti nvestasi dengan baik. Mereka juga berinfestasi untuk jangka panjang yang dianggap akan menguntungkan dan akan membantu hidupnya di masa mendatang. Jadi mereka berinvestasi dalam bisnis property. Hei, saya hanya bercanda.. investasi mereka adalah sapi. Sapi yang terus tumbuh dan berkembang biak, harga jualnya yang lumayan tinggi, itulah investasi jangka panjang dari sebagian besar masyarakat dusun ini.
Sapi milik penduduk
                                
      Bagaimana dengan fasilitas lainnya semisal sedang ada acara pelatihan dan lain sebagainya? Mungkin maksudnya hotel J Jangan berlebihan, ini hanya sebuah dusun kecil, potensi alam yang besar tetapi belum menjadi destinasi wisata karena berbagai alasan yang rasional. Ketika saya berada di Dusun Grenjeng, Desa Bandar Kecamatan Bandar Kabupaten Pacitan, saya sedang melaksanakan tugas negara dalam sebuah pelatihan yang berkaitan dengan masalah pendidikan di negara kita, Indonesia. (Harus saya perjelas, siap tahu ada yang lupa.. bahwa Indonesia adalah negara kita). Dalam tugas tersebut, saya harus berada disana selama sebelas hari dan menginap pada malam harinya, menginapnya di rumah warga, tentu saja tidak gratis.. negara yang membayarnya. Terima kasih Indonesia.

         Hanya sebuah rumah sederhana, dengan satu ruang untuk nonton televisi dan ruang tamu. Kamar mandi yang pintunya tidak bisa dikunci. Apakah nyaman? Alhamdulillah, ini sangat nyaman. Mungkin kalian adalah orang yang beruntung karena bisa merasakan menginap di hotel yang baik dan selalu dibersihkan, tapi dalam situasi yang serba relatif ini, saya dan rekan yang bertugas disini adalah orang-orang yang berbahagia karena ditugaskan kemari oleh negara. Karena dengan berada disini maka saya bisa menuliskan cerita ini, membiarkan organ paru saya bekerja dengan santai, menguatkan hati untuk selalu berterima kasih pada-Nya, memberi informasi tentang daerah yang belum kalian kunjungi, dan memamerkan Indonesia pada siapapun yang masih meragukan potensinya.

Rumah tempat menginap
       Setiap perjalanan adalah sebuah perjalanan hidup yang sangat berharga. Setiap cerita akan mengandung makna yang disesuaikan dengan sudut pandang kita terhadap cerita itu. Dari sekian banyak kata dalam kisah ini semoga ada hal bermanfaat untuk kalian yang membaca kisah ini. Aamiin. Untuk foto-foto, tidak banyak yang dapat saya publikasikan, tetapi beberapa bisa dilihat dalam akun media publikasi foto milik saya, ineu handayani Ayo berkunjung ke Pacitan! J




Saturday, May 10, 2014

Perjalanan ke Pacitan, Kota 1001 Gua

Masih tentang ‘jalan Tuhan’. Banyak cara Tuhan untuk memberikan kita jalan untuk mengalami, medapatkan, dan memberikan sesuatu. Kalau suatu hari tersesat, itu bukan sial namanya… tapi ‘jalan Tuhan’ supaya kita tahu ada tempat lain yang lebih baik atau lebih kurang baik daripada tempat yang biasa kita datangi atau tempat yang akan kita datangi.

Seperti halnya hari ini.. Sudah 13 hari saya berada di Kabupaten Pacitan. Salah satu Kabupaten yang ada di Propinsi Jawa Timur. Tentu saja Pacitan ini merupakan bagian dari Indonesia. Masih ada waktu 1 hari lagi untuk saya berada di Pacitan. Kenapa saya di Pacitan? Saya akan menjawab, sedang melaksanakan tugas negara J Semoga jawaban itu sudah cukup memenuhi rasa ingin tahu kalian yang tak sengaja membaca, atau dengan sengaja menunggu postingan ini..

Saya berangkat ke Pacitan dari Solo, perjalanan darat menggunakan angkutan umum yaitu bus Aneka Jaya dengan ongkos Rp 25.000,-. Agaknya armada ini memonopoli jalur Pacitan – Solo untuk jenis bus, karena selain menggunakan bus, bisa juga menggunakan travel atau mobil sewaan dan juga kendaraan pribadi tentunya. Perjalanan ditempuh selama sekitar 5 jam dengan melalui medan yang datar, datar namun jalannya berlubang  atau bergelombang, jalanan mendaki dan menurun di antara hotan produksi dan juga hutan alami, hingga menurun berkelok dengan pemandangan laut yang merupakan bagian dari Samudera Hindia.

Tentu saja saya terkagum-kagum dengan Pacitan dan paket lengkapnya yaitu kenampakan alam yang indah dan penuh dengan pembelajaran terutama untuk bidang pendidikan yang selama ini saya tekuni, geografi.

Untuk menuju Pacitan kita bisa berangkat dari Wonogiri atau Ponorogo. Karena saya berangkat dari Solo, Jawa Tengah, maka saya melalui jalur Wonogiri. Kabarnya jika melalui jalur Ponorogo, medannya lebih mendebarkan dan menantang.. mungkin suatu waktu saya berkesempatan untuk melaluinya, aamiin. Sebaiknya perjalanan dilakukan pada pagi hingga menjelang senja, karena pada malam hari tidak ada penerangan di sebagain besar jalurnya dan kita hanya mengandalkan lampu kendaraan saja, itu cukup berbahaya.

Meskipun Pacitan adalah kota yang kecil dan berada jauh dari kota-kota besar lainnya, tetapi Pacitan tumbuh dan berkembang dengan sederhana dan bersahaja. Kerahtamahan orang Jawa yang tersohor, kuliner unik, adat-istiadat yang unik dan lain sebagainya. Mungkin ada yang menentang pernyataan saya, wajar saya.. penilaian terhadap sesuatu sifatnya relatife dan mungkin beberapa hari saja belum cukup untuk memberikan penilaian mendalam terhadap sesuatu. Saya bisa menuliskan hal ini karena saya sudah mengalaminya J

Jangan takut akan menjadi cepat bosan atau ndak kerasan berada di Pacitan, banyak hal yang dapat dikunjungi. Pantai-pantai yang merupakan tujuan wisata surfing, sunbathing, olahraga air lainnya atau sekedar berjalan-jalan menikmati pagi dan senja, menikmati kuliner di Pasar Minulyo, duduk bercengkaram dengan teman dan keluarga di sekitar alun-alun, mengunjungi Gua Gong. Bahkan Pacitan mempunya julukan sebgai “Kota 1001 Gua”, aka nada postingan selanjutnya yang lebih spesifik yaa J


Ayo, Visit Pacitan J

Wednesday, April 2, 2014

Banyak-banyaklah Bersyukur...

Suatu hari… Ya entah kenapa pula saya bilang suatu hari, padahal bisa juga suatu ketika, atau sekalian saja pada zaman dahulu kala.. Ini kisah nyata.

Hari itu setelah waktu magrib atau isya’ di Kota Semarang, saya sedang dalam persiapan kembali ke Kota Surakarta.. Saya kembali setelah mengurus beberapa surat untuk keperluan penelitian. 

Saya menggunakan kendaran umum, karena akan terlalu melelahkan bila membawa kendaraan pribadi. Jadilah dalam perjalan pulang itu menggunakan bus yang tak ingin saya sebutkan namanya… Bukan apa-apa, tapi saya agak lupa nama busnya, tapi saya memutuskan tidak bertanya padanya, lebih baik ini dirahasiakan saja.. Yang pasti, ongkosnya adalah Rp 20.000,- lebih murah Rp 5.000 daripada waktu berangkat dengan bus lainnya.

Dalam perjalanan itu.. Saya memutuskan untuk “tidak-akan-hidup-seperti-para-perempuan-tangguh-itu”.
Keadaan bus masih lumayan belum penuh waktu kami berdua naik, tetapi hanya sepasang kursi yang keduanya kosong.  Jadilah kami berdua duduk disitu, tepat di depan pintu belakang bus dan saya sangat tepat berada di atas ban bus itu. Sebentar saja.. Bayangkan bagaimana rasanya jadi saya, bus yang agak pengap karna keringat yang bercampur aduk dengan asap kendaraan, belum lagi asap rokok yang dihisap oleh kondektur busnya. Tetesan air dari luar jendela sepertinya gembira sekali mempermainkan wajah saya.. Mual rasanya tapi saya fikir ini adalah pengalaman yang berharga.

Ternyata saya belum sepenuhnya benar. Pengalaman yang sangat berharga itu akhirnya saya alami setelah saya merasa agak terbiasa dengan situasi dan kondisi bus yang sedemikian rupa. Setelah beberapa menit meninggalkan Ibukota Propinsi Jawa Tengah itu, semakin banyak penumpang yang naik. Mereka adalah perempuan-perempuan paruh baya, beberapa diantaranya masih belia, dan mereka berbaju sama. Ah, tentu saja beberapa dari mereka menggunakan jaket, mala mini cukup dingin.

Awalnya saya tidak terlalu peduli, karena bagi saya hentakan kursi yang berasal dari ban yang berputar yang juga menghantam dan melalui jalan berlubang sudah cukup mengganggu. Dalam hitungan detik saja, saya mulai sadar.. Ternyata bus mulai penuh sesak, bahkan mereka harus berdiri dengan posisi tertentu agar penumpang lainnya masih bisa masuk.

Perhatian saya mulai fokus. Bukan pada keringat-keringat mereka. Bukan pula pada wajah-wajahnya.. Tapi pada pakaian yang mereka kenakan. Dalam beberapa detik, saya sudah dapat menyimpulkan siapa perempuan-perempuan itu. Mereka adalah perempuan-perempuan yang sangat tangguh.

Saya tidak pernah berfikir.. Bagaimana jika salah satu dari mereka adalah Mama atau keluarga saya yang lainnya. Karena mama telah tiada dan tidak pernah mengalami hidup yang begitu. Jadi saya fikir, mungkin sebaiknya saya membayangkan bila saya saja yang menjadi salah satu dari mereka.


Ya tentu saja saya sudah pernah berbagi cerita sebelumnya, mungkin kran air mata saya sudah cukup using.. Harus diganti.. Atau saya yang terlalu tidak bisa mengendalikan diri, mengendalikan air mata.. Ya mungkin saja salah satunya. Jadi, saya mulai merasakan air mata mengalir.. Dengan sungguh-sungguh saya berjanji, “tidak-akan-hidup-seperti-perempuan-tangguh-itu”, semoga Tuhan mengabulkan.. dan semoga Tuhan memberikan kehidupan yang penuh berkah untuk kita semua, aamiin.

Thursday, November 28, 2013

Suatu hari, di Cikurai...

Tunduk kala naik, tegak kala turun
Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan mengambil apapun kecuali gambar, jangan membunuh apapun kecuali waktu



Pada suatu hari, lebih tepatnya pada tanggal 23 November 2013, saya dan tiga orang saudara sesama Jantera.. Sebut saja Reza, Mahar, dan Hafid memutuskan untuk berakhir pekan di suatu tempat yang tidak ada mall, tidak ada kebab, apalagi penjual susu ultra. Gunung. Kami pergi ke gunung, tidak terlalu jauh dan tidak pula berada di negeri antah berantah, karena gunungnya terpetakan dalam peta zaman dahulu sekalipun.

Gunung Cikuray...
Berdasarkan studi literatur yang saya lakukan sebelum bahkan setelah pendakian, tinggi Gunung Cikuray adalah 2.818 mdpl. Ternyata, itu data di lapangan menyatakan hal yang berbeda. Tentu saja bukan saya sengaja ukur untuk membuktikan, hanya saja di puncaknya ada benteng tanda puncak dan di sana tertulis bahwa ketinggiannya adalah 2.821, wallahu a'lam bishawaab...

Gunung Cikuray berada di sebelah selatan Kota Garut. Tepatnya berada di perbatasan Kecamatan Bayongbong, Cikajang, dan Dayeh Manggung. Sebagai gunung tertinggi ke-4 di Jawa Barat setelah Ciremai (3078 mdpl), Pangrango (3019 mdpl), dan Gede (2985 mdpl), Gunung Cikuray termasuk gunung yang tidak aktif dan bentuknya menyerupai kerucut yang sangat besar.

Perjalanan dimulai...
Kami berangkat dari rumah tercinta, sekre Jantera, malam hari pukul 10 sudah cukup larut untuk pergi ke Garut. Dan memang tujuan kami tidak langsung kesana, kami akan bermalam di rumah Hafid, di Margahayu.. Itu menjadi pengalaman pertama saya ke Margahayu pakai motor dan menginap. So amazing! (bagi saya). Rencananya, kami akan berangkat setelah shalat subuh.. Tapi apa daya, bangun siang dan tak mungkin serta tak ingin menolak tawaran sarapan di rumah Hafid. Orang tua yang sangat baik, kami bahkan dieri bekal uang jajan. Terima kasih Bapak dan Ibu.

Akhirnya kami pun sampai di puncak. Ah tentu saja saya salah ketik. Kami sampai di kaki Cikuray sekitar pukul 9 pagi. Reza yang memnadu perjalanan karena dia sudah pernah kesini sebelumnya. Bila ada ungkapan manusia adalah tempatnya salah, khilaf, dosa.. True! Itu yang kami alami..

Pendakian tidak dilakukan melalui jalur yang banyak dan biasa digunakan pendaki lain dari seluruh pelosok negri ini, jalur pemancar. Tetapi kami menggunakan jalur olan. Pada hari itu.. Reza agak lupa nama dan jalurnya dan kami memutuskan untuk bertanya pada warga setempat. Ah, ternyata manusia memang bebas melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya masing-masing. Warga menunjukkan jalan yang bisa kami lalui untuk mencapai puncak. Hasilnya? Buntu.. Kalaupun maju, menuju lembahan. Sampai dzuhur kami berputar dan akhirnya memuturkan untuk turun kembali. Berhenti sejenak untuk melengkapi rukun islam. Air dengan kekuatan da itu membantu kami semangat lagi.. kembali turun, mencari jalan yang lebih benar.

Smepat lapar.. dan kami membali bakso juga batagor. Ya tentu saja kami makan. Perjalanan dilanjutkan dengan mengaplikasikan "malu bertanya sesat di jalan".. Maka kami banyak bertanya. Jreeeng! Kami sampai di jalur olan. Hari sudah menjelang ashar, rasanya saya sudah berjalan seharian. Saya sebagai seseorang yang paling cantik rasanya ingin mengeluh, tapi malu dan takut menyusahkan.

Sekitar pukul 3 sore, perjalanan yang sebenarnya di mulai.. Reza di depan memimpin.. saya, mahar, dan hafid mengkor di belakangnya. Shalat ashar di lereng menurun rasanya aneh, tetapi itu tetap dilakukan. Sepanjang perjalanan, saya mulai meracau dalam hati. Apakah benar tracknya terus menanjak? Apakah kekuatan magis disini sangat ada? Mungkinkan kami akan membutuhkan bantuan SAR? Apakah akan bertemu orang lain selama perjalanan? dan lain-lain, dan sebagainya, dan seterusnya....

Ingat Tuhan, supaya diingat Tuhan selalu...
Berhubung saya bukanlah orang yang terlalu hebat dan kuat seperti mereka bertiga, saya mengandalkan kekuatan doa dan fisik yang ala kadarnya saja. Sesekali berhenti, memakan snack dan bergantian minum persediaan air. Harus hemat, karena kita tidak akan menemukan mata air setelah memasuki kawasan yang rapat dengan vegetasi. Sebelumnya kami meminum air dari slang-slang air milik warga, airnya sangat dingin, segar, tapi mentah.

Pos 1 entah dimana.. Tiba-tiba saja ada tulisan pos 2. Mungkin kami kurang mengamati lingkungan sekitar, atau mungkin juga karena memang tidak ada tanda untuk pos 1. Hari semakin gelap, kami mulai menyalakan headlamp. Hari ini saya ingin menyampaikan bahwa headlamp yang saya gunakan masih sangat baru, merk energizer. Semakin malam, saya semakin ingin mengeluh. Langkah kaki semakin pendek dan semakin lamban. Tetapi mereka sungguh saudara saya yang baik hati dan tangguh.. Mereka tidak membiarkan saya merasa tertinggal langkah dan semangatnya. Terima kasih, saudaraku.

Pos 3, disitu ada tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Tetapi kami tidak berniat mendirikan tenda disitu. Tujuan kami adalah puncak. Sampai di pos 3, kami melihat dan mendengar tanda-tanda ada pendaki lain dari Jakarta. Tetapi mereka tidak naik kereta malam kok.. karena tidak akan ke Surabaya (naon sih). Katanya mereka berjumlah 22 orang, ada sedikit insiden yang membuat saya ingin segera berlari sampai puncak, takut sesuatu terjadi pada kami berempat, seperti halnya yang terjadi pada salah seorang dari mereka.. Ada kakak perempuan yang terus menangis karena sepertinya 'kelelahan'.

Track semakin menanjak, sedikit saja bonusnya. Banyak lampu, banyak senter, banyak tenda, dan banyak suara orang. Puncak? Menurutmu?
Selamat.. Ineu sudah sampai puncak!
Reza, diam-diam saya ingin menangis.. Ini terlalu berharga untuk menjadi cengeng. Terima kasih Reza, Mahar, dan Hafid.
Kami mencari spot terbaik yang masih ada untuk mendirikan tenda, merebus air, dan memasak mie untuk makan. Setelah shalat.. Berdasarkan laporan ketiga saudara saya itu, saya sangat cepat terlelap. 

Pagi hari tanggal 24 November 2013, kami bangun memulai hari dengan bersujud dua rakaat untuk-Nya. Rasanya sedang ada dimanaaa gitu.. Ramai orang, dari Jakarta, dari Jawa Barat, dan ada yang dari Jawa Timur/Tengah.. Karena mereka semua berbahasa jawa. Meskipun hari itu kami tidak berjumpa dengan sunrise, tetapi sama sekali tidak mengurangi keindahan puncak Cikuray. Kami bahkan harus mengantri untuk berfoto di tugu puncaknya. Sebelum pukul 10, kami memutuskan untuk turun.

Perjalanan turun tidak lebih mudah... Karena kaki sudah semakin letih dan turun menopang beban yang lebih berat daripada ketika naik.
Seperti yang sudah saya bilang di awal, tunduk kala naik dan regak kala turun... Itu benar-benar meresap dalam jiwa saya, seperti air yang terilnfiltrasi. Harus baik-baik melihat jalan, mawas diri ketika kita ingin menggapai target, Dan tentu saja kita harus kuat menegakkan kepala ketika segala hal dalam hidup sedang menurun menjauhi target. Itu artinya kita harus mulai menyusun rencana dan persiapan untuk target selanjutnya. Bahagia itu sederhana, naik dan turun gunung.



Friday, October 25, 2013

Saya, Fao, Merapi, dan Cinta :)

   Pendakian ke Merapi sebelum Idul Adha yang lalu, adalah perjalanan yang mengesankan bagi saya, meskipun tidak semua bagiannya menyenangkan. Tapi saya bersyukur bisa naik dan turun lagi dengan selamat. Alhamdulillah...
   Judulnya begitu? Iya.. :)

   Meskipun tidak seperti yang saya harapkan... Dalam fikiran saya, mendaki bersama fao berarti jalan beriringan, saling menarik ketika track sulit, berbagi coklat batangan murah yang saya beli , nyanyi-nyanyi sepanjang perjalanan, tidur dalam satu tenda yang sama, sampai di puncak juga sama-sama. Tapi? Fao bersama teman PPL dari sekolahnya. Hanya beberapa kali berjalan beriringan dengan Fao, tidak jadi tidur dalam tenda yang sama, ke puncak juga tidak berdua. 
   Saya fikir, betapa tidak ekslusifnya waktu itu. Meskipun begitu, saya tetap berbangga dan berbesar hati.. bisa sampai di pasar bubrah dengan Fao. Lain waktu, pasti.. Insya Allah bisa seperti yang saya bayangkan. Ya meskipun belum tentu Fao mau :D Tapi semoga Fao mau :)
  Selain itu, saya juga mau mengucapkan selamat ulang tahun untuk Fao baik.. Maaf selama ini sering merepotkan, semoga Fao selalu disayang Allah.. Cepat lulus kuliahnya, kerja dan terkabul segala doa baiknya, aamiin.
  Fao semakin cantik setelah pakai jilbab :)

Di New Selo

We Love Indonesia


Saya dan Fao ^_^
   Semoga ada rezeki umur, kesehatan, kesempatan dan bekalnya untuk perjalanan selanjutnya. Aamiin :)

Gunung Merapi

Menjelang idul adha yang lalu, saya pergi berpetualang ke merapiiiii...
kalian tentu sudah sering mendengar tentang Gunung Merapi kan? ya, mungkin saja ada yang belum tahu. Gunung Merapi belakang ini terkenal dan identik dengan keatifannya yang menimbulkan bencana dan tentunya disertai berkah, Tuhan Maha Adil :) lalu... Merapi juga identik dengan almarhum Mbah Marijan.
sekarang saya mau sedikit berbagi tentang pengalaman kami selama naik dan kembali turun Merapi.
yuk..cekidot

di Merapi, dengan pendaki dari Makassar
Kota Boyolali tidak terlalu besar, setelah lampu merah yang menuju SMA N 1 Boyolali, belok ke kiri menuju daerah Selo. Sepanjang perjalanan kami berjumpa dengan bebrapa pendaki yang menuju Merapi dan ada juga yang hendak ke Merbabu, karena Merapi dan Merbabu berdiri dengan gagah saling berhadapan. Semakin dekat dengan basecamp, maka akan semakin banyak kita berjumpa dengan para pendaki lainnya. Parkirkan kendaraan di basecamp. Registrasi, bayar Rp 1.500,- saja, dan data kita sudah ada disana, lebih dari sekedar bergjaga-jaga jika terjadi apa-apa *naudzubillah* tapiii.. karena kita harus tertib dan disiplin, jangan seenaknya saya melanggar peraturan yang telah ada.
Salam Lestari .

Gunung Merapi? Dimana?
letak geografisnya 7°32,5'LS dan 110°26,5' BT. Seacara administratif, lereng sisi selatan berada dalam kawasan Kabupaten Sleman, DIY, dan sisanya berada dalam wilayah Propinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Gunung Merapi masih aktif, jadi sewaktu-waktu bisa meletus. Meskipun demikian, Merapi menjadi salah satu tujuan wisata dan juga termasuk tujuan utama para pendaki gunung.


Disana ngapain aja?
Disana kita bisa membuka mata dan hati lebar-lebar, mensyukuri ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Napak tilas dari kejadian letusan tahun-tahun sebelumnya, dengan begitu artinya kita bisa mempelajari fenomena geografi langsung di laboratorium alaminya, memuaskan keinginan berpetualang, camping bersama teman-teman. Tapi bagi saya, yang paling penting bisa meningkatkan keimanan kita.

Bagaiman caranya kesana?
Saya memulai perjalanan dari Kota Surakarta/Solo, mengendarai motor plat BH yang usianya sudah cukup tua, tapi motor itu masih sehat.. hanya saja agak memasakan jika menggunakan honda grand begitu sedangkan jalannya naik-naik ke puncak gunung, tapi apa boleh buat, hemat :)
Jalan sedikit ke atas, sampailah kita di New Selo, dari sinilah pendakian di mulai.

Bawa apa aja?
Bawa diri dan keimananmu anak muda hehehe.. ya meskipun saya bukan orang yang bersih, tapi saya sangat percaya pada kekuatan doa dan Kuasa Ilahi.
Bawalah perbekalan mendaki gunung. Terutama bila pendakian dilakukan pada malam hari, bawalah sleepingbag, tenda, matras, flysheet, tramontina, dan yang paling penting senter. Kecuali jika matanya menyala seperti meong hehehe.
Selain itu, gunakanlah sepatu. Selain untuk mempermudah ketika berjalan, tentunya sepatu juga melindungi kaki dari bebatuan dan pasir yang sangat banyak sepanjang track menuju puncak. Gunakan masker atau syal untuk menutup hidung, karena banyak debu yang beterbangan dan kurang baik untuk pernafasan kita.
Untuk logistik.. jangan lupa membawa persediaan air ang cukup, cemilan selama perjalanan seperti coklat, roti dan agar-agar. Daripada membawa minuman berenergi, lebih baik membawa dan mengkonsumsi madu, atau bisa juga gula merah. Bawa peralatan memasak jika berniat membuat masakan disana.

Tidurnya dimana?
Di dalam tenda dan jangan lupa masuklah ke dalam sleepingbag :) atau berbaringlah di luar bersama teman-teman sambil menatap bintang ketika cuaca cerah, tapi tentu saja itu lebih dingin dan tidak dianjurkan.
Ada beberapa tempat yang bisa dan biasa dijadikan lokasi untuk mendirikan tenda atau ngecamp. Setelah pos dua dan di pasar bubrah, tempatnya cukup luas dan datar, meskipun banyak bebatuan yang terkadang mengganjal ketika kita menancapkan pasak.

Duitnya?
Dengan edisi boros, saya menghabiskan uang sekitar Rp 150.000,- dan itu sudah termasuk logistik, BBM, parkir, dan biaya registrasi. Bahkan di New Selo saya juga membeli makanan berat dan juga ringan ketika hendak naik dan ketika turun juga.

Takut?
Tenang saja, ada Tuhan yang menjagamu :) Tugas kita adalah berjalan dengan hati-hati, tidak ceroboh, mawas diri, kuat metal dan fisik, dan yang pasti ingat Tuhan selalu supaya selalu diingat Tuhan.

Selamat mendaki kawan, jangan lupa bawa turun kembali sampahmu... jangan memindahkan atau membawa apapun yang tak seharusnya dibawa.

Thursday, October 3, 2013

Wisata Gunung di Indonesia

Salam lestari!
  Hari ini saya sedang menjalankan tugas sebagai guru piket dalam program latihan profesi (PLP) di salah satu sekolah swasta di Kota Bandung. Berhubung waktu piket ini sangat senggang hingga memojokkan saya untuk rentan terhadap kejenuhan, jadi saya memutuskan untuk meminjam salah satu majalah yang ada di perpustakaan sekolah. Setelah membaca dan berusaha memahaminya, maka saya akan berusaha membagikan ilmu pengetahuan dan informasinya dalam postingan ini.

  Indonesia berada dalam kawasan Ring of Fire, dan para fire itu adalah gunung-gunung aktif yang tersebar hamper di seluruh Indonesia dengan jalurnya masing-masing. Tapi, meskipun itu berpotensi bencana cukup tinggi.. Ternyata kita bisa menimatinya dari sisi dan sudut pandang lainnya.

  Bagi sebagian besar orang yang tinggal di hiruk pikuk perkotaan, pastinya sangat menjemukan harus terlalu sering menghirup udara kotor karena polusi dari asap kendaraan, pabrik, dan lain sebagainya. Salah satu solusinya adalah dengan melakukan perjalanan, liburan, hobi, atau sekedar mampir ke gunung. Di gunung tentunya masih minim polusi, belum lagi pemandangan alam nan elok tidak seperti perkotaan yang crowded. Apalagi Indonesia mempunyai banyak gunung yang dimanfaatkan sebagai taman nasional dan objek wisata sehingga kita bisa mendapat banyak manfaat dengan mengunjunginya.

  Berikut ini gunung-gunung yang sudah terkenal menjadi tujuan wisata di Indonesia:
1.      Pegunungan Karst Bantimurung, Sulawesi Selatan
Tempat ini pertama kali ditemukan oleh orang-orang Belanda. Mereka menjulukinya sebagai “Kingdom of Butterfly”, karena disana terdapat spesies kupu-kupu yang sangat beragam. Kupu-kupu merupakan salah satu daya tarik utama di Bantimurung selain keindahan dari air terjunnya. Untuk menuju ke tempat ini , kita harus menempuh perjalanan darat selama sekitar 3,5  jam dari Makassar, ibukota Sulawesi Selatan.
Range budget: 1,5 – 3 juta

Pegunungan Karst Bantimurung


2.      Gunung Kelimutu, NTT
Tentunya kita sudah sering mendengar tentang keindahan danau tiga warna, Danau Kelimutu. Danau ini adalah satu-satunya danau di dunia yang airnya dapat berubah warna setiap saat. Dari merah menjadi hijau tua, hijau tua menjadi hijau muda, dan dari coklat kehitaman menjadi biru langit. Danau ini berada di Gunung Kelimutu, jadi dengan satu kali perjalanan kita sudah menikmati dua fenomena alam sekaligus.
Range budget: 7 – 9 juta
3.      Gunung Anak Krakatau
Gunung yang berada di Selat Sunda ini sudah menjadi legenda dan terkenal di seluruh dunia karena letusannya yang sangat dahsyat pada tahun 1883. Akibat dari letusan itu, getarannya terasa hingga ke Benua Afrika. Selain erjalanan ke puncak Anak Krakatau, kita juga bisa melakukan diving di perairan sekitarnya. Terlebih disana masih banyak ikan-ikan jenis langka yang hanya bisa dilihat di daerah tersebut.
Range budget: 2,5 – 3 juta
 
Gunung Anak Krakatau
4.      Cartensz Pyramid, Papua
Merupakan mimpi saya bisa mencapai puncaknya yang ditutupi salju.  Puncak Cartensz Pyramid atau dikenal juga dengan Puncak Jaya merupakan puncak tertinggi di Indonesia, yaitu 4.900 mdpl. Karena etak dan aksesnya yang sangat jauh maka dibutuhkan biaya yang lebih besar untuk menikmati pemandangan alam disana. Belum lagi pengurusan izin pendakian yang terkenal panjang dan sulit. Meskipun demikian, puncaknya selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki yang bahkan berasal dari mancanegara.
Range budget: 8 – 16 juta
5.      Kawah Ijen, Jawa Timur
Di Gunung Ijen, kita bisa melihat aktivitas penambangan belerang di kawahnya. Karena sangat bau hingga menusuk indra penciuman serta bisa membahayakan kesehatan kita, sebaiknya kita menggunakan masker saat berkunjung kesana. Di Indonesia, Kawah Ijen merupakan salah satu kompleks gunung aktif yang terindah.
Range budget: 1 -2 juta
6.      Gunung Rinjani, NTB
Taman Nasional Gunung Rinjani sangat kental dengan mitos dan pantangan-pantangan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Ngeri? Sama sekali tidak, karena disana sangat banyak fenomena alam yang dapat kita nikmati seperti panorama alam yang indah, pemandian air panas, dan gua-gua alam yang sangat indah.
Range budget: 2 – 7 juta
7.      Gunung Bromo, Jawa Timur
Saya sudah pernah mengunjungi tempat ini dan saya pastikan tidak akan menyesal datang ke Gunung Bromo. Pegunungan Bromo – Tengger – Semeru terkenal sebagai objek wisata di Jawa Timur. Untuk mencapai puncaknya, kita harus melalui hamparan pasir sisa letusannya beberapa tahun yang lalu.. Ah, rasanya seperti dalam film Ayat-ayat Cinta. Selanjutnya kita akan melihat sebuah pura yang sangat megah tempat ibadah masyarakat disana, dan untuk melihat kawahnya kita harus menaiki anak tangga yang jumlahnya sekitar 1000 anak tangga. Tapi tenang saja, untuk mengurangi rasa lelah tanpa mengurangi nilai keindahannya kita bisa menggunakan kuda atau mobil jeep yang disewakan untuk berjalan-jalan.
Range budget: 1,5 – 2 juta

Saya, di Bromo


sumber :
Majalah S'Cool edisi #4 27 Mei - 26 Juni

Saturday, June 22, 2013

Foto-foto di Sindoro

Hei.. ini perjalanan dalam rangka pacaran. Jadi, selain menajamkan mata untuk melihat kondisi geografis Gunung Sindoro sesuai dengan bidang keilmuan yang selama ini ditekuni dan juga membawa misi kejanteraan, perjalanan ini disponsori oleh misi menaklukkan diri dari sifat-sifat buruk, seling melunakkan hati dan memperbanyak syukur kepada Tuhan atas karuni dan anugerah-Nya yang sungguh sangat luar biasa.
dan.. inilah hasilnyaaaa...
Mie dan gunung adalah jodoh

saya.. AM Jantera

Kawah Gunung Sindoro

teringat gaya ketika usia 4 tahun

yeiiiy... yang di belakang saya itu Gunung Sumbing

Gunung Sumbing

Edelweis si bunga abadi

Begini caranya kami membayar rasa letih

saya dan carrier hadiah ulang tahun

Catatan Perjalanan: Gunung Sindoro

  Gunung Sindoro, atau biasa juga dikenal dengan nama Sindara atau Sundoro merupakan gunung vulkano aktif dengan ketinggian 3.153 mdpl. Gunung yang berada di Jawa Tengah itu dapat dijangkau dari kota terdekat yaitu Temanggung dengan kendaraan umum yang selalu melintasi dari pagi hingga petang. Gunung Sindoro terletak berdampingan dengan Gunung Sumbing, gunung yang disebut-sebut sebagai saudara kembarnya.
  Hutan di kawasan Gunung Sindoro mempunyai tipe hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous atau hutan gunung. Untuk penjelasan hutan-hutan yang ada di Gunung Sindoro adalah sebagai berikut:

  •  Dipterokarp Bukit adalah wilayah hutan yang terletak pada ketinggian 300 - 750 mdpl. Spesies yang ada di hutan ini terutama adalah pohon Meranti, Seraya, dan Keruing.
  • Hutan Dipterokarp Atas adalah wilayah hutan yang terletak pada ketinggian 750 - 1200 mdpl, spesies yang ada di hutan ini umumnya adalah pohon Damar Minyak dan Meranti Bukit.
  • Hutan Montane adalah hutan yang berada pada ketinggian 1200 - 1500 mdpl, spesies yang ada di hutan ini umumnya adalah pohon Damar minyak, Berangan, Mempening, dan Podo. Montane adalah istilah untuk kawasan tanah tinggiyang sering terjadi hutan lebatdan umumnya bersuhu lebih rendah dibandingkan kawasan tanah rendah yang lokasinya berdekatan.
  • Hutan Ericaceous atau disebut juga hutan gunung, adalah hutan yang berada pada ketinggian 1500 mdpl. Spesies yang ada di hutan ini terutama adalah pohon Periuk kera, Kelat, bermacam-macam jenis belukar, pohon Paku-Pakis, Resam dan Lumut. Tanaman-tanaman ini umumnya berukuran kecil, pendek, dan bengkok

  Gunung Sindoro merupakan salah satu gunung yang menjadi favorit para pendaki dan organisasi pecinta alam pada umumnya. Terutama bagi yang mencari tripel S (Slamet, Sindoro, Sumbing). Bentuknya yang keruvut menandakan Sindoro merupakan gunung yang bertipe strato jika dilihat dari bentuknya. Untuk mencapai gunung ini tidak terlalu sulit karena berada di jalur utama Wonosobo - Magelang. Umumnya jalur yang ramai untuk pendakian adalah jalur Kledung, Temanggung. Selain itu ada juga jalur lainnya seperti jalur Sigedang.
  Pendakian Gunung Sindoro sebaiknya dilakukan pada malam hari karena untuk menghindari panas dan debu, serta untuk menghemat air minum. Sepanjang perjalanan dari pos 1 sampai puncak tidak akan ditemukan sumber mata air yang bisa kita manfaatkan untuk mengisi ulang cadangan air ataupun kebutuhan cuci lainnya.
  Perjalanan di awali dari basecamp melewati perkampungan penduduk. Selanjutnya melalui jalanan berbatu sekitar 2 km melintasi kebun penduduk yang di dominasi tanaman tembakau. Track awal terbilang landai dan mulai menanjak ketika memasuki kawasan hutan pinus pada pos 1.
  Untuk menuju pos 2 kita akan melalui jalan yang sedikit menurun karena menuju lembahan. Pos 2 berada pada ketinggian 2120 mdpl dan didominasi pohon lamtoro dan pinus yang cukup lebat. Menuju pos 3, medan mulai terjal dan berbatu. Pos 3 merupakan pos yang biasa dijadikan tempat untuk beristirahat dan mendirikan tenda sebelum melanjutkan pendakian yang semakin terjal lagi. Dari pos 3, kita bisa melihat Gunung Sumbing dan pemandangan kota.
  Dari pos menuju pos 4, kita akan melihat beberapa kali puncak bayangan. Sungguh perndakian dan perjalanan yang melelahkan, terutama bagi pemula. Di pos 4, pendaki disarankan tidak mendirikan tenda dan      bermalam, karena angin yang cukup kencang.
  Jalur akhir menuju puncak ini medannya sangat berat, selain terjal dan terbuka, disarankan tidak meninggalkan carrier dan barang lainnya karena Sindoro merupakan gunung yang masih rawan adanya kehilangan-kehilangan. Menjelang puncak, banyak edelweis yang tumbuh dan melambai-lambai kepada kita untuk menyentuhnya dan menjaganya selalu.
  Berikut beberapa foto yang saya ambil selama di Gunung Sindoro:
Puncak Gunung Sumbing dari Pos 3

Kawah Gunung Sindoro


Edelweis di Sindoro


  Semoga lain waktu bisa berkunjung lagi ke Sindoro. Bertekuk lutut di hadapan ciptaan Tuhan dengan penuh syukur. aamiin.

Monday, June 17, 2013

Gili Trawangan

  Praktik Kuliah Lapangan (PKL) mahasiswa jurusan Pendidikan Geografi 2010 tahap 3 yang telah dilaksanakan pada 20 - 29 Mei 2013 telah dilaksanakan sesuai jadwal yang ditentukan. Salah satu tujuan dalam PKL tersebut adalah Gili Trawangan.
  Gili Trawangan adalah pulau terbesar dari ketiga pulau kecil atau "gili" yang ada di Barat Laut Lombok. Fasilitas wisata yang ada di Gili Trawangan juga lebih lengkap dari gili lainnya. Berdasarkan informasi yang di dapat dari wikipedia, jumlah penduduk di Gili Trawangan sekitar 800 jiwa, sebagian besar penduduk tersebut bermukim di bagian timur pulau.
  Sungguh pulau dengan potensi dan anugerah yang luar biasa. Keindahan alam yang didukung dengan kebijaksanaan dalam pengelolaan. Tidak akan kita jumpai kendaraan bermotor berlalu-lalang di pulau, karena kendaraan yang diperbolehkan adalah sepeda dan kereta kuda atau andong. Banyak wisatawan dari luar negeri yang membaur dengan masyarakat setempat dan juga wisatawan domestik. 
  Satu hal yang membanggakan bagi saya, orang Indonesia asli yang Tuhan takdirkan terlahir dan hidup sebagai muslim dan beragama Islam, adalah sebuah masjid yang berdiri kokh bahkan saat itu sedang dalam proses renovasi. Mesjid yang besar dan tidak sepi, kumandang adzan terdengar dengan jelas, mereka saling menghormati satu sama lainnya.
  Karna keterbatasan waktu, tidak semua mahasiswa dapat berkeliling pulau yang berdasarkan informasi hanya membutuhkan waktu 2 jam saja dengan bersepeda. Bahkan banyak mahasiswa yang tidak berjalan-jalan di sekitar pulau karena sibuk berburu foto dan memfoto teman lainnya yang sedang snorkling.
  Saya dan seorang teman memutuskan tidak ingin berbasah-basahan dan tidak pula berkeliling dengan sepeda atau andong. Kami berjalan kaki dan akhirnya sampai ke bagian utara pulau. Sungguh kontras dengan situasi dan kondisi keramaian yang ada di bagian barat dan timur pulau. Bagian utara Gili Trawangan sangat sepi dan jarang ada rumah penduduk. Selain itu, banyak lahan kosong yang terbengkalai dan banyak sampah yang berserakan di sepanjang jalan.

Berikut ini beberapa momen yang sempat saya abadikan di Gili Trawangan:
Pantai utara Gili Trawangan

Mercusuar

^_^

Semoga Lain waktu saya bisa berkunjung lagi ke Gili Trawangan dan juga gili lainnya. Ayo, Visit Lombok, Gili Trawangan dan juga gili lainnya.

Thursday, February 28, 2013

Rencana Akhir Maret



Bukannya songong pengen jadi anak gunung dan semacamnya yaa.. tapi aku hanya manusia, sama seperti orang normal kebanyakan, punya target, cita-cita atau sekedar angan-angan saja.
Setelah akhir tahun lalu, aku dan teman-teman berhasil sampai di puncak Hargo Dumilah - Gunung Lawu (belum diposting), sekarang kami mulai memikirkan akan kemanakah kami selanjutnya?
Akhir bulan maret yang akan datang ada libur (29/3/2013), mungkin kami akan gunakan kesempatan itu sebaik mungkin untuk menjejakkan semangat dan rasa syukur di Kenteng Songo - Gunung Merbabu. Insya Allah.

Sementara  dari hasil studi literatur (biar agak akademisi), kami mendapatkan beberapa foto gunung merbabu dan peta rute pendakiannya...

Rute Beberapa Jalur Pendakian Merbabu

Gunung Merbabu, 3142 m dpl

Jembatan Setan


di Kenteng Songo

Semoga bisa terlaksa dengan lancar dan diberkahi Allah, aamiin ^_^


 

Notes Of Gea Template by Ipietoon Cute Blog Design