Showing posts with label Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Perjalanan. Show all posts

Tuesday, December 8, 2015

Ibu, Kasih, dan Kasih Sayang Ibu


“Ibu, Kasih sayang , ibu!”
“Iya, nak. Ibu pun sayang Kasih”
…………….
Eh. Apa barusan itu yang dia maksudkan? Dia bilang sayangi akukah? Atau dia hanya merasa kata kasih ditambah sayang akan menjadi kata dengan keindahan luar biasa? dan Kasih adalah namanya.

Kasih, ketika aku menuliskan ini, mungkin ia sedang terlelap atau juga dia sudah terbangun dan sibuk beribadah dan melakukan pekerjaan anak-anak seusianya di kampung ini, membantu orang tua atau antri mandi di kamar mandi menasah dekat rumahnya. Menasah mungkin sebentar lagi mulai agak ramai oleh jamaah yang masih ingat pada seruan Tuhan untuk melaksanakan kewajibannya, semua orang di sini mengaku beragama Islam. Sekarang pukul 04.14 WIB.

Tempat ini ribuan kilometer jauhnya dari tanah Papua. Entah mengapa pula Kasihku itu bisa berhitam kulit dan berkeriting rambut seperti layaknya saudara kita nun jauh di ujung Timur sana. Adakah generasi di atasnya yang mewariskan? Ternyata tidak juga. Kasih bilang, “Aku sering main panas, bu”, tanpa menjawab mengapa rambutnya keriting.

Masih kelas satu SMP dan dia sudah begitu hebat, menurutku. Bukan karena sekolah adalah sama-sama rumah kedua bagi kami, bukan pula karena sekarang aku adalah ibu kedua untuknya. Tetapi lebih karena garis takdir.. dari sekian banyak anak, toh Kasih yang aku ceritakan.

Sekolah kami tidak baik diberi label tertinggal. Fasilitas cukup lengkap, meskipun anak-anak belum bisa belajar komputer karena tidak ada. Perpustakaan dengan buku berserakan dan debu hampir di setiap bukunya, mereka masih malas membaca. Memang di sekolah ini.. di kampung ini… sebaiknya aku sampaikan bahwa di Kecamatan dengan sembilan desa yang empat di antaranya tersebar jauh, sangat jauh ini belum mengenal “jaringan”. Beberapa orang mendambakan jaringan untuk kemudahan hidup dan berkomunikasi dengan dunia luar. Tetapi ada pula yang menentangnya dengan alasan… berbagai alasan yang intinya dianggap akan merugikan mereka di kemudian hari.

Nah, tidak ada sinyal operator seluler berarti susahkah? Sama sekali tidak, karena dalam keterbatasan maka akan muncul ide-ide dan cara adaptasi yang hebat. Nayatanya undangan pernikahan tetap akan kita teriama dari ujung kampung sana meski kita di ujung lainnya lagi. Belum lagi kabar duka. Tambah lagi kabar duka yang menjadi suka bagi rang lain, wah, itu sudah barang tentu akan menjadi kabar yang segera menyebar, gosip.

Tempat tinggal Kasih lebih jauh lagi dari “jaringan”. Bukan hanya sinyal, tetapi jalan dan juga listrik. Namanya Lesten. Katanya sekarang sedang gencar dilakukan pembangunan, terutama pembuatan jalan. Sebelumnya di sana telah pula ada listrik dari tenaga surya, sayangnya belum dimanfaatkan secara bijak dan telah dimanfaatkan dengan sangat maksimal. Maka hasilnya adalah beberapa panel penangkap panas sudah rusak.

Untuk menuju Pining, kampung kami sekarang ini. Konon, Kasih dan warga Lesten lainnya harus berjalan kaki, kecuali mereka memiliki kendaraan roda dua yang sudah berlapis rantai pada kedua rodanya dan ada jonder maka mereka tidak perlu sering-sering jalan kaki. Jonder jangan diabayangkan sebagai kendaraan mewah atau bahkan kendaraan lapis baja seperti hendak perang. Bayangkanlah jonder  sebagai alat berat dengan empat roda yang sangat besar dan tinggi, seperti di lahan pertanian atau perkebunan di negeri Barat sana. Lalu untuk kembali menuju Lesten akan menghabiskan lebih banyak waktu lagi, karena jalannya menanjak. Sembilan jam, jangan dibayangkan.

Tapi tawa Kasih selalu seperti tanpa beban. Mungkin memang karena usianya yang memang masih pada perkembangan anak-anak, tetapi tidak ingin aku disalahkan bila aku menebak dan menilai itu karena kedewasaannya. Kasih sudah punya cerita yang mungkin belum pernah kita alami, aku pun belum pernah. Dia memang tidak cemerlang dalam pelajarannya. Tidak pula pendiam. Bahkan bila aku benar-benar tidak pernah bertanya dan menutup mata, maka Kasih adalah anak nakal.

“Kasih di sini tinggal tempat siapa?”
“Pak Gecik, bu. Yang di depan pohon besar itu, bu. Pernah ibu kan lihat Kasih di situ, bu?”
Oyale, ibu panggil Kasih waktu itu. Siapa yang di Lesten?”
“Mamakku, bu. Dengan nenek”
“Bapakmu di sini?”
“Sudah enggak  adalah lagi bapakku, bu”
…..
Kemanakah bapakmu, nak? Tidak perlu aku bertanya dia sudah pula akan menjawab. Sebenarnya ingin aku cegah, takut melukai hatinya karena terkenang pada masa yang telah lalu. Tetapi aku juga merasa perlu tahu, bukankah aku sekarang adalah ibunya.. begitu kubesarkan hatiku.

Lelaki itu sudah pergi sejak Kasih masih dalam kandungan. Katanya ia pergi mencari burung di hutan. Nyatanya ia tak pernah kembali hingga suatu hari setelah Kasih lahir dan faham benar siapa mamak dan siapa bapak bagi seorang anak, tersiar kabar bahwa ada yang sempat melihat sang bapak di kota lain, masih di negeri ini, Kota Cane. Namun Kasih dan mamaknya tidak ambil pusing, mereka bahkan menganggap lelaki itu telah berpulang kepada-Nya. Sempat pula aku bertanya apakah mamaknya menikah lagi? Dengan senyuman bangga seolah dia telah menjaga kehormatan sang mamak, “Aku enggak bolehkan mamakku nikah lagi, bu”. Lalu aku simpulkan, bukan hanya anakku ini saja yang hebat, tetapi mamaknya juga kuat.

Kasih tentu mengingatkanku dan kita pada lagi tentang ibu, Kasih Ibu. Mengingatkan pada terimakasih. Mengingatkan pada Yang Maha Pengasih. Dan kelak Kasih akan selalu mengingatkan aku pada kampung ini, sekolah ini, dan semua yang akan berlalu pada masanya nanti. Aku tidak banyak berharap pada perkembangan belajar Kasih, dia cukup aktif meskipun beberapa pertanyaan yang ia lontarkan di kelas acapkali bukan pertanyaan yang pada tempatnya, tetapi kan tetap saja dia sudah berani unjuk gigi. Meskipun demikian sudah semestinya aku menaruh harap, aku ini ibunya.. aku berharap, kelak ia lulus hingga SMA dan mengabariku hendak berjuang di Kota lain untuk kuliah atau bekerja yang bukan sekedar menunggu durian atau manggis atau bahkan yang sangat aku takutkan.. menanam ganja. Allah melindungimu, nak. Melindungi kita semua. Aamiin.

Tuesday, June 10, 2014

Negeri di Atas Awan. Rumor has it!

    Negeri di atas awan? Benarkah? Negeri apa pula itu? Masih di Indonesia? Jangan-jangan hanya khayalan saja.. Memang kebanyakan dari kita, termasuk pula saya, sering berlebihan dalam menanggapi suatu fenomena, bahkan untuk hal yang belum kita ketahui secara gamblang sekalipun. Tetapi tidak apa-apa, adalah hal yang teramat sangat wajar bila manusia biasa seperti kita takjub, terperangah, atau mungkin lebih baik bila disebut lebay dengan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan, rasakan, lihat, dengan, dan kita ciptakan. Hanya Tuhan yang bisa menciptakannya, dan sudah sepantasnya kita takjub penuh syukur pada-Nya.

    Kembali pada negeri di atas awan.. Negeri ini tentu saja ada di Indonesia. Karena saya yang menceritakan kisah ini dan saya belum pernah pergi meninggalkan negara kita ini walau hanya sekali, mungkin kelak saya akan pergi bila Tuhan menghendaki. (jangan lupa.. saya selalu percaya segalanya ada karena “jalan Tuhan”). Apakah saya sudah cukup bertele-tele? Mari melanjutkan tentang negeri di atas awan. Tepatnya adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Pacitan, Propinsi Jawa Timur. Kecamatan Bandar.


sebagian bentang alam

pola persebaran pemukiman berkelompok

     Sebagian besar wilayah Kecamatan Bandar.. ah mungkin sebaiknya saya bilang seluruh wilayahnya merupakan daerah yang berbukit-bukit dan berlembah dengan kemiringan yang mencapai 100%, jurang di kiri atau kanan jalan dan tebing batu di bagian lainnya. Jalannya? Berkelok-kelok macam ular naga.. (sudah pernah lihat ular naga? Nah itu juga bagian dari hal berlebihan dari masyarakat Indonesia, ular naga). Karena berada pada ketinggian mdpl, maka sudah pasti suhunya lebih rendah daripada daerah lainnya di Pacitan yang sebagian besar wilayahnya berada di garis pantai selatan Jawa yang sekaligus langsung menghampar di depannya Samudera Hindia.

      Karena tempatnya yang jauh dari ibukota kabupaten (lebih dekat ke Kabupaten Ponorogo), berada di ketinggian, hawanya dingin, jalannya berliku. Maka munculnya sebutan “negeri di atas awan”. Apakah memang benar-benar di atas awan? Seperti waktu kita sedang naik gunung? Silahkan kunjungi sendiri yaa.. J Tapi akan saya beri tahu, tidak sepenuhnya benar. Jarak tempuh dari kota memang sangat jauh, sekitar 2,5 jam perjalanan santai.. jangan lupa, itu jarak relatif. Jalanan berliku, sudah berkali-kali terjadi kecelakaan kendaraan yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia. Suhunya memang termasuk sangat dingin, terlebih pada malam hari. Hawanya sejuk, iklim sosial pedesaan yang khas seperti yang sering digambarkan dalam buku-buku pelajaran di sekolah. Cukup jauh dari fasilitas umum yang bisa menunjukkan kemewahan, status sosial dan lain sebagainya.
Jalan lokal

SDN Bandar 1
        Wah berarti pelosok banget ya? Itu juga relatif J Bandar, khususnya Dusun Grenjeng, memang hanya sebuah dusun kecil dengan kepadatan penduduk yang jarang, mayoritas penduduknya bertani dan beternak. Bukan bertani tanam sayur seperti yang di kaki gunung.. bahkan pagi saja tidak di sawah, padinya padi gogo, itu dikarenakan kondisi geografis Pacitan yang bentukan lahannya adalah karst atau secara awam dikenal dengan kapur. Meskipun demikian, fasilitas yang ada disini sudah termasuk cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Ada sebuah Bank konvensional negara yang membantu perputaran uang masyarakat, sarana dan prasarana pendidikan hingga jenjang sekolah menengah atas. Sebuah pasar tradisioal yang digelar dalam lima hari sekali, yaitu setiap hari Pon, itu adalah salah satu hari dalam hitungan jawa. Masyarakat percaya itu akan membawa berkah dan hal baik. Sarana ibdah yang memadai, bahkan sedang dibangun sebuah rumah ibadah yang megah untuk ibadah masyarakat setempat.

        Jadi maksudnya penduduknya disana makmur? Kaya raya? Kalau untuk masalah itu.. saya sangat tidak berani menjawabnya. Karena kemakmuran dan kekayaan itu harus dikembalikan pada diri masing-masing. Tolak ukur makmur dan kaya tentu saja berbeda antara seseorang dengan orang lainnya. Hanya saja, saya bisa katakan, tempat ini lebih baik secara visual daripada tempat tinggal saya yang masih sangat jauh dari pembangunan (ndak perlu membayangkan tempat tinggal saya, fokus saja pada kisah dalam postingan ini). Masyarakat juga mengenal arti nvestasi dengan baik. Mereka juga berinfestasi untuk jangka panjang yang dianggap akan menguntungkan dan akan membantu hidupnya di masa mendatang. Jadi mereka berinvestasi dalam bisnis property. Hei, saya hanya bercanda.. investasi mereka adalah sapi. Sapi yang terus tumbuh dan berkembang biak, harga jualnya yang lumayan tinggi, itulah investasi jangka panjang dari sebagian besar masyarakat dusun ini.
Sapi milik penduduk
                                
      Bagaimana dengan fasilitas lainnya semisal sedang ada acara pelatihan dan lain sebagainya? Mungkin maksudnya hotel J Jangan berlebihan, ini hanya sebuah dusun kecil, potensi alam yang besar tetapi belum menjadi destinasi wisata karena berbagai alasan yang rasional. Ketika saya berada di Dusun Grenjeng, Desa Bandar Kecamatan Bandar Kabupaten Pacitan, saya sedang melaksanakan tugas negara dalam sebuah pelatihan yang berkaitan dengan masalah pendidikan di negara kita, Indonesia. (Harus saya perjelas, siap tahu ada yang lupa.. bahwa Indonesia adalah negara kita). Dalam tugas tersebut, saya harus berada disana selama sebelas hari dan menginap pada malam harinya, menginapnya di rumah warga, tentu saja tidak gratis.. negara yang membayarnya. Terima kasih Indonesia.

         Hanya sebuah rumah sederhana, dengan satu ruang untuk nonton televisi dan ruang tamu. Kamar mandi yang pintunya tidak bisa dikunci. Apakah nyaman? Alhamdulillah, ini sangat nyaman. Mungkin kalian adalah orang yang beruntung karena bisa merasakan menginap di hotel yang baik dan selalu dibersihkan, tapi dalam situasi yang serba relatif ini, saya dan rekan yang bertugas disini adalah orang-orang yang berbahagia karena ditugaskan kemari oleh negara. Karena dengan berada disini maka saya bisa menuliskan cerita ini, membiarkan organ paru saya bekerja dengan santai, menguatkan hati untuk selalu berterima kasih pada-Nya, memberi informasi tentang daerah yang belum kalian kunjungi, dan memamerkan Indonesia pada siapapun yang masih meragukan potensinya.

Rumah tempat menginap
       Setiap perjalanan adalah sebuah perjalanan hidup yang sangat berharga. Setiap cerita akan mengandung makna yang disesuaikan dengan sudut pandang kita terhadap cerita itu. Dari sekian banyak kata dalam kisah ini semoga ada hal bermanfaat untuk kalian yang membaca kisah ini. Aamiin. Untuk foto-foto, tidak banyak yang dapat saya publikasikan, tetapi beberapa bisa dilihat dalam akun media publikasi foto milik saya, ineu handayani Ayo berkunjung ke Pacitan! J




Saturday, May 10, 2014

Perjalanan ke Pacitan, Kota 1001 Gua

Masih tentang ‘jalan Tuhan’. Banyak cara Tuhan untuk memberikan kita jalan untuk mengalami, medapatkan, dan memberikan sesuatu. Kalau suatu hari tersesat, itu bukan sial namanya… tapi ‘jalan Tuhan’ supaya kita tahu ada tempat lain yang lebih baik atau lebih kurang baik daripada tempat yang biasa kita datangi atau tempat yang akan kita datangi.

Seperti halnya hari ini.. Sudah 13 hari saya berada di Kabupaten Pacitan. Salah satu Kabupaten yang ada di Propinsi Jawa Timur. Tentu saja Pacitan ini merupakan bagian dari Indonesia. Masih ada waktu 1 hari lagi untuk saya berada di Pacitan. Kenapa saya di Pacitan? Saya akan menjawab, sedang melaksanakan tugas negara J Semoga jawaban itu sudah cukup memenuhi rasa ingin tahu kalian yang tak sengaja membaca, atau dengan sengaja menunggu postingan ini..

Saya berangkat ke Pacitan dari Solo, perjalanan darat menggunakan angkutan umum yaitu bus Aneka Jaya dengan ongkos Rp 25.000,-. Agaknya armada ini memonopoli jalur Pacitan – Solo untuk jenis bus, karena selain menggunakan bus, bisa juga menggunakan travel atau mobil sewaan dan juga kendaraan pribadi tentunya. Perjalanan ditempuh selama sekitar 5 jam dengan melalui medan yang datar, datar namun jalannya berlubang  atau bergelombang, jalanan mendaki dan menurun di antara hotan produksi dan juga hutan alami, hingga menurun berkelok dengan pemandangan laut yang merupakan bagian dari Samudera Hindia.

Tentu saja saya terkagum-kagum dengan Pacitan dan paket lengkapnya yaitu kenampakan alam yang indah dan penuh dengan pembelajaran terutama untuk bidang pendidikan yang selama ini saya tekuni, geografi.

Untuk menuju Pacitan kita bisa berangkat dari Wonogiri atau Ponorogo. Karena saya berangkat dari Solo, Jawa Tengah, maka saya melalui jalur Wonogiri. Kabarnya jika melalui jalur Ponorogo, medannya lebih mendebarkan dan menantang.. mungkin suatu waktu saya berkesempatan untuk melaluinya, aamiin. Sebaiknya perjalanan dilakukan pada pagi hingga menjelang senja, karena pada malam hari tidak ada penerangan di sebagain besar jalurnya dan kita hanya mengandalkan lampu kendaraan saja, itu cukup berbahaya.

Meskipun Pacitan adalah kota yang kecil dan berada jauh dari kota-kota besar lainnya, tetapi Pacitan tumbuh dan berkembang dengan sederhana dan bersahaja. Kerahtamahan orang Jawa yang tersohor, kuliner unik, adat-istiadat yang unik dan lain sebagainya. Mungkin ada yang menentang pernyataan saya, wajar saya.. penilaian terhadap sesuatu sifatnya relatife dan mungkin beberapa hari saja belum cukup untuk memberikan penilaian mendalam terhadap sesuatu. Saya bisa menuliskan hal ini karena saya sudah mengalaminya J

Jangan takut akan menjadi cepat bosan atau ndak kerasan berada di Pacitan, banyak hal yang dapat dikunjungi. Pantai-pantai yang merupakan tujuan wisata surfing, sunbathing, olahraga air lainnya atau sekedar berjalan-jalan menikmati pagi dan senja, menikmati kuliner di Pasar Minulyo, duduk bercengkaram dengan teman dan keluarga di sekitar alun-alun, mengunjungi Gua Gong. Bahkan Pacitan mempunya julukan sebgai “Kota 1001 Gua”, aka nada postingan selanjutnya yang lebih spesifik yaa J


Ayo, Visit Pacitan J

Wednesday, April 2, 2014

Banyak-banyaklah Bersyukur...

Suatu hari… Ya entah kenapa pula saya bilang suatu hari, padahal bisa juga suatu ketika, atau sekalian saja pada zaman dahulu kala.. Ini kisah nyata.

Hari itu setelah waktu magrib atau isya’ di Kota Semarang, saya sedang dalam persiapan kembali ke Kota Surakarta.. Saya kembali setelah mengurus beberapa surat untuk keperluan penelitian. 

Saya menggunakan kendaran umum, karena akan terlalu melelahkan bila membawa kendaraan pribadi. Jadilah dalam perjalan pulang itu menggunakan bus yang tak ingin saya sebutkan namanya… Bukan apa-apa, tapi saya agak lupa nama busnya, tapi saya memutuskan tidak bertanya padanya, lebih baik ini dirahasiakan saja.. Yang pasti, ongkosnya adalah Rp 20.000,- lebih murah Rp 5.000 daripada waktu berangkat dengan bus lainnya.

Dalam perjalanan itu.. Saya memutuskan untuk “tidak-akan-hidup-seperti-para-perempuan-tangguh-itu”.
Keadaan bus masih lumayan belum penuh waktu kami berdua naik, tetapi hanya sepasang kursi yang keduanya kosong.  Jadilah kami berdua duduk disitu, tepat di depan pintu belakang bus dan saya sangat tepat berada di atas ban bus itu. Sebentar saja.. Bayangkan bagaimana rasanya jadi saya, bus yang agak pengap karna keringat yang bercampur aduk dengan asap kendaraan, belum lagi asap rokok yang dihisap oleh kondektur busnya. Tetesan air dari luar jendela sepertinya gembira sekali mempermainkan wajah saya.. Mual rasanya tapi saya fikir ini adalah pengalaman yang berharga.

Ternyata saya belum sepenuhnya benar. Pengalaman yang sangat berharga itu akhirnya saya alami setelah saya merasa agak terbiasa dengan situasi dan kondisi bus yang sedemikian rupa. Setelah beberapa menit meninggalkan Ibukota Propinsi Jawa Tengah itu, semakin banyak penumpang yang naik. Mereka adalah perempuan-perempuan paruh baya, beberapa diantaranya masih belia, dan mereka berbaju sama. Ah, tentu saja beberapa dari mereka menggunakan jaket, mala mini cukup dingin.

Awalnya saya tidak terlalu peduli, karena bagi saya hentakan kursi yang berasal dari ban yang berputar yang juga menghantam dan melalui jalan berlubang sudah cukup mengganggu. Dalam hitungan detik saja, saya mulai sadar.. Ternyata bus mulai penuh sesak, bahkan mereka harus berdiri dengan posisi tertentu agar penumpang lainnya masih bisa masuk.

Perhatian saya mulai fokus. Bukan pada keringat-keringat mereka. Bukan pula pada wajah-wajahnya.. Tapi pada pakaian yang mereka kenakan. Dalam beberapa detik, saya sudah dapat menyimpulkan siapa perempuan-perempuan itu. Mereka adalah perempuan-perempuan yang sangat tangguh.

Saya tidak pernah berfikir.. Bagaimana jika salah satu dari mereka adalah Mama atau keluarga saya yang lainnya. Karena mama telah tiada dan tidak pernah mengalami hidup yang begitu. Jadi saya fikir, mungkin sebaiknya saya membayangkan bila saya saja yang menjadi salah satu dari mereka.


Ya tentu saja saya sudah pernah berbagi cerita sebelumnya, mungkin kran air mata saya sudah cukup using.. Harus diganti.. Atau saya yang terlalu tidak bisa mengendalikan diri, mengendalikan air mata.. Ya mungkin saja salah satunya. Jadi, saya mulai merasakan air mata mengalir.. Dengan sungguh-sungguh saya berjanji, “tidak-akan-hidup-seperti-perempuan-tangguh-itu”, semoga Tuhan mengabulkan.. dan semoga Tuhan memberikan kehidupan yang penuh berkah untuk kita semua, aamiin.

Thursday, November 28, 2013

Suatu hari, di Cikurai...

Tunduk kala naik, tegak kala turun
Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan mengambil apapun kecuali gambar, jangan membunuh apapun kecuali waktu



Pada suatu hari, lebih tepatnya pada tanggal 23 November 2013, saya dan tiga orang saudara sesama Jantera.. Sebut saja Reza, Mahar, dan Hafid memutuskan untuk berakhir pekan di suatu tempat yang tidak ada mall, tidak ada kebab, apalagi penjual susu ultra. Gunung. Kami pergi ke gunung, tidak terlalu jauh dan tidak pula berada di negeri antah berantah, karena gunungnya terpetakan dalam peta zaman dahulu sekalipun.

Gunung Cikuray...
Berdasarkan studi literatur yang saya lakukan sebelum bahkan setelah pendakian, tinggi Gunung Cikuray adalah 2.818 mdpl. Ternyata, itu data di lapangan menyatakan hal yang berbeda. Tentu saja bukan saya sengaja ukur untuk membuktikan, hanya saja di puncaknya ada benteng tanda puncak dan di sana tertulis bahwa ketinggiannya adalah 2.821, wallahu a'lam bishawaab...

Gunung Cikuray berada di sebelah selatan Kota Garut. Tepatnya berada di perbatasan Kecamatan Bayongbong, Cikajang, dan Dayeh Manggung. Sebagai gunung tertinggi ke-4 di Jawa Barat setelah Ciremai (3078 mdpl), Pangrango (3019 mdpl), dan Gede (2985 mdpl), Gunung Cikuray termasuk gunung yang tidak aktif dan bentuknya menyerupai kerucut yang sangat besar.

Perjalanan dimulai...
Kami berangkat dari rumah tercinta, sekre Jantera, malam hari pukul 10 sudah cukup larut untuk pergi ke Garut. Dan memang tujuan kami tidak langsung kesana, kami akan bermalam di rumah Hafid, di Margahayu.. Itu menjadi pengalaman pertama saya ke Margahayu pakai motor dan menginap. So amazing! (bagi saya). Rencananya, kami akan berangkat setelah shalat subuh.. Tapi apa daya, bangun siang dan tak mungkin serta tak ingin menolak tawaran sarapan di rumah Hafid. Orang tua yang sangat baik, kami bahkan dieri bekal uang jajan. Terima kasih Bapak dan Ibu.

Akhirnya kami pun sampai di puncak. Ah tentu saja saya salah ketik. Kami sampai di kaki Cikuray sekitar pukul 9 pagi. Reza yang memnadu perjalanan karena dia sudah pernah kesini sebelumnya. Bila ada ungkapan manusia adalah tempatnya salah, khilaf, dosa.. True! Itu yang kami alami..

Pendakian tidak dilakukan melalui jalur yang banyak dan biasa digunakan pendaki lain dari seluruh pelosok negri ini, jalur pemancar. Tetapi kami menggunakan jalur olan. Pada hari itu.. Reza agak lupa nama dan jalurnya dan kami memutuskan untuk bertanya pada warga setempat. Ah, ternyata manusia memang bebas melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya masing-masing. Warga menunjukkan jalan yang bisa kami lalui untuk mencapai puncak. Hasilnya? Buntu.. Kalaupun maju, menuju lembahan. Sampai dzuhur kami berputar dan akhirnya memuturkan untuk turun kembali. Berhenti sejenak untuk melengkapi rukun islam. Air dengan kekuatan da itu membantu kami semangat lagi.. kembali turun, mencari jalan yang lebih benar.

Smepat lapar.. dan kami membali bakso juga batagor. Ya tentu saja kami makan. Perjalanan dilanjutkan dengan mengaplikasikan "malu bertanya sesat di jalan".. Maka kami banyak bertanya. Jreeeng! Kami sampai di jalur olan. Hari sudah menjelang ashar, rasanya saya sudah berjalan seharian. Saya sebagai seseorang yang paling cantik rasanya ingin mengeluh, tapi malu dan takut menyusahkan.

Sekitar pukul 3 sore, perjalanan yang sebenarnya di mulai.. Reza di depan memimpin.. saya, mahar, dan hafid mengkor di belakangnya. Shalat ashar di lereng menurun rasanya aneh, tetapi itu tetap dilakukan. Sepanjang perjalanan, saya mulai meracau dalam hati. Apakah benar tracknya terus menanjak? Apakah kekuatan magis disini sangat ada? Mungkinkan kami akan membutuhkan bantuan SAR? Apakah akan bertemu orang lain selama perjalanan? dan lain-lain, dan sebagainya, dan seterusnya....

Ingat Tuhan, supaya diingat Tuhan selalu...
Berhubung saya bukanlah orang yang terlalu hebat dan kuat seperti mereka bertiga, saya mengandalkan kekuatan doa dan fisik yang ala kadarnya saja. Sesekali berhenti, memakan snack dan bergantian minum persediaan air. Harus hemat, karena kita tidak akan menemukan mata air setelah memasuki kawasan yang rapat dengan vegetasi. Sebelumnya kami meminum air dari slang-slang air milik warga, airnya sangat dingin, segar, tapi mentah.

Pos 1 entah dimana.. Tiba-tiba saja ada tulisan pos 2. Mungkin kami kurang mengamati lingkungan sekitar, atau mungkin juga karena memang tidak ada tanda untuk pos 1. Hari semakin gelap, kami mulai menyalakan headlamp. Hari ini saya ingin menyampaikan bahwa headlamp yang saya gunakan masih sangat baru, merk energizer. Semakin malam, saya semakin ingin mengeluh. Langkah kaki semakin pendek dan semakin lamban. Tetapi mereka sungguh saudara saya yang baik hati dan tangguh.. Mereka tidak membiarkan saya merasa tertinggal langkah dan semangatnya. Terima kasih, saudaraku.

Pos 3, disitu ada tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Tetapi kami tidak berniat mendirikan tenda disitu. Tujuan kami adalah puncak. Sampai di pos 3, kami melihat dan mendengar tanda-tanda ada pendaki lain dari Jakarta. Tetapi mereka tidak naik kereta malam kok.. karena tidak akan ke Surabaya (naon sih). Katanya mereka berjumlah 22 orang, ada sedikit insiden yang membuat saya ingin segera berlari sampai puncak, takut sesuatu terjadi pada kami berempat, seperti halnya yang terjadi pada salah seorang dari mereka.. Ada kakak perempuan yang terus menangis karena sepertinya 'kelelahan'.

Track semakin menanjak, sedikit saja bonusnya. Banyak lampu, banyak senter, banyak tenda, dan banyak suara orang. Puncak? Menurutmu?
Selamat.. Ineu sudah sampai puncak!
Reza, diam-diam saya ingin menangis.. Ini terlalu berharga untuk menjadi cengeng. Terima kasih Reza, Mahar, dan Hafid.
Kami mencari spot terbaik yang masih ada untuk mendirikan tenda, merebus air, dan memasak mie untuk makan. Setelah shalat.. Berdasarkan laporan ketiga saudara saya itu, saya sangat cepat terlelap. 

Pagi hari tanggal 24 November 2013, kami bangun memulai hari dengan bersujud dua rakaat untuk-Nya. Rasanya sedang ada dimanaaa gitu.. Ramai orang, dari Jakarta, dari Jawa Barat, dan ada yang dari Jawa Timur/Tengah.. Karena mereka semua berbahasa jawa. Meskipun hari itu kami tidak berjumpa dengan sunrise, tetapi sama sekali tidak mengurangi keindahan puncak Cikuray. Kami bahkan harus mengantri untuk berfoto di tugu puncaknya. Sebelum pukul 10, kami memutuskan untuk turun.

Perjalanan turun tidak lebih mudah... Karena kaki sudah semakin letih dan turun menopang beban yang lebih berat daripada ketika naik.
Seperti yang sudah saya bilang di awal, tunduk kala naik dan regak kala turun... Itu benar-benar meresap dalam jiwa saya, seperti air yang terilnfiltrasi. Harus baik-baik melihat jalan, mawas diri ketika kita ingin menggapai target, Dan tentu saja kita harus kuat menegakkan kepala ketika segala hal dalam hidup sedang menurun menjauhi target. Itu artinya kita harus mulai menyusun rencana dan persiapan untuk target selanjutnya. Bahagia itu sederhana, naik dan turun gunung.



Friday, October 25, 2013

Saya, Fao, Merapi, dan Cinta :)

   Pendakian ke Merapi sebelum Idul Adha yang lalu, adalah perjalanan yang mengesankan bagi saya, meskipun tidak semua bagiannya menyenangkan. Tapi saya bersyukur bisa naik dan turun lagi dengan selamat. Alhamdulillah...
   Judulnya begitu? Iya.. :)

   Meskipun tidak seperti yang saya harapkan... Dalam fikiran saya, mendaki bersama fao berarti jalan beriringan, saling menarik ketika track sulit, berbagi coklat batangan murah yang saya beli , nyanyi-nyanyi sepanjang perjalanan, tidur dalam satu tenda yang sama, sampai di puncak juga sama-sama. Tapi? Fao bersama teman PPL dari sekolahnya. Hanya beberapa kali berjalan beriringan dengan Fao, tidak jadi tidur dalam tenda yang sama, ke puncak juga tidak berdua. 
   Saya fikir, betapa tidak ekslusifnya waktu itu. Meskipun begitu, saya tetap berbangga dan berbesar hati.. bisa sampai di pasar bubrah dengan Fao. Lain waktu, pasti.. Insya Allah bisa seperti yang saya bayangkan. Ya meskipun belum tentu Fao mau :D Tapi semoga Fao mau :)
  Selain itu, saya juga mau mengucapkan selamat ulang tahun untuk Fao baik.. Maaf selama ini sering merepotkan, semoga Fao selalu disayang Allah.. Cepat lulus kuliahnya, kerja dan terkabul segala doa baiknya, aamiin.
  Fao semakin cantik setelah pakai jilbab :)

Di New Selo

We Love Indonesia


Saya dan Fao ^_^
   Semoga ada rezeki umur, kesehatan, kesempatan dan bekalnya untuk perjalanan selanjutnya. Aamiin :)

Gunung Merapi

Menjelang idul adha yang lalu, saya pergi berpetualang ke merapiiiii...
kalian tentu sudah sering mendengar tentang Gunung Merapi kan? ya, mungkin saja ada yang belum tahu. Gunung Merapi belakang ini terkenal dan identik dengan keatifannya yang menimbulkan bencana dan tentunya disertai berkah, Tuhan Maha Adil :) lalu... Merapi juga identik dengan almarhum Mbah Marijan.
sekarang saya mau sedikit berbagi tentang pengalaman kami selama naik dan kembali turun Merapi.
yuk..cekidot

di Merapi, dengan pendaki dari Makassar
Kota Boyolali tidak terlalu besar, setelah lampu merah yang menuju SMA N 1 Boyolali, belok ke kiri menuju daerah Selo. Sepanjang perjalanan kami berjumpa dengan bebrapa pendaki yang menuju Merapi dan ada juga yang hendak ke Merbabu, karena Merapi dan Merbabu berdiri dengan gagah saling berhadapan. Semakin dekat dengan basecamp, maka akan semakin banyak kita berjumpa dengan para pendaki lainnya. Parkirkan kendaraan di basecamp. Registrasi, bayar Rp 1.500,- saja, dan data kita sudah ada disana, lebih dari sekedar bergjaga-jaga jika terjadi apa-apa *naudzubillah* tapiii.. karena kita harus tertib dan disiplin, jangan seenaknya saya melanggar peraturan yang telah ada.
Salam Lestari .

Gunung Merapi? Dimana?
letak geografisnya 7°32,5'LS dan 110°26,5' BT. Seacara administratif, lereng sisi selatan berada dalam kawasan Kabupaten Sleman, DIY, dan sisanya berada dalam wilayah Propinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Gunung Merapi masih aktif, jadi sewaktu-waktu bisa meletus. Meskipun demikian, Merapi menjadi salah satu tujuan wisata dan juga termasuk tujuan utama para pendaki gunung.


Disana ngapain aja?
Disana kita bisa membuka mata dan hati lebar-lebar, mensyukuri ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Napak tilas dari kejadian letusan tahun-tahun sebelumnya, dengan begitu artinya kita bisa mempelajari fenomena geografi langsung di laboratorium alaminya, memuaskan keinginan berpetualang, camping bersama teman-teman. Tapi bagi saya, yang paling penting bisa meningkatkan keimanan kita.

Bagaiman caranya kesana?
Saya memulai perjalanan dari Kota Surakarta/Solo, mengendarai motor plat BH yang usianya sudah cukup tua, tapi motor itu masih sehat.. hanya saja agak memasakan jika menggunakan honda grand begitu sedangkan jalannya naik-naik ke puncak gunung, tapi apa boleh buat, hemat :)
Jalan sedikit ke atas, sampailah kita di New Selo, dari sinilah pendakian di mulai.

Bawa apa aja?
Bawa diri dan keimananmu anak muda hehehe.. ya meskipun saya bukan orang yang bersih, tapi saya sangat percaya pada kekuatan doa dan Kuasa Ilahi.
Bawalah perbekalan mendaki gunung. Terutama bila pendakian dilakukan pada malam hari, bawalah sleepingbag, tenda, matras, flysheet, tramontina, dan yang paling penting senter. Kecuali jika matanya menyala seperti meong hehehe.
Selain itu, gunakanlah sepatu. Selain untuk mempermudah ketika berjalan, tentunya sepatu juga melindungi kaki dari bebatuan dan pasir yang sangat banyak sepanjang track menuju puncak. Gunakan masker atau syal untuk menutup hidung, karena banyak debu yang beterbangan dan kurang baik untuk pernafasan kita.
Untuk logistik.. jangan lupa membawa persediaan air ang cukup, cemilan selama perjalanan seperti coklat, roti dan agar-agar. Daripada membawa minuman berenergi, lebih baik membawa dan mengkonsumsi madu, atau bisa juga gula merah. Bawa peralatan memasak jika berniat membuat masakan disana.

Tidurnya dimana?
Di dalam tenda dan jangan lupa masuklah ke dalam sleepingbag :) atau berbaringlah di luar bersama teman-teman sambil menatap bintang ketika cuaca cerah, tapi tentu saja itu lebih dingin dan tidak dianjurkan.
Ada beberapa tempat yang bisa dan biasa dijadikan lokasi untuk mendirikan tenda atau ngecamp. Setelah pos dua dan di pasar bubrah, tempatnya cukup luas dan datar, meskipun banyak bebatuan yang terkadang mengganjal ketika kita menancapkan pasak.

Duitnya?
Dengan edisi boros, saya menghabiskan uang sekitar Rp 150.000,- dan itu sudah termasuk logistik, BBM, parkir, dan biaya registrasi. Bahkan di New Selo saya juga membeli makanan berat dan juga ringan ketika hendak naik dan ketika turun juga.

Takut?
Tenang saja, ada Tuhan yang menjagamu :) Tugas kita adalah berjalan dengan hati-hati, tidak ceroboh, mawas diri, kuat metal dan fisik, dan yang pasti ingat Tuhan selalu supaya selalu diingat Tuhan.

Selamat mendaki kawan, jangan lupa bawa turun kembali sampahmu... jangan memindahkan atau membawa apapun yang tak seharusnya dibawa.

Thursday, October 3, 2013

Wisata Gunung di Indonesia

Salam lestari!
  Hari ini saya sedang menjalankan tugas sebagai guru piket dalam program latihan profesi (PLP) di salah satu sekolah swasta di Kota Bandung. Berhubung waktu piket ini sangat senggang hingga memojokkan saya untuk rentan terhadap kejenuhan, jadi saya memutuskan untuk meminjam salah satu majalah yang ada di perpustakaan sekolah. Setelah membaca dan berusaha memahaminya, maka saya akan berusaha membagikan ilmu pengetahuan dan informasinya dalam postingan ini.

  Indonesia berada dalam kawasan Ring of Fire, dan para fire itu adalah gunung-gunung aktif yang tersebar hamper di seluruh Indonesia dengan jalurnya masing-masing. Tapi, meskipun itu berpotensi bencana cukup tinggi.. Ternyata kita bisa menimatinya dari sisi dan sudut pandang lainnya.

  Bagi sebagian besar orang yang tinggal di hiruk pikuk perkotaan, pastinya sangat menjemukan harus terlalu sering menghirup udara kotor karena polusi dari asap kendaraan, pabrik, dan lain sebagainya. Salah satu solusinya adalah dengan melakukan perjalanan, liburan, hobi, atau sekedar mampir ke gunung. Di gunung tentunya masih minim polusi, belum lagi pemandangan alam nan elok tidak seperti perkotaan yang crowded. Apalagi Indonesia mempunyai banyak gunung yang dimanfaatkan sebagai taman nasional dan objek wisata sehingga kita bisa mendapat banyak manfaat dengan mengunjunginya.

  Berikut ini gunung-gunung yang sudah terkenal menjadi tujuan wisata di Indonesia:
1.      Pegunungan Karst Bantimurung, Sulawesi Selatan
Tempat ini pertama kali ditemukan oleh orang-orang Belanda. Mereka menjulukinya sebagai “Kingdom of Butterfly”, karena disana terdapat spesies kupu-kupu yang sangat beragam. Kupu-kupu merupakan salah satu daya tarik utama di Bantimurung selain keindahan dari air terjunnya. Untuk menuju ke tempat ini , kita harus menempuh perjalanan darat selama sekitar 3,5  jam dari Makassar, ibukota Sulawesi Selatan.
Range budget: 1,5 – 3 juta

Pegunungan Karst Bantimurung


2.      Gunung Kelimutu, NTT
Tentunya kita sudah sering mendengar tentang keindahan danau tiga warna, Danau Kelimutu. Danau ini adalah satu-satunya danau di dunia yang airnya dapat berubah warna setiap saat. Dari merah menjadi hijau tua, hijau tua menjadi hijau muda, dan dari coklat kehitaman menjadi biru langit. Danau ini berada di Gunung Kelimutu, jadi dengan satu kali perjalanan kita sudah menikmati dua fenomena alam sekaligus.
Range budget: 7 – 9 juta
3.      Gunung Anak Krakatau
Gunung yang berada di Selat Sunda ini sudah menjadi legenda dan terkenal di seluruh dunia karena letusannya yang sangat dahsyat pada tahun 1883. Akibat dari letusan itu, getarannya terasa hingga ke Benua Afrika. Selain erjalanan ke puncak Anak Krakatau, kita juga bisa melakukan diving di perairan sekitarnya. Terlebih disana masih banyak ikan-ikan jenis langka yang hanya bisa dilihat di daerah tersebut.
Range budget: 2,5 – 3 juta
 
Gunung Anak Krakatau
4.      Cartensz Pyramid, Papua
Merupakan mimpi saya bisa mencapai puncaknya yang ditutupi salju.  Puncak Cartensz Pyramid atau dikenal juga dengan Puncak Jaya merupakan puncak tertinggi di Indonesia, yaitu 4.900 mdpl. Karena etak dan aksesnya yang sangat jauh maka dibutuhkan biaya yang lebih besar untuk menikmati pemandangan alam disana. Belum lagi pengurusan izin pendakian yang terkenal panjang dan sulit. Meskipun demikian, puncaknya selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki yang bahkan berasal dari mancanegara.
Range budget: 8 – 16 juta
5.      Kawah Ijen, Jawa Timur
Di Gunung Ijen, kita bisa melihat aktivitas penambangan belerang di kawahnya. Karena sangat bau hingga menusuk indra penciuman serta bisa membahayakan kesehatan kita, sebaiknya kita menggunakan masker saat berkunjung kesana. Di Indonesia, Kawah Ijen merupakan salah satu kompleks gunung aktif yang terindah.
Range budget: 1 -2 juta
6.      Gunung Rinjani, NTB
Taman Nasional Gunung Rinjani sangat kental dengan mitos dan pantangan-pantangan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Ngeri? Sama sekali tidak, karena disana sangat banyak fenomena alam yang dapat kita nikmati seperti panorama alam yang indah, pemandian air panas, dan gua-gua alam yang sangat indah.
Range budget: 2 – 7 juta
7.      Gunung Bromo, Jawa Timur
Saya sudah pernah mengunjungi tempat ini dan saya pastikan tidak akan menyesal datang ke Gunung Bromo. Pegunungan Bromo – Tengger – Semeru terkenal sebagai objek wisata di Jawa Timur. Untuk mencapai puncaknya, kita harus melalui hamparan pasir sisa letusannya beberapa tahun yang lalu.. Ah, rasanya seperti dalam film Ayat-ayat Cinta. Selanjutnya kita akan melihat sebuah pura yang sangat megah tempat ibadah masyarakat disana, dan untuk melihat kawahnya kita harus menaiki anak tangga yang jumlahnya sekitar 1000 anak tangga. Tapi tenang saja, untuk mengurangi rasa lelah tanpa mengurangi nilai keindahannya kita bisa menggunakan kuda atau mobil jeep yang disewakan untuk berjalan-jalan.
Range budget: 1,5 – 2 juta

Saya, di Bromo


sumber :
Majalah S'Cool edisi #4 27 Mei - 26 Juni

Saturday, August 17, 2013

18 Juli 2013


18 Juli 2013
Saya kira, mereka mengganggap saya Ibu Guru, sekedar tamu, tapi tidak begitu. Mereka juga menganggap saya “teman”. Sedikit banyak masalah di rumah dan di lingkungan diceritakan pada saya.
Dalam waktu-waktu senggang saya berfikir selama KKN ini saya terlalu banyak bicara. Iya.. kepada semua orang. Tapi sekali lagi saya fikir, biar mereka tahu siapa dan bagaimana saya sekarang supaya mereka bisa melihat dan menilai bagaimana saya nanti.

16 Juli 2013k


16 Juli 2013
Hari ini libur. Bukan karena ibu-ibu ingin istirahat dulu. Tapi karena banyak yang tidak bisa hadir. Ayah dari Ibu Warsini sakit di Indramayu. Ada ibu yang mau pergi kondangan. Pesta disini biasanya diselenggarakan selama tiga hari. Wow nian bagi saya. Lagipula Ibu Kesih juga masih sakit. Jadi tang mengapalah kalau kami libur dulu, hanya sehari.
Seharian bermalas-malasan di posko, rasanya lengang.
Apa juga yang mau saya ceritakan.

15 Juli 2013


15 Juli 2013
Ibu Kesih tidak hadir, katanya sakit kepala. Saya kira beliau sakit karena terlalu keras belajar. Alhamdulillah tidak begitu.
Hari ini ibu-ibu diberi buku panduan belajar dari LPPM kampus. Bukunya bersampul biru. Isinya fotokopian.
Menurut saya, itu kurang bagus dan lagi tulisannya terlalu kecil-kecil untuk mata tua warga belajar dalam kelompk saya.
Saya uzur untuk shaum hari ini. Rasanya sedih sampai keluar air mata. Iya, saya menangis karena banyak hal yang terjadi hari ini. Lalu saya segera tertawa lagi. Saya tertawa dan menertawakan lebih banyak dari biasanya.
Saya jumpa dengan Ria, mahasiswa IPB asal Jambi yang sedang KKP disini.
Ada acara buka bersama, safari ramadhan dari kecamatan, tapi saya tidak turut serta.

 

Notes Of Gea Template by Ipietoon Cute Blog Design