Showing posts with label Info. Show all posts
Showing posts with label Info. Show all posts

Monday, March 16, 2020

Bonus Belajar di Rumah : Geografi

Kota Terdingin di Dunia : Oymyakon
Suhunya mencapai -70°C, berada di Rusia. Apakah ada manusia yang tinggal disana? Ada!
Kamu juga bisa membaca lebih lengkap lagi, klik disini ya!
Salah satu tempat paling panas di dunia: Dasht-e lut – Iran
Suhu tertinggi yang tercatat sampai saat ini di Lut adalah 70,56°C
Kita bisa memasak telur dengan hanya menggeletakkannya di atas permukaan tanah. Seperti juga halnya di Death Valley.
Apakah salju bisa dimakan?
Sepertinya enak ya, bisa tinggal di negara empat musim. Tidak perlu sibuk membuat es batu atau es serut, ambil saja dari tumpukkan salju di halaman rumah. Apakah aman?
Ternyata: Ya! Salju bisa kita makan untuk pertama kali ketika ia turun, namun pada hari berikutnya akan terdapat banyak bakteri dalamnya. Tertarik untuk mencoba?

Friday, October 30, 2015

Hujan Di Pagi Buta



Hujan lagi disini, sementara disana belum hujan. Bukan salah hujannya, tetapi salah kepalamu berlindung di bawah langit yang basah. Lalu setelah hujan reda, katanya akan ada pelangi. Bahkan setelah badai yang memporak-porandakan segalanya hingga luluh lantah juga akan ada pelangi sebagai pelipur lara. Setelah kita kehujanan apakah pelangi sudah mulai muncul? Atau akan muncul? Apakah sebaiknya jangan muncul saja?
Sebaiknya kita, ah kaulah.. kembali belajar lagi. Banyak belajar tentang hujan dan tentang pelangi. Kalau sudah selesai, maka engkau boleh kembali lagi padaku dan ceritakan mengapa hingga saat ini pelangi belum juga muncul juga padahal sudah beberapa kali hujan turun.

Pelangi seperti halnya ideologi. Bukan hal yang diciptakan oleh negara. Tapi tidak pula sama persis dengan ideologi. Karena bukan digali dari sana-sini lalu kita sebut falsafah hidup.. alah, aku sekarang sudah menjadi guru pendidikan kewarganegaraan. Sedangkan aku bukan pula warga negara yang baik. Dan itu sama sekali belum memengaruhi hidupku, hidupmu, hidup kita, hidup mereka.. sejauh ini.

Apa kabar hujan hari ini? Masih berupa air atau sudah mengkristal lebih keras dan lebih besar selayaknya kerikil? Kerakal? Atau hujannya sudah berubah menjadi beribu-ribu pertanyaan seperti dalam paragraf ini. Biar saja, karena hujan.. siapapun dia, bukan keinginannya turun tepat di atas kepala kita. Bukan keinginannya menghujani kita. Sampaikan pada angin. Lalu angin akan meminta kita menyampaikannya lagi pada tekanan.. lalu bumi berotasi. Inginnya aku saja yang berevolusi, supaya bumi tidak lelah. Tapi aku juga belum tanyakan pada bumi, apakah ia lelah?

Segala sesuatu bisa menjadi lebih sederhana.. seperti air yang berubah menjadi hitam karena kopi. Atau seperti angin yang tidak berwarna. Atau seperti ibu yang tersenyum melihat kita pertama kalinya. Atau seperti.. hujan. Salah! Hujan sama sekali tidak sederhana. Hujan lebih hebat dari apapun.

Dia bisa turun disini.. tetapi tidak disana. Lalu aku menambahkan. Hujan juga bisa turun disana dan disini secara bersamaan. Lalu hujan juga bisa sama sekali enggan turun padahal kita sudah mendambanya selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga tahun berganti.. mungkin ketika hujan turun di tahun berikutnya, aku sudah mati.

Apakah itu rinai dan badai sekalipun.. tidak akan merubah apapun tentang cintaku pada hujan. Bukan karena hujan itu romantis, bukan pula karena hujan itu siklus. Tetapi karena tidak ada hal yang lebih pasti dan pantas aku nantikan selain daripada hujan. Pernah kau menunggu hujan? Ketika hujan tiba-tiba turun, apa rasanya? Atau bagaimana keadaanmu bila hujan yang kita tunggu disini ternyata turun disana. Kalau aku, berurai darah dari kedua mataku.

Mulanya yang akan menjadi judul dalam tulisan ini adalah hujan pagi buta. Tetapi apakah semua ini terlalu jelas? Sepertinya aku yang terlalu banyak bertanya.. jangan dijawab. Karena ini adalah urusanku dengannya, dengan hujan.

Aku harap hujan suatu waktu akan membawaku hanyut.. membawaku bertemu hujan berikutnya yang bersamanya muncul pelangi. Tetapi ternyata.. mungkin aku dan hujan sudah terikat janji dalam janji yang bisa diingat oleh makhluk seperti aku, disini atau tidak sama sekali. Jadi, meski engkau tanpa pelangi.. meski engkau turun disana sementara aku menunggu disini.. meski engkau berubah bentuk. Kita akan bertemu. Dan kita telah bertemu.. kemudian kita bertemu lagi.

Tuesday, February 24, 2015

Budaya Menulis Produktif

Mari menulis produktif
Seperti kalimat pembukanya yang sama persis dengan judulnya. Menulis produktif berarti menuliskan beberapa huruf kemudian merangkainya menjadi sebuah kata yang diawali huruf “P” dan diakhiri dengan huruf “F”. Itulah dia si produktif. Menulis produktif juga berarti olahraga jari *positifsumpah* di atas tuts keyboard notebook yang sudah lelah karena masih menyala sejak matarahi terbit hingga terbenam dan kini hampir terbit lagi. Menulis produktif berarti memanfaatkan waktu luang yang sangat banyak pada jam-jam yang umumnya digunakan hanya untuk terlelap atau mengerjakan sesuatu demi nilai, uang, atau Tuhan. Menulis produktif berarti menggunakan kata-kata utama yang sama secara berulang-ulang sehingga efisien dan mudah dimengerti meski tanpa dirangkum, diringkas, diringkus, dan dibungkus.

Mengapa harus menulis produktif?
Mengapa harus menulis produktif? Siapa yang bilang harus? Jangan terlalu memaksakan diri. Jangan menulis produktif bila merasa tidak produktif. Karena esensi dari menulis produktif adalah agar kita produktif dengan cara menulis atau kita menulis agar produktif atau memproduktifkan tulisan kita sehingga kita tidak punya banyak waktu luang untuk sekedar tidur atau duduk diam di atas pohon sambil minum susu ultra. Ini jawaban yang paling serius, mengapa kita harus menulis produktif? Karena menulis non produktif membutuhkan lebih banyak huruf.

Waktu yang tepat untuk menulis produktif
Tidak setiap waktu kita bisa produktif dalam menulis ada masanya tangan dan jemari kita keram sehingga levelnya sama dengan bunuh diri bila kita memaksanya untuk menulis atau mengetik. Ketika kedua tanganmu sedang menengadah dihadapan Tuhan, jangan coba-coba menuliskan apapun karena kita harus siaga menerima apa yang akan Tuhan berikan untuk kita. Karena setiap waktu kita bersama dan semakin dekat dengan Tuhan itu lebih produktif dari tulisan manapun di dunia ini. Sebaiknya menulis produktif dilakukan saat tugas sudah memasuki dateline atau ketika kita lebih mudah menuliskan kata “anjing” daripada mengucapkannya dengan santun ketika level marah kita sama seperti setelah minum jus cabai. Dan sebaik-baiknya menulis produktif dilakukan adalah ketika kita sudah memiliki alat tulisnya. Bila belum punya, sebaiknya kita bertaubat dan kemudian melanjutkan hidup.

Manfaat menulis produktif
Tuhan tidak pernah menciptakan apapun secara sia-sia. Sebelum dilanjutkan.. bersihkan hati dan fikiran, jangan coba-coba berandai-andai menjadi Tuhan yang memberikan manfaat melalui tulisan yang tidak bermanfaat. Posisi kita saat ini adalah sebagai ciptaan Tuhan yang sama sekali tidak sia-sia. Maka jadikanlah ketidaksia-siaan yang Tuhan berikan sebagai anugrah bagi kita dan sesama makhluk lainnya untuk saling melengkapi. Dengan menulis produktif berarti sudah menunjukkan rasa syukur kita sebagai makhluk berakal dan bernafsu. Berakal untuk memutar-mutaar kalimat dan nafsu untuk membuat orang mengeti dengan apa yang kita maksudkan.

Apakah kau akan mulai menulis produktif sekarang?

Iyakah? Kau akan memulainya? Sebaiknya jangan dulu? Lihat dulu di sekelilingmu! Jangan menulis produktif ketika engkau sedang menyebrang jembatan.. mmmm, misalnya jembatan shiratalmustaqim. Jangan. Jangan sekarang, nanti saja kalau kau sudah faham tentang menulis produktif yang aku maksudkan.. kalau kau sudah bisa meyakinkan orang lain bahwa menulis produktif bukanlah hal yang sulit.. kalau kau sudah punya alat tulisnya.. kalau kau sudah menertawakan pembodohan, pembenaran, kebodohan dan kebenaran. Tidak ada kebetulan di dunia ini.

Friday, September 12, 2014

Buatlah Allah Begitu Spesial di Hatimu

Berbelit-belit. Iya itulah saya. Saya harus memulai dengan banyak kosa kata dan banyak berfikir dengan hati dan logika bahkan untuk sekedar memutuskan “ini adalah saat yang tepat untuk bilang.. lapar”. Percayalah.. yang saya tulis kali ini adalah tentang sebuah buku, tapi bukan saya bila tak memulai, member bumbu, dan mengakhirinya dengan berbelit-belit pula.

Ini tentang Tuhan. Tentang perasaan ingin menjadi “yang pantas” untuk menjadi hamba-Nya atas semua karunia yang telah diberikan kepada kita, kepada saya khususnya. Dari banyak buku dan tulisan yang saya baca, mungkin ini plagiarism.. Tapi saya yakin, Inshaa Allah, tidak! (fikiran yang manusiawi bukan?). Begini.. Lebih baik memberi daripada meminta, berikan milikmu yang paling berharga hanya karena Allah.. dan jangan tercengang bila Allah akan menggantinya dengan yang jauh lebih berharga bagi kita suatu hari nanti.

“Aku Jauh Engkau Jauh - Aku Dekat Engkau Dekat – Buatlah Allah Begitu Spesial di Hatimu” (Yadi Saeful Hidayat, 2014). Karena beliau menuliskan bahwa ketika kita mencintai Allah, tentu kita berharap Allah juga mencintai kita, yang berarti kita ini dicintai-Nya. Karena kadang-kadang saya lupa.. bahwa semua bahagia, suka, cita, dan cinta itu Allah SWT yang memberinya.

Otak saya sungguh penuh dengan hal yang ingin saya ceritakan, ingin saya bagikan, ingin saya tuliskan, ingin saya senandungkan, dan ingin saya simpan baik-baik keyakinannya.. Itu semua hanya masalah waktu J

Halaman 26, paragraph terakhir, kalimat ke-4, begini…

“Aku bergantung prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku di dalam hatinya, Aku mengingatnya pula. Jika dia mengingat-Ku di tengan orang banyak, Aku mengingatnya di tengah orang banyak yang lebih baik daripada mereka. Jika dia mendekat sejengkal kepada-Ku, Aku mendekat sehasta kepadanya. Jika dia mendekat sehasta kepada-Ku, Aku mendekat sedepa kepadanya. Jika dia mendatang-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari” (Hadis Qudsi).

Bukunya belum selesai saya baca, baru saya beli malam ini setelah isya’ tadi. Harganya Rp 49.000 di Gramedia Kota Surakarta. Ini buku yang bagus dan baik. Bagus karena dikemas sedemikian rupa dengan tata bahasa yang menyenangkan, mendebarkan, dan santun. Baik? Tentu saja karena isinya tentang kebaikan, agar kita selalu ingat Tuhan, selalu berusaha dekat dengan-Nya, menjauhi larangan-Nya, membuat Allah SWT begitu special di hati kita. Saya sedang ingin berlari.. baru ingin. Tapi Allah SWT sudah memberikan banyak jalan, banyak cara, banyak tangan, dan banyak godaan pula tentunya.

Bismillahirrahmanirrahiim.. ayok kita berlari. Sampai jumpa di halaman akhir. Pada suatu masa, suatu ketika.. dalam kehidupan yang lebih baik, Inshaa Allah. Aamiin J


Saturday, June 21, 2014

Indonesia Tidak Butuh "Generasi Penerus Bangsa"

Beberapa kali saya dan teman-temanberdebat, tentang masalah sepele hingga masalah yang bertele-tele. Meski lebih sering berdebat tentang masalah yang tidak penting untuk dipublikasikan, tetapi agaknya ada juga beberapa masalah penting yang sengaja dan ndak sengaja kami bicarakan dengan kapasitas sebagai calon pendidik generasi mendatang. Salah satunya adalah tentang generasi penerus bangsa.. Sudah tak terhitung berapa kali saya berniat menuliskan cerita ini, tetapi selalu urung karena alasan yang dibuat-buat dan alasan yang benar-benar menghambat. Maka kali ini, saya bersungguh-sungguh untuk bercerita….

   Pada zaman dahulu kala, tepatnya pada masa sebelum kemerdekaan Negara kesatuan Republik Indonesia…

     Indonesia merupakan negara yang tersohor akan kekayaan alamnya yang melimpah dan bentang alam yang beragam serta indah, bentang budaya yang juga sangat beragam dan unik. Tak ayal berbagai potensi yang ada di Indonesia itu menarik minat orang asing untung datang ke Indonesia dengan berbagai niat, maksud dan tujuannya. Pada awalnya mereka berniat untuk berdagang dan membeli rempah-rempah, lalu akhirnya menyengsarakan rakyat Indonesia pada waktu itu.

      Kesengsaraan yang dialami kebanyakan rakyat Indonesia pada masa sebelum kemerdekaan tidak hanya kesalahan bangsa penjajah semata. Hal itu juga dikarenakan karena rakyat Indonesia pada awalnya masih bersifat kedaerahan dan acuh tak acuh dengan apa yang terjadi di daerah lain. Belum lagi ada beberapa orang yang tamak (hampir terjadi di setiap daerah jajahan bangsa asing di Indonesia), selalu ada diantara rakyat Indonesia yang merasa derajatnya lebih tinggi karena dapat berhubungan dengan bangsa asing yang memiliki kepentingan terselubung saat itu. Lalu mereka dijuluki sebagai pengkhianat bangsa.

     Setelah waktu berlalu cukup lama, akhirnya rakyat Indonesia sadar dan semakin menyadari bahwa kita mengalami nasib yang sama di tanah yang sama bernama Nusantara ini. Rakyat Indonesia pun mulai bergabung dengan berbagai cara dan dalam berbagai bentuk organisasi yang mengatas namakan perlawanan terhadap penjajahan. Perlawanan muncul hingga di pelosok-pelosok negri. Tua, muda, lelaki, dan perempuan, semua ikut ambil bagian dalam peperangan. Terlebih generasi muda pada saat itu.

     Para pemuda pada masa pra kemerdekaan, sangat aktif dan tampil dengan ida serta gagasan yang berani. Salah satu dari sekian banyak bukti kegagahan pemua Indonesia pada masa itu adalah perjuangannya dalam merebut kemerdekaan dari penjajah. Sinergi dengan kelompok tua juga dilakukan dengan apik. Hingga pada suatu hari, tepat satu hari sebelum kemerdekaan Indonesia, para pemuda yang disebut-sebut sebagai golongan muda mengambil keputusan yang sangat cepat dan agaknya tepat karena hasilnya adalah kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia segera dideklarasikan pada keesokan harinya.

    Bahkan setelah Indonesia merdeka, para pemuda yang kemudian disebut sebagi generasi muda atau generasi penerus bangsa terus aktif memperjuangkan hal-hal yang sesuai dengan nilai, norma, dan hukum yang berlaku. Beberapa diantaranya bahkan harus kehilangan nyawa dan rekan demi perubahan.  Perjuangan mereka dihargai dan dikenang dalam sejarah negara ini. Perubahan pun dimulai.

      Beberapa tahun kemudian, setelah beberapa dasawarsa Indonesia merdeka….

   Berbagai permasalahan terus bermunculan, ibarat kata, mati satu tumbuh seribu. Bencana alam dan bencana sosial terjadi hingga ke pelosok negri. Pembangunan yang tidak merata, kekucarang dimana-mana, rakyat mengatasnamakan dirinya sebagai korban, mirisnya lagi kekayaan alam yang tersohor itu masih saja banyak yang dikelola dan dikuasai oleh pihak asing. Apakah kita benar-benar sudah merdeka? Pertanyaan itu perlu dimunculkan untuk menyadarkan bahwa kita masih dipengaruhi orang lain, terlebih kebanyakan rakyat kita menjadi pekerja untuk pihak asing tersebut.

    Akan tetapi, dengan situasi kondisi yang sedemikian rupa saat ini, kita tidak boleh menutup mata bahwa banyak juga generasi muda yang membanggakan. Prestasi pemuda Indonesia di kancah internasional patut diperhitungkan bahkan tak sedikit yang membuat iri pihak asing hingga ada yang menganggapnya sebagai ancaman. Kita patut bangga dengan orang-orang di negara ini yang masih konsisten mengisi kemerdekaan pada posisinya masing-masing.

     Indonesia terus bergerak, meninggalkan masa lepas landas dengan bersusah payah. Karena mengelola negara yang terbentang ribuan kilometer dan tersebar dalam bentuk pulau-pulau bukanlah hal yang mudah. Selalulah para pemimpin dan orang-orang berbudi pekerti baik menggaungkan bahwa kelangsungan negara ini ada pada “generasi penerus bangsa”. Mereka yang peduli atau pura-pura peduli pada keberlangsungan negara ini sangat mengharapkan kinerja generasi penerus bangsa di masa mendatang.

     Generasi penerus bangsa mengemban tugas yang berat. Semua orang mengamatnkan kepada generasi penerus bangsa untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan. Bagi saya, disinilah permasalahannya..
Apa yang harus diteruskan oleh “generasi penerus bangsa” pada saat ini? Meneruskan kontrak-kontrak pihak asing untuk menguasai sumberdaya alam kita? Meneruskan perjuangan sebagian besar pejabat yang melakukan kecurangan? Meneruskan bekerja di luar negri karena kurang dihargai di negara sendiri? Meneruskan kemerdekaan yang bahkan sejak awal sudah dirongrong dari intern negara kita? Apakah kita benar-benar butuh “generasi penerus bangsa”? bagimana bila yang kita butuhkan adalah generasi pengubah? Atau generasi pembaharu?.

Nah.. kira-kira begitulah intisari perdebatan kami kala itu. Jangan sembarangan memberi amanat tanpa menjelaskan maksud dan tujuannya, terlebih niatnya karena niat itu diikrarkan dalam hati.. niat orang siapa yang tahu. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, saya bukan generasi penerus bangsa, tapi saya adalah pemuda Indonesia yang bersyukur dan berterima kasih atas kemerdekaan bangsa ini, dan dengan bersungguh-sungguh saya akan melakukan hal-hal baik demi negara ini di masa mendatang.

Tidak semua orang akan setuju dengan pendapat kita. Tetapi banyak masa, pendapat orang lain membantu kita sadar akan kesalahan dan mawas diri…. 

Tuesday, June 10, 2014

Negeri di Atas Awan. Rumor has it!

    Negeri di atas awan? Benarkah? Negeri apa pula itu? Masih di Indonesia? Jangan-jangan hanya khayalan saja.. Memang kebanyakan dari kita, termasuk pula saya, sering berlebihan dalam menanggapi suatu fenomena, bahkan untuk hal yang belum kita ketahui secara gamblang sekalipun. Tetapi tidak apa-apa, adalah hal yang teramat sangat wajar bila manusia biasa seperti kita takjub, terperangah, atau mungkin lebih baik bila disebut lebay dengan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan, rasakan, lihat, dengan, dan kita ciptakan. Hanya Tuhan yang bisa menciptakannya, dan sudah sepantasnya kita takjub penuh syukur pada-Nya.

    Kembali pada negeri di atas awan.. Negeri ini tentu saja ada di Indonesia. Karena saya yang menceritakan kisah ini dan saya belum pernah pergi meninggalkan negara kita ini walau hanya sekali, mungkin kelak saya akan pergi bila Tuhan menghendaki. (jangan lupa.. saya selalu percaya segalanya ada karena “jalan Tuhan”). Apakah saya sudah cukup bertele-tele? Mari melanjutkan tentang negeri di atas awan. Tepatnya adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Pacitan, Propinsi Jawa Timur. Kecamatan Bandar.


sebagian bentang alam

pola persebaran pemukiman berkelompok

     Sebagian besar wilayah Kecamatan Bandar.. ah mungkin sebaiknya saya bilang seluruh wilayahnya merupakan daerah yang berbukit-bukit dan berlembah dengan kemiringan yang mencapai 100%, jurang di kiri atau kanan jalan dan tebing batu di bagian lainnya. Jalannya? Berkelok-kelok macam ular naga.. (sudah pernah lihat ular naga? Nah itu juga bagian dari hal berlebihan dari masyarakat Indonesia, ular naga). Karena berada pada ketinggian mdpl, maka sudah pasti suhunya lebih rendah daripada daerah lainnya di Pacitan yang sebagian besar wilayahnya berada di garis pantai selatan Jawa yang sekaligus langsung menghampar di depannya Samudera Hindia.

      Karena tempatnya yang jauh dari ibukota kabupaten (lebih dekat ke Kabupaten Ponorogo), berada di ketinggian, hawanya dingin, jalannya berliku. Maka munculnya sebutan “negeri di atas awan”. Apakah memang benar-benar di atas awan? Seperti waktu kita sedang naik gunung? Silahkan kunjungi sendiri yaa.. J Tapi akan saya beri tahu, tidak sepenuhnya benar. Jarak tempuh dari kota memang sangat jauh, sekitar 2,5 jam perjalanan santai.. jangan lupa, itu jarak relatif. Jalanan berliku, sudah berkali-kali terjadi kecelakaan kendaraan yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia. Suhunya memang termasuk sangat dingin, terlebih pada malam hari. Hawanya sejuk, iklim sosial pedesaan yang khas seperti yang sering digambarkan dalam buku-buku pelajaran di sekolah. Cukup jauh dari fasilitas umum yang bisa menunjukkan kemewahan, status sosial dan lain sebagainya.
Jalan lokal

SDN Bandar 1
        Wah berarti pelosok banget ya? Itu juga relatif J Bandar, khususnya Dusun Grenjeng, memang hanya sebuah dusun kecil dengan kepadatan penduduk yang jarang, mayoritas penduduknya bertani dan beternak. Bukan bertani tanam sayur seperti yang di kaki gunung.. bahkan pagi saja tidak di sawah, padinya padi gogo, itu dikarenakan kondisi geografis Pacitan yang bentukan lahannya adalah karst atau secara awam dikenal dengan kapur. Meskipun demikian, fasilitas yang ada disini sudah termasuk cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Ada sebuah Bank konvensional negara yang membantu perputaran uang masyarakat, sarana dan prasarana pendidikan hingga jenjang sekolah menengah atas. Sebuah pasar tradisioal yang digelar dalam lima hari sekali, yaitu setiap hari Pon, itu adalah salah satu hari dalam hitungan jawa. Masyarakat percaya itu akan membawa berkah dan hal baik. Sarana ibdah yang memadai, bahkan sedang dibangun sebuah rumah ibadah yang megah untuk ibadah masyarakat setempat.

        Jadi maksudnya penduduknya disana makmur? Kaya raya? Kalau untuk masalah itu.. saya sangat tidak berani menjawabnya. Karena kemakmuran dan kekayaan itu harus dikembalikan pada diri masing-masing. Tolak ukur makmur dan kaya tentu saja berbeda antara seseorang dengan orang lainnya. Hanya saja, saya bisa katakan, tempat ini lebih baik secara visual daripada tempat tinggal saya yang masih sangat jauh dari pembangunan (ndak perlu membayangkan tempat tinggal saya, fokus saja pada kisah dalam postingan ini). Masyarakat juga mengenal arti nvestasi dengan baik. Mereka juga berinfestasi untuk jangka panjang yang dianggap akan menguntungkan dan akan membantu hidupnya di masa mendatang. Jadi mereka berinvestasi dalam bisnis property. Hei, saya hanya bercanda.. investasi mereka adalah sapi. Sapi yang terus tumbuh dan berkembang biak, harga jualnya yang lumayan tinggi, itulah investasi jangka panjang dari sebagian besar masyarakat dusun ini.
Sapi milik penduduk
                                
      Bagaimana dengan fasilitas lainnya semisal sedang ada acara pelatihan dan lain sebagainya? Mungkin maksudnya hotel J Jangan berlebihan, ini hanya sebuah dusun kecil, potensi alam yang besar tetapi belum menjadi destinasi wisata karena berbagai alasan yang rasional. Ketika saya berada di Dusun Grenjeng, Desa Bandar Kecamatan Bandar Kabupaten Pacitan, saya sedang melaksanakan tugas negara dalam sebuah pelatihan yang berkaitan dengan masalah pendidikan di negara kita, Indonesia. (Harus saya perjelas, siap tahu ada yang lupa.. bahwa Indonesia adalah negara kita). Dalam tugas tersebut, saya harus berada disana selama sebelas hari dan menginap pada malam harinya, menginapnya di rumah warga, tentu saja tidak gratis.. negara yang membayarnya. Terima kasih Indonesia.

         Hanya sebuah rumah sederhana, dengan satu ruang untuk nonton televisi dan ruang tamu. Kamar mandi yang pintunya tidak bisa dikunci. Apakah nyaman? Alhamdulillah, ini sangat nyaman. Mungkin kalian adalah orang yang beruntung karena bisa merasakan menginap di hotel yang baik dan selalu dibersihkan, tapi dalam situasi yang serba relatif ini, saya dan rekan yang bertugas disini adalah orang-orang yang berbahagia karena ditugaskan kemari oleh negara. Karena dengan berada disini maka saya bisa menuliskan cerita ini, membiarkan organ paru saya bekerja dengan santai, menguatkan hati untuk selalu berterima kasih pada-Nya, memberi informasi tentang daerah yang belum kalian kunjungi, dan memamerkan Indonesia pada siapapun yang masih meragukan potensinya.

Rumah tempat menginap
       Setiap perjalanan adalah sebuah perjalanan hidup yang sangat berharga. Setiap cerita akan mengandung makna yang disesuaikan dengan sudut pandang kita terhadap cerita itu. Dari sekian banyak kata dalam kisah ini semoga ada hal bermanfaat untuk kalian yang membaca kisah ini. Aamiin. Untuk foto-foto, tidak banyak yang dapat saya publikasikan, tetapi beberapa bisa dilihat dalam akun media publikasi foto milik saya, ineu handayani Ayo berkunjung ke Pacitan! J




Saturday, May 10, 2014

Perjalanan ke Pacitan, Kota 1001 Gua

Masih tentang ‘jalan Tuhan’. Banyak cara Tuhan untuk memberikan kita jalan untuk mengalami, medapatkan, dan memberikan sesuatu. Kalau suatu hari tersesat, itu bukan sial namanya… tapi ‘jalan Tuhan’ supaya kita tahu ada tempat lain yang lebih baik atau lebih kurang baik daripada tempat yang biasa kita datangi atau tempat yang akan kita datangi.

Seperti halnya hari ini.. Sudah 13 hari saya berada di Kabupaten Pacitan. Salah satu Kabupaten yang ada di Propinsi Jawa Timur. Tentu saja Pacitan ini merupakan bagian dari Indonesia. Masih ada waktu 1 hari lagi untuk saya berada di Pacitan. Kenapa saya di Pacitan? Saya akan menjawab, sedang melaksanakan tugas negara J Semoga jawaban itu sudah cukup memenuhi rasa ingin tahu kalian yang tak sengaja membaca, atau dengan sengaja menunggu postingan ini..

Saya berangkat ke Pacitan dari Solo, perjalanan darat menggunakan angkutan umum yaitu bus Aneka Jaya dengan ongkos Rp 25.000,-. Agaknya armada ini memonopoli jalur Pacitan – Solo untuk jenis bus, karena selain menggunakan bus, bisa juga menggunakan travel atau mobil sewaan dan juga kendaraan pribadi tentunya. Perjalanan ditempuh selama sekitar 5 jam dengan melalui medan yang datar, datar namun jalannya berlubang  atau bergelombang, jalanan mendaki dan menurun di antara hotan produksi dan juga hutan alami, hingga menurun berkelok dengan pemandangan laut yang merupakan bagian dari Samudera Hindia.

Tentu saja saya terkagum-kagum dengan Pacitan dan paket lengkapnya yaitu kenampakan alam yang indah dan penuh dengan pembelajaran terutama untuk bidang pendidikan yang selama ini saya tekuni, geografi.

Untuk menuju Pacitan kita bisa berangkat dari Wonogiri atau Ponorogo. Karena saya berangkat dari Solo, Jawa Tengah, maka saya melalui jalur Wonogiri. Kabarnya jika melalui jalur Ponorogo, medannya lebih mendebarkan dan menantang.. mungkin suatu waktu saya berkesempatan untuk melaluinya, aamiin. Sebaiknya perjalanan dilakukan pada pagi hingga menjelang senja, karena pada malam hari tidak ada penerangan di sebagain besar jalurnya dan kita hanya mengandalkan lampu kendaraan saja, itu cukup berbahaya.

Meskipun Pacitan adalah kota yang kecil dan berada jauh dari kota-kota besar lainnya, tetapi Pacitan tumbuh dan berkembang dengan sederhana dan bersahaja. Kerahtamahan orang Jawa yang tersohor, kuliner unik, adat-istiadat yang unik dan lain sebagainya. Mungkin ada yang menentang pernyataan saya, wajar saya.. penilaian terhadap sesuatu sifatnya relatife dan mungkin beberapa hari saja belum cukup untuk memberikan penilaian mendalam terhadap sesuatu. Saya bisa menuliskan hal ini karena saya sudah mengalaminya J

Jangan takut akan menjadi cepat bosan atau ndak kerasan berada di Pacitan, banyak hal yang dapat dikunjungi. Pantai-pantai yang merupakan tujuan wisata surfing, sunbathing, olahraga air lainnya atau sekedar berjalan-jalan menikmati pagi dan senja, menikmati kuliner di Pasar Minulyo, duduk bercengkaram dengan teman dan keluarga di sekitar alun-alun, mengunjungi Gua Gong. Bahkan Pacitan mempunya julukan sebgai “Kota 1001 Gua”, aka nada postingan selanjutnya yang lebih spesifik yaa J


Ayo, Visit Pacitan J

Monday, November 18, 2013

TRANSMIGRASI

   Transmigrasi adalah pemindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain di wilayah Republik Indonesia untuk tinggal menetap dengan tujuan pembentukan masyarakat baru dan untuk membantu pembangunan daerah, baik daerah asal maupun daerah transmigrasi dalam rangka pembangunan nasional. Transmigrasi juga umumnya dilakukan dari daerah dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi ke wilayah yang lebih jarang penduduknya dengan alasan pemerataan penduduk dan pembangunan.

   Dengan kompleksnya masalah kependudukan yang ada di Indonesia, maka pemerintah melakukan upaya-upaya untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut. Salah satunya adalah melalui program transmigrasi. Tujuan dilaksanakannya transmigrasi adalah sebagai berikut:

  • meningkatkan taraf hidup transmigran dan masyarakat sekitarnya di daerah transmigrasi
  • untuk meningkatkan pembangunan daerah baik daerah asal maupun daerah transmigrasi
  • untuk mengatur keseimbangan penyebaran penduduk yang disesuaikan dengan daya dukung lingkungan
  • untuk pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia
  • pemanfaatan sumber-sumber alam dan tenaga manusia
  • untuk memperkuat kesatuan dan persatuan bangsa
  • untuk memperkuat pertahanan dan keamanan nasional
   Berdasarkan UU Pokok Transmigrasi No. 3 Tahun 1972, transmigrasi dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu:
  1. Transmigrasi umum, adalah transmigrasi yang biaya pelaksanaannya ditanggung oleh pemerintah sepenuhnya, yaitu oleh Departemen Transmigrasi.
  2. Transmigrasi swakarsa, adalah transmigrasi yang biaya pelaksanaannya sebagian atau seluruhnya ditanggung oleh transmigran yang bersangkutan atau pihak lain, bukan pemerintah. Akan tetapi petunjuk, bimbingan, dan pembinaannya dilakukan oleh pemerintah.
   Transmigrasi swakarsa kemudian dikembangkan lagi melalui pola-pola pembagian di daerah transmigran, yaitu sebagai berikut:
  1. Transmigrasi swakarsa PIRTRANS/PIRSUS, adalah transmigrasi swakarsa yang diarahkan pada pengembangan perkebunan dengan menggunakan perkebunan besar sebagai inti yang membantu dan membimbing perkebunan besar sebagai inti yang membantu dan membimbing perkebunan rakyat/transmigran disekitarnya sebagai Plasma dalam suatu sistem kerjasama yang saling menguntungkan dan berkembang.
  2. Transmigrasi swakarsa Hutan Tanaman Industri (HTI), adalah transmigrasi swakarsa yang dikaitkan dengan upaya pengembangan tanaman hutan yang dikelola dan diusahakan berdasarkan atas kelestarian, dalam rangka meningkatkan potensi hutan produksi sebagai bahan baku.
  3. Transmigrasi swakarsa Nelayan/Tambak, adalah penyelenggaraan transmigrasi swakarsa yang dikaitkan dengan pengembangan usaha perikanan.
  4. Transmigrasi swakarsa Jasa/Industri, adalah penyelenggaraan transmigrasi swakarsa yang memang dirancang untuk sebagian besar Transmigrannya berusaha dan memperoleh pendapatan secara berkesinambungan di sektor jasa/industri.
  5. Transmigrasi swakarasa Pengembangan Desa Potensial (TRANSBANGDEP), adalah transmigrasi swakarsa yang diarahkan dan ditempatkan pada desa-desa potensial yang ada di Daerah Transmigrasi, di mana desa tersebut jumlah penduduknya masih sedikit dan potensi alamnya masih memungkinkan untuk dibuka sebagai lahan pertanian.
   Selanjutnya, ada pembagian transmigrasi berdasarkan cara pelaksanaannya, yaitu:
  1. transmigrasi umum
  2. transmigrasi swakarsa (spontan)
  3. transmigrasi bedol desa, adalah transmigrasi yang dilakukan secara masal dan kolektif satu atau beberapa desa. Biasanya karena bencana alam yang merusak desa asal.
  4. transmigrasi swakarya, adalah transmigrasi atas inisiatif masyakat sendiri untuk merubah nasib dan berdasarkan persetujuan pemerintah.
  5. transmigrasi lokal, yaitu transmigrasi yang dilakukan dalam pulau yang sama (bukan antar pulau)
  6. transmigrasi sektoral, adalah transmigrasi yang biayanya ditanggung bersama oleh pemerintah dan juga transmigrannya.
  7. transmigrasi khusus, yaitu transmigrasi yang khusus diprogramkan oleh pemerintah untuk alasan pembangunan.

Sumber:
LKS Geografi Kelas XI Semester 1

MIGRASI

Migrasi :
Perpindahan penduduk dari suatu daerah administrasi pemerintahan ke daerah administrasi           pemerintahan yang lain. Migrasi dapat terjadi untuk sementara waktu atau untuk selamanya.

Faktor yang menyebabkan migrasi:

  • faktor ekonomi (mencari penghidupan yang layak di tempat yang baru)
  • faktor keselamatan (ingin menyelematkan diri dari bencana alam seperti gunung meletus, gempa, tanah longsir, tsunami, dll)
  • faktor keamanan (menghindari kerawanan yang bersifat sosial seperti peperangan)
  • faktor pendidikan (migrasi karena melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau lebih baik kualitasnya)
  • faktor kepentingan pembangunan (terjadi karena daerah asalnya menjadi wilayah pembangunan seperti pembuatan bendungan, bandara, dan lain sebagainya)
Pembagian migrasi:
Migrasi antar negara ada yang perpindahan masuk dan ada juga yang keluar,
  • Imigrasi, yaitu perpindahan penduduk dari negara lain masuk ke negara kita.
  • Emigrasi, yaitu perpindahan penduduk dari negara kita ke negara lain.
Jenis-jenis migrasi:
migrasi permanen
  • Transmigrasi, yaitu perpindahan penduduk dari suatu tempat yang padat penduduk ke tempat yang lebih jarang penduduknya. Transmigrasi tejadi bila masih dalam satu wilayah negara.
  • Urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari desa ke kota, atau dari wilayah kecil ke wilayah yang lebih besar secara kuantitas dan kualitasnya. Urbanisasi juga diartikan sebagai proses perubahan wilayah desa menjadi kota.
  • Ruralisasi, yaitu perpindahan kaum urban kembali ke wilayah asalnya. Ruralisasi biasanya dilakukan karena alasan tertentu, misalnya untuk menghabiskan masa tuanya setelah pensiun, dll.
migrasi tidak permanen
  • sirkulasi atau penglaju, yaitu pergerakan ulang-alik manusia. Pagi pergi ke kota, dan sorenya kembali ke daerah asal di pinggiran kota. Orang yang melakukan sirkulasi disebut sirkuler.
  • komutasi, yaitu orang yang melakukan perpindahan sementara dari desa ke kota. Orang yang melakukan perpindahan sementara disebut komuter.

sumber:
LKS Geografi kelas XI semester 1

Friday, October 25, 2013

Gunung Merapi

Menjelang idul adha yang lalu, saya pergi berpetualang ke merapiiiii...
kalian tentu sudah sering mendengar tentang Gunung Merapi kan? ya, mungkin saja ada yang belum tahu. Gunung Merapi belakang ini terkenal dan identik dengan keatifannya yang menimbulkan bencana dan tentunya disertai berkah, Tuhan Maha Adil :) lalu... Merapi juga identik dengan almarhum Mbah Marijan.
sekarang saya mau sedikit berbagi tentang pengalaman kami selama naik dan kembali turun Merapi.
yuk..cekidot

di Merapi, dengan pendaki dari Makassar
Kota Boyolali tidak terlalu besar, setelah lampu merah yang menuju SMA N 1 Boyolali, belok ke kiri menuju daerah Selo. Sepanjang perjalanan kami berjumpa dengan bebrapa pendaki yang menuju Merapi dan ada juga yang hendak ke Merbabu, karena Merapi dan Merbabu berdiri dengan gagah saling berhadapan. Semakin dekat dengan basecamp, maka akan semakin banyak kita berjumpa dengan para pendaki lainnya. Parkirkan kendaraan di basecamp. Registrasi, bayar Rp 1.500,- saja, dan data kita sudah ada disana, lebih dari sekedar bergjaga-jaga jika terjadi apa-apa *naudzubillah* tapiii.. karena kita harus tertib dan disiplin, jangan seenaknya saya melanggar peraturan yang telah ada.
Salam Lestari .

Gunung Merapi? Dimana?
letak geografisnya 7°32,5'LS dan 110°26,5' BT. Seacara administratif, lereng sisi selatan berada dalam kawasan Kabupaten Sleman, DIY, dan sisanya berada dalam wilayah Propinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Gunung Merapi masih aktif, jadi sewaktu-waktu bisa meletus. Meskipun demikian, Merapi menjadi salah satu tujuan wisata dan juga termasuk tujuan utama para pendaki gunung.


Disana ngapain aja?
Disana kita bisa membuka mata dan hati lebar-lebar, mensyukuri ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Napak tilas dari kejadian letusan tahun-tahun sebelumnya, dengan begitu artinya kita bisa mempelajari fenomena geografi langsung di laboratorium alaminya, memuaskan keinginan berpetualang, camping bersama teman-teman. Tapi bagi saya, yang paling penting bisa meningkatkan keimanan kita.

Bagaiman caranya kesana?
Saya memulai perjalanan dari Kota Surakarta/Solo, mengendarai motor plat BH yang usianya sudah cukup tua, tapi motor itu masih sehat.. hanya saja agak memasakan jika menggunakan honda grand begitu sedangkan jalannya naik-naik ke puncak gunung, tapi apa boleh buat, hemat :)
Jalan sedikit ke atas, sampailah kita di New Selo, dari sinilah pendakian di mulai.

Bawa apa aja?
Bawa diri dan keimananmu anak muda hehehe.. ya meskipun saya bukan orang yang bersih, tapi saya sangat percaya pada kekuatan doa dan Kuasa Ilahi.
Bawalah perbekalan mendaki gunung. Terutama bila pendakian dilakukan pada malam hari, bawalah sleepingbag, tenda, matras, flysheet, tramontina, dan yang paling penting senter. Kecuali jika matanya menyala seperti meong hehehe.
Selain itu, gunakanlah sepatu. Selain untuk mempermudah ketika berjalan, tentunya sepatu juga melindungi kaki dari bebatuan dan pasir yang sangat banyak sepanjang track menuju puncak. Gunakan masker atau syal untuk menutup hidung, karena banyak debu yang beterbangan dan kurang baik untuk pernafasan kita.
Untuk logistik.. jangan lupa membawa persediaan air ang cukup, cemilan selama perjalanan seperti coklat, roti dan agar-agar. Daripada membawa minuman berenergi, lebih baik membawa dan mengkonsumsi madu, atau bisa juga gula merah. Bawa peralatan memasak jika berniat membuat masakan disana.

Tidurnya dimana?
Di dalam tenda dan jangan lupa masuklah ke dalam sleepingbag :) atau berbaringlah di luar bersama teman-teman sambil menatap bintang ketika cuaca cerah, tapi tentu saja itu lebih dingin dan tidak dianjurkan.
Ada beberapa tempat yang bisa dan biasa dijadikan lokasi untuk mendirikan tenda atau ngecamp. Setelah pos dua dan di pasar bubrah, tempatnya cukup luas dan datar, meskipun banyak bebatuan yang terkadang mengganjal ketika kita menancapkan pasak.

Duitnya?
Dengan edisi boros, saya menghabiskan uang sekitar Rp 150.000,- dan itu sudah termasuk logistik, BBM, parkir, dan biaya registrasi. Bahkan di New Selo saya juga membeli makanan berat dan juga ringan ketika hendak naik dan ketika turun juga.

Takut?
Tenang saja, ada Tuhan yang menjagamu :) Tugas kita adalah berjalan dengan hati-hati, tidak ceroboh, mawas diri, kuat metal dan fisik, dan yang pasti ingat Tuhan selalu supaya selalu diingat Tuhan.

Selamat mendaki kawan, jangan lupa bawa turun kembali sampahmu... jangan memindahkan atau membawa apapun yang tak seharusnya dibawa.

Friday, October 4, 2013

Stop!



STOP GLOBAL WARMING


Dongeng Sebelum Mandi

     Pagi hari.. Entah mengapa pagi hari merupakan waktu yang sangat sakral bagi saya.  Mungkin karena pagi hari menentukan saya harus mandi lebih cepat atau menundanya hingga matahari terbit, atau sampai petang? Ya, saya benar-benar orang yang sangat perhitungan bahkan untuk menentukan waktu mandi. Dingin juga salah satu alasan terkuat bagi saya untuk selalu menunda mandi pagi. Selain itu, mungkin juga pagi waktu favorit saya untuk membuka pintu.. Keluar ke balkon dan menghirup udara pagi, karena sejujurnya saja saya sangat-sangat tidak senang harus berebut oksigen di siang hari dengan orang-orang, terutama yang berlubang hidung lebih besar daripada saya.

   Pernah saya mendengar nasihat, jangan terbiasa bangun siang.. Nanti rejekinya dipatuk ayam. Tapi belakangan saya semakin menyadari bahwa orang-orang semakin kreatif, kalau rejekinya dipatuk ayam, maka kita harus menangkap ayam itu dan segera menjadikannya sarapan yang lezat. Rasanya bukan masalah lama atau sebntar saya melalui hari, tapi seberapa berkualitas saya melaluinya. Ah.. Tapi alangkah baiknya bila saya melaluinya dari pagi hingga petang dengan berkualitas.

    Dingin sangat identik dengan pagi, khususnya di kota, yang katanya kota kembang ini, sungguh sangat keterlaluan.. Saya merantau menjauhi garis khatulistiwa dari Negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah dan berdomisili disini, Bandung. Pagi menjadi dingin ya tentu saja, hangatnya raja energi belum menjalar sampai muka bumi dan mengusir udara malam yang bertekanan tinggi itu. Belum lagi posisi Bandung yang berada pada ketinggian 600an ke atas. Alhasil, di Bandung saya cukup mandi maksimal satu kali saja dalam sehari.

     Untuk kesekian kalinya, saya menunda untuk mandi pagi. Membersihkan sisa-sisa kotoran di mata sambil duduk di balkon adalah pilihan utama. Udara pagi itu bersih. Tidak perlu repot-repot bertanya mengapa? Karena saya akan menjawabnya dengan sukarela tanpa paksaan..

     Jadi, yang namanya udara bersih itu berarti udara yang belum tercampur dengan gas-gas yang berbahaya. Dan sebagai tambahan informasi, saya tidak suka membuang gas sembarangan karena itu privasi bagi saya. Pagi hari.. Banyak berserakan di muka bumi ini orang yang malas atau lebih malas dari saya.. Jadi aktivitas belum banyak dan kendaraan juga belum banyak berlalu-lalang, pabrik belum mulai aktif beroperasi dan lain sebagainya. Meskipun malas mandi, sesekali bangunlah lebih awal dan hiruplah udara pagi.. Bersihkan paru-paru dengan gratis. Seketika saya agak ngeri membayangkan harus pergi ke rumah sakit dan membayar mahal karena paru-paru saya terlalu lemah untuk sekedar bernafas saja. Lebih baik saya kembali ke dalam rumah sekarang juga.

     Apa saya harus mandi sekarang? Oh, tidak perlu. Nanti saja setelah merebus air supaya bisa mandi dengat air yang lebih hangat. Lagipula merebus air tidak akan memerlukan waktu yang lama, karena saya merebusnya menggunakan ketel aluminium. Tak terbayangkan kalau ketelnya terbuat dari plastik atau kayu. Entah kapan isolator itu akan membantu airnya mendidih. Dan yang paling penting, mandinya akan semakin tertunda.

       Kadang-kadang saya berharap, “Ya Tuhan, tolong turunkanlah hujan pagi ini”. Semalas-malasnya saya mandi pagi, saya akan bersuka-cita kalau harus menari dalam hujan meski di pagi hari. Karena hujan membawa pesan dari berbagai penjuru dunia, entah darimanapun titik-titik air itu berasal, dia tetap bergembira turun dan meresap, berinfirltrasi di bumi belahan bagian manapun.

      Air, meskipun genangan kotor.. Dia akan menguap menjadi titik-titik air dan berkumpul dengan titik-titik air lainnya. Sebagai air kotor? Tentu saja tidak, dia sudah menjadi makhluk yang baru.. Dan siap terlahir bersih lagi menjadi butiran air dalam stiap hujan ketika angin mendorongnya menuju suatu tempat selama bumi masih belum berhenti berotasi atau berdansa, berputar-putar pada porosnya tanpa lelah. Kawan, agaknya bumi kita berbakat menjadi ballerina.

     Ternyata… Selama saya merenung penuh harap dan berimajinasi kesana-kemari, ternyata air yang sedang saya rebus tadi mulai saling melepaskan ikatan antar molekulnya. Pergerakannya semakin cepat, sudah mendidih. Mungkin ini waktunya saya beranjak berleha-leha dan segera mandi sebelum terlambat untuk melakukan berbagai aktivitas selanjutnya, kalian seharusnya belum lupa, saya terlalu perhitungan untuk melakukan hal yang sia-sia. Kalau difikir-fikir, saya tak terlalu malas-malas amat ya.. Ini baru pukul 05.45 pagi di waktu kota Bandung, Indonesia. (Indonesia, saya tidak akan membagimu menjadi tiga seperti yang dilakukan orang lain).

      Pagi hari… Untuk hari esok, saya sangat yakin dengan tingkat persentase penuh, saya akan malas mandi lagi. Bahkan beberapa kegiatan dan adegan akan saya ulangi lagi.. Tapi saya tidak pernah bosan berharap, semoga besok pagi turunlah hujan yang selalu saya nantikan itu.

Thursday, October 3, 2013

Wisata Gunung di Indonesia

Salam lestari!
  Hari ini saya sedang menjalankan tugas sebagai guru piket dalam program latihan profesi (PLP) di salah satu sekolah swasta di Kota Bandung. Berhubung waktu piket ini sangat senggang hingga memojokkan saya untuk rentan terhadap kejenuhan, jadi saya memutuskan untuk meminjam salah satu majalah yang ada di perpustakaan sekolah. Setelah membaca dan berusaha memahaminya, maka saya akan berusaha membagikan ilmu pengetahuan dan informasinya dalam postingan ini.

  Indonesia berada dalam kawasan Ring of Fire, dan para fire itu adalah gunung-gunung aktif yang tersebar hamper di seluruh Indonesia dengan jalurnya masing-masing. Tapi, meskipun itu berpotensi bencana cukup tinggi.. Ternyata kita bisa menimatinya dari sisi dan sudut pandang lainnya.

  Bagi sebagian besar orang yang tinggal di hiruk pikuk perkotaan, pastinya sangat menjemukan harus terlalu sering menghirup udara kotor karena polusi dari asap kendaraan, pabrik, dan lain sebagainya. Salah satu solusinya adalah dengan melakukan perjalanan, liburan, hobi, atau sekedar mampir ke gunung. Di gunung tentunya masih minim polusi, belum lagi pemandangan alam nan elok tidak seperti perkotaan yang crowded. Apalagi Indonesia mempunyai banyak gunung yang dimanfaatkan sebagai taman nasional dan objek wisata sehingga kita bisa mendapat banyak manfaat dengan mengunjunginya.

  Berikut ini gunung-gunung yang sudah terkenal menjadi tujuan wisata di Indonesia:
1.      Pegunungan Karst Bantimurung, Sulawesi Selatan
Tempat ini pertama kali ditemukan oleh orang-orang Belanda. Mereka menjulukinya sebagai “Kingdom of Butterfly”, karena disana terdapat spesies kupu-kupu yang sangat beragam. Kupu-kupu merupakan salah satu daya tarik utama di Bantimurung selain keindahan dari air terjunnya. Untuk menuju ke tempat ini , kita harus menempuh perjalanan darat selama sekitar 3,5  jam dari Makassar, ibukota Sulawesi Selatan.
Range budget: 1,5 – 3 juta

Pegunungan Karst Bantimurung


2.      Gunung Kelimutu, NTT
Tentunya kita sudah sering mendengar tentang keindahan danau tiga warna, Danau Kelimutu. Danau ini adalah satu-satunya danau di dunia yang airnya dapat berubah warna setiap saat. Dari merah menjadi hijau tua, hijau tua menjadi hijau muda, dan dari coklat kehitaman menjadi biru langit. Danau ini berada di Gunung Kelimutu, jadi dengan satu kali perjalanan kita sudah menikmati dua fenomena alam sekaligus.
Range budget: 7 – 9 juta
3.      Gunung Anak Krakatau
Gunung yang berada di Selat Sunda ini sudah menjadi legenda dan terkenal di seluruh dunia karena letusannya yang sangat dahsyat pada tahun 1883. Akibat dari letusan itu, getarannya terasa hingga ke Benua Afrika. Selain erjalanan ke puncak Anak Krakatau, kita juga bisa melakukan diving di perairan sekitarnya. Terlebih disana masih banyak ikan-ikan jenis langka yang hanya bisa dilihat di daerah tersebut.
Range budget: 2,5 – 3 juta
 
Gunung Anak Krakatau
4.      Cartensz Pyramid, Papua
Merupakan mimpi saya bisa mencapai puncaknya yang ditutupi salju.  Puncak Cartensz Pyramid atau dikenal juga dengan Puncak Jaya merupakan puncak tertinggi di Indonesia, yaitu 4.900 mdpl. Karena etak dan aksesnya yang sangat jauh maka dibutuhkan biaya yang lebih besar untuk menikmati pemandangan alam disana. Belum lagi pengurusan izin pendakian yang terkenal panjang dan sulit. Meskipun demikian, puncaknya selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki yang bahkan berasal dari mancanegara.
Range budget: 8 – 16 juta
5.      Kawah Ijen, Jawa Timur
Di Gunung Ijen, kita bisa melihat aktivitas penambangan belerang di kawahnya. Karena sangat bau hingga menusuk indra penciuman serta bisa membahayakan kesehatan kita, sebaiknya kita menggunakan masker saat berkunjung kesana. Di Indonesia, Kawah Ijen merupakan salah satu kompleks gunung aktif yang terindah.
Range budget: 1 -2 juta
6.      Gunung Rinjani, NTB
Taman Nasional Gunung Rinjani sangat kental dengan mitos dan pantangan-pantangan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Ngeri? Sama sekali tidak, karena disana sangat banyak fenomena alam yang dapat kita nikmati seperti panorama alam yang indah, pemandian air panas, dan gua-gua alam yang sangat indah.
Range budget: 2 – 7 juta
7.      Gunung Bromo, Jawa Timur
Saya sudah pernah mengunjungi tempat ini dan saya pastikan tidak akan menyesal datang ke Gunung Bromo. Pegunungan Bromo – Tengger – Semeru terkenal sebagai objek wisata di Jawa Timur. Untuk mencapai puncaknya, kita harus melalui hamparan pasir sisa letusannya beberapa tahun yang lalu.. Ah, rasanya seperti dalam film Ayat-ayat Cinta. Selanjutnya kita akan melihat sebuah pura yang sangat megah tempat ibadah masyarakat disana, dan untuk melihat kawahnya kita harus menaiki anak tangga yang jumlahnya sekitar 1000 anak tangga. Tapi tenang saja, untuk mengurangi rasa lelah tanpa mengurangi nilai keindahannya kita bisa menggunakan kuda atau mobil jeep yang disewakan untuk berjalan-jalan.
Range budget: 1,5 – 2 juta

Saya, di Bromo


sumber :
Majalah S'Cool edisi #4 27 Mei - 26 Juni

 

Notes Of Gea Template by Ipietoon Cute Blog Design