Showing posts with label XXXII. Show all posts
Showing posts with label XXXII. Show all posts

Tuesday, February 24, 2015

Lazimnya, terima kasih..

Ada bunga di kelopak mataku.
Biar kututup mata dan itu indah.
Ketika hujan turun, matahari mengalah.
Demi air yang mengalir.
Demi bola dunia.
Kita adalah fana yang bersungguh-sungguh.
Berhembus pelan, menggugurkan kelopak bunga, mengerjap manja, menuntun hujan.

.... dan bersatu.

Untuk Angga R.D, hatur nuhun sudah menjadi kadat yang super..
Jangan mengartikan kata-kata tanpa pernah membicarakan sebelumnya, budayakan sok tahu yang penuh rasa malu.

Thursday, November 28, 2013

Suatu hari, di Cikurai...

Tunduk kala naik, tegak kala turun
Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan mengambil apapun kecuali gambar, jangan membunuh apapun kecuali waktu



Pada suatu hari, lebih tepatnya pada tanggal 23 November 2013, saya dan tiga orang saudara sesama Jantera.. Sebut saja Reza, Mahar, dan Hafid memutuskan untuk berakhir pekan di suatu tempat yang tidak ada mall, tidak ada kebab, apalagi penjual susu ultra. Gunung. Kami pergi ke gunung, tidak terlalu jauh dan tidak pula berada di negeri antah berantah, karena gunungnya terpetakan dalam peta zaman dahulu sekalipun.

Gunung Cikuray...
Berdasarkan studi literatur yang saya lakukan sebelum bahkan setelah pendakian, tinggi Gunung Cikuray adalah 2.818 mdpl. Ternyata, itu data di lapangan menyatakan hal yang berbeda. Tentu saja bukan saya sengaja ukur untuk membuktikan, hanya saja di puncaknya ada benteng tanda puncak dan di sana tertulis bahwa ketinggiannya adalah 2.821, wallahu a'lam bishawaab...

Gunung Cikuray berada di sebelah selatan Kota Garut. Tepatnya berada di perbatasan Kecamatan Bayongbong, Cikajang, dan Dayeh Manggung. Sebagai gunung tertinggi ke-4 di Jawa Barat setelah Ciremai (3078 mdpl), Pangrango (3019 mdpl), dan Gede (2985 mdpl), Gunung Cikuray termasuk gunung yang tidak aktif dan bentuknya menyerupai kerucut yang sangat besar.

Perjalanan dimulai...
Kami berangkat dari rumah tercinta, sekre Jantera, malam hari pukul 10 sudah cukup larut untuk pergi ke Garut. Dan memang tujuan kami tidak langsung kesana, kami akan bermalam di rumah Hafid, di Margahayu.. Itu menjadi pengalaman pertama saya ke Margahayu pakai motor dan menginap. So amazing! (bagi saya). Rencananya, kami akan berangkat setelah shalat subuh.. Tapi apa daya, bangun siang dan tak mungkin serta tak ingin menolak tawaran sarapan di rumah Hafid. Orang tua yang sangat baik, kami bahkan dieri bekal uang jajan. Terima kasih Bapak dan Ibu.

Akhirnya kami pun sampai di puncak. Ah tentu saja saya salah ketik. Kami sampai di kaki Cikuray sekitar pukul 9 pagi. Reza yang memnadu perjalanan karena dia sudah pernah kesini sebelumnya. Bila ada ungkapan manusia adalah tempatnya salah, khilaf, dosa.. True! Itu yang kami alami..

Pendakian tidak dilakukan melalui jalur yang banyak dan biasa digunakan pendaki lain dari seluruh pelosok negri ini, jalur pemancar. Tetapi kami menggunakan jalur olan. Pada hari itu.. Reza agak lupa nama dan jalurnya dan kami memutuskan untuk bertanya pada warga setempat. Ah, ternyata manusia memang bebas melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya masing-masing. Warga menunjukkan jalan yang bisa kami lalui untuk mencapai puncak. Hasilnya? Buntu.. Kalaupun maju, menuju lembahan. Sampai dzuhur kami berputar dan akhirnya memuturkan untuk turun kembali. Berhenti sejenak untuk melengkapi rukun islam. Air dengan kekuatan da itu membantu kami semangat lagi.. kembali turun, mencari jalan yang lebih benar.

Smepat lapar.. dan kami membali bakso juga batagor. Ya tentu saja kami makan. Perjalanan dilanjutkan dengan mengaplikasikan "malu bertanya sesat di jalan".. Maka kami banyak bertanya. Jreeeng! Kami sampai di jalur olan. Hari sudah menjelang ashar, rasanya saya sudah berjalan seharian. Saya sebagai seseorang yang paling cantik rasanya ingin mengeluh, tapi malu dan takut menyusahkan.

Sekitar pukul 3 sore, perjalanan yang sebenarnya di mulai.. Reza di depan memimpin.. saya, mahar, dan hafid mengkor di belakangnya. Shalat ashar di lereng menurun rasanya aneh, tetapi itu tetap dilakukan. Sepanjang perjalanan, saya mulai meracau dalam hati. Apakah benar tracknya terus menanjak? Apakah kekuatan magis disini sangat ada? Mungkinkan kami akan membutuhkan bantuan SAR? Apakah akan bertemu orang lain selama perjalanan? dan lain-lain, dan sebagainya, dan seterusnya....

Ingat Tuhan, supaya diingat Tuhan selalu...
Berhubung saya bukanlah orang yang terlalu hebat dan kuat seperti mereka bertiga, saya mengandalkan kekuatan doa dan fisik yang ala kadarnya saja. Sesekali berhenti, memakan snack dan bergantian minum persediaan air. Harus hemat, karena kita tidak akan menemukan mata air setelah memasuki kawasan yang rapat dengan vegetasi. Sebelumnya kami meminum air dari slang-slang air milik warga, airnya sangat dingin, segar, tapi mentah.

Pos 1 entah dimana.. Tiba-tiba saja ada tulisan pos 2. Mungkin kami kurang mengamati lingkungan sekitar, atau mungkin juga karena memang tidak ada tanda untuk pos 1. Hari semakin gelap, kami mulai menyalakan headlamp. Hari ini saya ingin menyampaikan bahwa headlamp yang saya gunakan masih sangat baru, merk energizer. Semakin malam, saya semakin ingin mengeluh. Langkah kaki semakin pendek dan semakin lamban. Tetapi mereka sungguh saudara saya yang baik hati dan tangguh.. Mereka tidak membiarkan saya merasa tertinggal langkah dan semangatnya. Terima kasih, saudaraku.

Pos 3, disitu ada tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Tetapi kami tidak berniat mendirikan tenda disitu. Tujuan kami adalah puncak. Sampai di pos 3, kami melihat dan mendengar tanda-tanda ada pendaki lain dari Jakarta. Tetapi mereka tidak naik kereta malam kok.. karena tidak akan ke Surabaya (naon sih). Katanya mereka berjumlah 22 orang, ada sedikit insiden yang membuat saya ingin segera berlari sampai puncak, takut sesuatu terjadi pada kami berempat, seperti halnya yang terjadi pada salah seorang dari mereka.. Ada kakak perempuan yang terus menangis karena sepertinya 'kelelahan'.

Track semakin menanjak, sedikit saja bonusnya. Banyak lampu, banyak senter, banyak tenda, dan banyak suara orang. Puncak? Menurutmu?
Selamat.. Ineu sudah sampai puncak!
Reza, diam-diam saya ingin menangis.. Ini terlalu berharga untuk menjadi cengeng. Terima kasih Reza, Mahar, dan Hafid.
Kami mencari spot terbaik yang masih ada untuk mendirikan tenda, merebus air, dan memasak mie untuk makan. Setelah shalat.. Berdasarkan laporan ketiga saudara saya itu, saya sangat cepat terlelap. 

Pagi hari tanggal 24 November 2013, kami bangun memulai hari dengan bersujud dua rakaat untuk-Nya. Rasanya sedang ada dimanaaa gitu.. Ramai orang, dari Jakarta, dari Jawa Barat, dan ada yang dari Jawa Timur/Tengah.. Karena mereka semua berbahasa jawa. Meskipun hari itu kami tidak berjumpa dengan sunrise, tetapi sama sekali tidak mengurangi keindahan puncak Cikuray. Kami bahkan harus mengantri untuk berfoto di tugu puncaknya. Sebelum pukul 10, kami memutuskan untuk turun.

Perjalanan turun tidak lebih mudah... Karena kaki sudah semakin letih dan turun menopang beban yang lebih berat daripada ketika naik.
Seperti yang sudah saya bilang di awal, tunduk kala naik dan regak kala turun... Itu benar-benar meresap dalam jiwa saya, seperti air yang terilnfiltrasi. Harus baik-baik melihat jalan, mawas diri ketika kita ingin menggapai target, Dan tentu saja kita harus kuat menegakkan kepala ketika segala hal dalam hidup sedang menurun menjauhi target. Itu artinya kita harus mulai menyusun rencana dan persiapan untuk target selanjutnya. Bahagia itu sederhana, naik dan turun gunung.



Sunday, April 28, 2013

Grajag Beswara Sandekala

are you human?
Biasanya ada pertanyaan seperti itu ketika kita melakukan banyak kesalahan secara berulang-ulang. Tetapi pertanyaan ini saya ajukan dengan niat persuasif, ketika kalian menjawab yes, berarti kalian harus menonton video berikut ini,



Fisabil Yusuf - Ineu Handayani - M. Adi Priyatna - Feni A. Putri - M. Husni Mubarok - Nofi Kristanti - Hafid Mujinadir

Angkatan ke-32 Jantera, Organisasi Pecinta Alam Jurusan Pendidikan Geografi FPIPS UPI Bandung.
Pada hari ini, kami resmi memiliki nama angkatan "Grajag Beswara Sandekala"
Mengapa grajag? mengapa beswara? dan mengapa sandekala? apa artinya? sandekala itu artinya buta ya? sandekala kan artinya siluman kan?
Itu beberapa pertanyaan yang sempat tersaring oleh memori otak saya dari pendengaran yang tidak terlalu tajam ini. Meski tidak sulit, tapi tidak terlalu mudah juga, saya akan menjawabnya sesuai dengan beberapa pengalaman dan pengetahuan sesuai dengan kapasitas saya sebagai anggota Jantera ke-32 yang ikut merumuskan nama ini.
Grajag Beswara Sandekala, ketiganya berasal dari bahasa sansekerta. Jadi muncul lagi satu pertanyaan, mengapa bahasa sansekerta?
Jawaban untuk pertanyaan terakhir itu adalah, karena nilai estetis dan kesederhanaan.
Baik, kita kembali ke pertanyaan sebelumnya...
Grajag, berarti aliran deras
Beswara, berarti yang berkilau
Sandekala, berarti lembayung yang muncul ketika pergantian dari senja menuju malam
Alasan memilih tiga kata itu adalah faktor alam yang ada selama proses diklat berlangsung.
Ci Suren, sungai yang melegenda dalam dunia diklatsar Jantera sejak dulu kala, selalu menjadi jembatan penghubung antara siswa dengan instruktur. Beruntungnya Ci Suren selalu bersahabat, termasuk ketika dikatsar angkatan ke-32 berlangsung. Tempat yang sama dan kegiatan yang sama pula, tetapi tidak dengan arus dan debitnya. Berbeda dengan diklatsar terdahulu, arus dan debit Ci Suren tidak terlalu deras dan relatif dangkal, sedangkan pada saat diklatsar Jantera ke-32, tinggi muka sungai mencapai pinggang hingga mendekati dada kami.
Beswara yang berarti kilauan menunjukkan betapa saat itu arus sungai dan lembayung berkilauan dengan eloknya mengiringi perjalanan dan perjuangan kami selama diklatsar berlangsung.
Sandekala, bukan siluman.. dan bukan juga buta, tetapi lembayung. Lembayung yang berwarna jingga keemasan. Siapakah orangnya yang tidak menyukai hal-hal yang indah? fenomena alam yang belum tentu terjadi setiap hari, objek fotografi nan cantik, penanda dari Tuhan untuk menuju magrib dan berganti hari dalam tahun hijriah, itulah lembayung yang membagi semangatnya kepada kami di beberapa senja yang selalu kami nikmati bersama-sama.
Filosifinya...
Jangan pernah berfikir diklat itu hanya sekedar kaderisasi semata, pindah tempat tidur dengan membawa tas besar yang penuh sesak dengan logistik dan lain sebagainya untuk pergi piknik. Diklat adalah proses penempaan, seperti halnya membuat parang yang harus diberi panas dengan suhu tinggi hingga berpijar lalu dipukul sekuat-kuatnya untuk menjadi bentuk yang ideal dan bisa disebut sebagai benda yang bernama parang. Begitupula dengan kami, kami berjuang melalui arus yang deras selama diklat. Berusaha untuk tidak hanyut terbawa arus, berjalan bergandengan tangan, dan melawan keegoisan diri. Hingga akhirnya kami siap, berjalan ke hulu maupun ke hilir, karena kemanapun kami pergi melalui dan diterpa arus yang bagaimanapun juga, kami adalah satu dan menuju satu tujuan yang sama pula.
Lembayung yang berkilau, tidak semua orang mengerti apa itu lembayung. Tetapi banyak orang akan faham mengenai hal-hal yang berkilau. Kami adalah lembayung, hal yang dianggap sederhana bagi sebagain orang, padahal kami adalah hal yang sangat luar biasa untuk kebanyakan orang. Pada saat yang bersamaan, kami bukanlah lembayung biasa, karena kami penuh dengan kilauan. Kilauan perjuangan, kilau kasih dan sayang antar sesama saudara dan cita-cita mulia, kiluan yang tetap dapat dilihat meski kalian memejamkan mata.
Grajag Beswara Sandekala, siap melangkah lebih maju dan terus maju bersama Jantera, Geografi, umat manusia, alam, dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Wednesday, April 24, 2013

Selamat Ulang Tahun Ke-36 Jantera


selamat ulang tahun Janterakuuuu

ini do'a dan harapan untuk Jantera dan seluruh keluarga besar kami ke depannya:
semoga sukses mendunia
menerbitkan banyak buku
menjelajah lebih jauh
utuh melaksanakan panca dharma Jantera
semua mahasiswa pendidikan geografi UPI yang belum masuk, segera bergabung jadi anggota jantera (semuanya!)
punya banyak peralatan mountainering yang lengkap dan berkualitas
keorganisasian lancar
duitnya banyaaak
makin solid
aamiin

Terima Kasih Jantera
saya, Ineu Handayani. Anggota Muda Jantera. Angkatan ke-32 Jantera, mengucapkan selamat ulang  tahun ke-36 jantera. jaya selalu.
^_^

Monday, April 8, 2013

Jantera!


Kibarkan Keagungan JANTERA!
di Puncak-Puncak Gunung Tinggi,
di Belantara Rimba yang Lembab,
di Kegelapan Gua yang Senyap,
Diatas Tebing Terjal Berbatu,
Diatas pantai berpasir, atau
Diantara Riak Air yang Dingin.

Disana 'kan Kamu Temui, Ilmu, Tawa, Damai, Juga ..... Rindu!
Viva JANTERA!!!

Diambil dari:
Java-West Nusatenggara Volcan Mountain, JANTERA Expedition '91


( http://anggadirez.blogspot.com/ .<< saya curi dari blognya babang angga/ mungkin, ternyata ini ya yang harus saya baca)

Monday, February 11, 2013

Tebing 125 - Pabeasan


Ini namanya surat cinta, di Puncak Tebing 125.
Hari ini telah dilalui dengan susah payah, mengalahkan rasa lelah. Setapak demi setapak, akhirnya aku sampai di puncak Tebing 125, Pabeasan – Padalarang. Dari atas, terlihat semuanya menghampar dengan pasrah atas kehendak-Nya. Sungguh Tuhan Yang Maha Kuasa, pencipta alam semesta dan tidak ada satupun ciptaan-Nya yang tanpa guna.
Bukit-bukit karst, gunung, keramaian kota, keasrian desa, semuanya terlihat dari atas puncak Tebing 125. Bentang alam yang sangat indah, bahkan kegiatan penambangan yang ada disana-sini dan merusak lingkungan tidak menghilangkan keindahannya. Tetapi alangkah mirisnya hati ini melihat semuanya seolah bergerak bersama menuju kegersangan, kesengsaraan, dan pahitnya hidup.
Kelak aku akan mencari penghidupan yang layak dan sejahtera. Tidak perlu berpayah-payah seperti mereka di bawah sana, menjadi kuli tambang, buruh pabrik, atau orang-orang lupa diri yang menari-nari di atas penderitaan alam dan lingkungan, tentu saja manusia akan menderita juga akhirnya.
Di atas Tebing 125, aku meneriakkan janji-janji untuk keluargaku, Geografi yang menjadi jalanku untuk masa depan, dan Tuhan yang dengan segala anugerah-Nya menciptakan alam semesta ini. Sedikit bukti bakti kasihku untuk keluarga dan Geografi melalui do’a padan-Nya. Meski tak kuteriakkan dengan lantang, aku memimpikan untuk menjadikan negri ini jauh lebih baik untuk generasi yang akan datang.

Perempuan Tangguh

Percaya tidak percaya, saya sudah melakukannya...
Membawa Carrier yang tingginya setengah dari tinggi badan saya yang hanya 155 cm

Berusaha tidak terhuyung
Bisa!


Saya dan saudara yang lainnya juga longmarch berkali-kali, Citatah - Pabesan - Pasir Langu - Gn. Burangrang - DAS Cisuren - Gn. Tangkuban Parahu - Jayagiri - Lembang - Ciumbuleuit - Cipaku - UPI.
Menuju Tebing 125, Pabeasan - Padalarang.

Derap langkah perjuangan

Gotong royong
                                   
Mengalahkan lelah
Menuju Pasir Langu
Disapa gerimis
Di SD Pasir Langu
Menuju Cisuren
Dingin

Menuju Tangkuban Parahu
Cantik itu, saya :D
Sangat merindukan peradaban

Menuju Jayagiri
Bertemu banyak orang diperjalanan
Akhirnya, menuju kampus tercinta
Penuh Lumpur

Saya yang bisa berenang dengan pas-pasan ini, tidak bisa mengapung waktu tes fisik. Dalam diklatsar saya melakukan penyebrangan basah, meskipun menggunakan alat bantu, tapi kemampuan yang biasa saja dan air Situ Lembang yang sangat dingin membuat saya sangat lamban. Meskipun demikian, tidak ada kata menyerah.
Semangat :)

dan saya berhasil
Ahh.. ini hanya sebagian kecil dari diri saya tentang perjuangan sampai akhirnya saya mampu dan berani berkata, saya perempuan tangguh!
Ketangguhan saya tidak berarti apa-apa tanpa proses ini, dan akan semakin tidak berarti bila saya hanya berhenti sampai disini. 
Sampai jumpa di kisah perjuangan selanjutnya.
^_^          

JANTERA XXXII

Logo Jantera

    Jantera itu apa? Dari sejarah panjang yang penuh perjuangan dan cerita yang rasanya manis, asam, asin dan juga pahit, saya adalah orang kesekian yang akan menuliskan tentang Jantera. Jantera adalah organisasi kepecintaalaman yang terdapat di Jurusan Pendidikan Geografi UPI, regenerasi anggota terbatas hanya dalam ruang lingkup mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi saja. Kami adalah orang-orang ekslusif diantara lingkungan ekslusif lainnya. Kurang lebih demikian tentang Jantera.
    Saya, Ineu Handayani, sudah sejak awal masuk kuliah di Jurusan Pendidikan Geografi sangat ingin untuk bergabung dalam keanggotaan Jantera. Tingkat I saya tidak bisa mengikuti diklat karena Tuhan mengirimkan saya pulang ke Jambi untuk mengantarkan mama ke peristirahatan terakhirnya. Tingkat II, lagi-lagi saya dikirimkan Tuhan untuk pulang ke Jambi dan mengemban tugas sebagai anak sulung, mengurus adik semata wayang untuk meneruskan langkah memasuki jenjang sekolah menengah. Tingkat III, Tuhan buka pintu-Nya untuk saya mengikuti diklatsar Jantera XXXII, sampai akhirnya saya lulus dan dilantik menjadi anggota muda bersama saudara-saudara saya yang lain.
    Dari awal, perjalanan saya tidak mudah. Tetapi saya tidak menyerah. Saya ingat kalimat motivasi berikut, jika kita berusaha dan hasilnya gagal, coba lagi. Jika kita mencoba lagi dan masih juga gagal, coba lagi. Jangan menyerah, sampai akhirnya kegagalan menyerah pada usaha kita dan keberhasilanlah yang kita capai. Saya sudah membuktikan hal itu. Tetapi bukan berarti saya sudah berhasil, perjalanan masih panjang. Masih banyak cerita yang harus saya rangkai dengan apik, masih banyak ilmu dan pengetahuan yang harus saya eksplor dan dimanfaatkan, dan tentu saja masih banyak pengalaman yang ingin saya rasakan.
    Diklatsar Jantera XXXII di lapangan dilaksanakan dari tanggal 18 Januari 2013 sampai 27 Januari 2013 dan diikuti oleh 8 orang calon anggota muda, yaitu Ineu Handayani, Fisabil Yusuf, M. Adi Priyatna, Ambarwati, M. Husni Mubarok, Fenny A. Putri, Novi Kristanti, dan Hafid Munjinadir. Dari 8 orang calon anggota tersebut, hanya saya yang merupakan angkatan 2010 dalam jenjang akademik, selebihnya adalah angkatan 2011. Namun hal itu tidak menghalangi komunikasi, kerjasama, dan terutama rasa persaudaraan yang kami bangun mulai dari awal tidak saling kenal sampai akhirnya kami enggan untuk berpisah.

Upacara Pelepasan di FPIPS UPI
Hari Kedua

   Kami berdelapan ditempa untuk menjadi keluarga yang solid, mengikis keegoisan dan membuangnya jauh-jauh, meruntuhkan keangkuhan, berusaha bersahabat dengan alam, mengaplikasikan ilmu yang di dapat dalam perkuliahan, dan menyadari sepenuhnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Hingga rasa kehilangan itu sungguh ada dan terasa melelahkan, karena saudaraku Ambarwati harus dipulangkan karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk meneruskan perjuangan dalam Diklatsar. Namun perjuangan belum berakhir, kami yang satu ini akan meneruskan perjuangan saudaraku Ambar, begitu janji kami di tebing 125 Pabeasan waktu itu. Dan untuk saudaraku Ambar, keberhasilan ini milik kita.
   Banyak cerita suka duka yang kami alami selama diklatsar XXXII dan itu tidak boleh kami lupakan, karena prosesnya yang sangat berharga. Apapun yang kami lakukan, selalu diingatkan dan dikuatkan untuk menikmati proses, jikalau kami berhasil itu hanyalah bonus semata, karena orang yang berhasil adalah orang yang menikamti poses.
     Siapaun engkau calon angguta muda Jantera selanjutnya, bersemangatlah! Saya adalah bukti dan saksi hidup bahwa perjuangan itu perlu proses dan tidak ada proses yang berat apalagi sulit jika dinikmati dengan penuh keikhlasan dan rasa syukur.

Sampai jumpa di diklatsar Jantera XXXIII,
Jantera! Jantera! Jantera!
 

Notes Of Gea Template by Ipietoon Cute Blog Design