Showing posts with label SMPN 1 Pining. Gayo Lues. Show all posts
Showing posts with label SMPN 1 Pining. Gayo Lues. Show all posts

Thursday, February 16, 2017

Asmara, Asrama. Lagi.

Ditulis dalam blog lain, milikku. 14 Februari 2017.

Sekarang saya mulai menjalani hari-hari yang lebih sibuk lagi. Tetapi kali ini kesibukannya, Insya Allah benar-benar sibuk dan saya perjuangkan untuk masa sekarang dan masa depan, supaya masa lalu saya termaafkan. Jadi hidup saya tidak stagnan di satu titik saja.

Mulai tanggal 8 Februari lalu, saya sudah tinggal di asrama. Tentang cerita semasa berkeliling di Kab. Kudus, Kab. Semarang, Kab. Pekalongan, dan Kab. Batang plus di Jakarta Selatan agaknya harus ditunda dahulu.

Semangat!!

Saturday, April 2, 2016

Dari Kami untuk Lesten

Sejak bulan dalam kelambu lalu bulat penuh, hingga bulan berlalu malu-malu... kami masih di perjalanan. Kali ini langkah kaki dan tujuan hati adalah Lesten. Di Gayo Lues, Lesten sangat terkenal sedemikian rupa. Di antara semua rekan yang sama-sama mengabdi di Kecamatan Pining, hanya saya yang belum pernah berkunjung ke Lesten.

Sama halnya dengan daerah terpencil dimanapun di seluruh Indonesia. Lesten juga sulit diakses menggunakan kendaraan. Beberapa sepeda motor yang telah dimodifikasi atau bahkan dipaksakan memang akan mampu menembus balantara dan jalan yang hanya satu-satunya dari dan menuju Lesten. Selain itu, kendaraan atau angkutan yang paling terkenal adalah Jonder. Duduk di atas Jonder seperti menonton diri sendiri dalam film-film perkebunan di Eropa sana. Ban Jonder bahkan melebihi tinggi tubuh saya. Hanya tiga orang yang mestinya bisa duduk nyaman di dalam Jonder, tapi berkat sedikit sentuhan adaptasi, 20 – 30 orang pun bisa diangkut oleh Jonder


Saya dan rombongan berangkat hari Jum’at, 25 Maret 2016 siang hari setelah menunaikan ibadah shalat Jum’at bagi yang berkewajiban, rencananya begitu. Ternyata sat jam setelahnya barulah kami berangkat, sekitar pukul tiga sore hari. Matahari masih tinggi, setelah diberi waktu untuk manja kepada Tuhan, kami berdoa dengan gaya masing-masing dan siap berangkat. Pada awal perjalanan ini kami masih banyak tertawa, berfoto ria, dan berpegangan secukupnya. Kelak beberapa jam kemudian kami mulai berkonsentrasi, lupa pada kamera, dan berpegangan seeratnya.

Perjalanan ini disponsori oleh Bapak dan Ibu Guru Garis Depan Kabupaten Gayo Lues. Ini adalah kesempatan kedua bagi saya setelah melewatkan kesempatan pertama bersama SM3T V Gayo Lues. Mengapa kami ke Lesten? Tentu saja karena ada yang kami tuju dan ada yang kami harapkan. Yang kami tuju adalah SD N 8 Pining dan yang kami harapkan adalah senyum mereka. Mungkin ini terasa berlebihan, tapi nyatanya bagi 16 orang anak-anak itu kedatangan kami sangat berarti. Warga Kampung Lesten sangat jarang mendapat kunjungan, meskipun pernah diliput oleh salah satu stasiun televisi tapi belum tayang juga.

Bebrapa orang murid SMP N 1 Pining tempat saya mengajar berasal dari Lesten. Maka kedatangan saya kali pertama ke Lesten saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk bersilaturahmi dengan wali murid dan keluarganya. Karena tentu saja mereka berbeda, sementara wali murid lainnya bisa saya kunjungi kapanpun setiap harinya, wali murid dari Lesten tidak semudah itu, harus berjalan kaki selama 9 jam atau duduk terguncang-guncang di atas Jonder selama 6 jam, pilihan yang sama-sama membuat otot menjadi kaku.

Di beberapa tempat tertentu penumpang harus turun, terutama para lelaki. Mereka harus turun untuk mengurangi beban ketika jalan menanjak atau membantu membebaskan tubuh Jonder yang terjebak dalam genangan lumpur dan tanah yang licin. Saat ini sedang musim kemarau, jalan sudah demikian sulitnya. Bayangkan saja bila medan yang menanjak dan menurun ini harus dilalui pada musim penghujan, saya rasa mereka, orang-orang dari dan menuju Lesten itu sangat luar biasa.

Salah seorang Guru Garis Depan Kabupaten Gayo Lues ditempatkan di SD N 8 Pining, Pak Dika. Beliau beserta empat orang guru lainnya termasuk kepala sekolah, bagi kami yang mengenalnya adalah orang yang tangguh. Mungkin ada Bapak, Ibu, Kakak, atau bahkan teman-teman yang daerah penempatannya semasa SM3T lebih sulit. Maka ini adalah penilaian yang relatif, karena saya belum pernah menemui tempat yang lebih “sulit” keadaannya daripada Lesten.

Dalam waktu yang singkat itu, Bapak dan Ibu Guru Garis Depan Kabupaten Gayo Lues mengisi kegiatannya dengan sangat menarik. Tidak hanya memberikan bingkisan bagi anak-anak dan sekolah, sempat pula diadakan lomba mewarnai yang dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelas besar yang diikuti kelas 4, 5 , dan 6, dan kelas kecil yang diikuti kelas 1, 2, dan 3. Anak-anak sangat antusias mengikuti kegiatan. Bermain dengan warna, mereka tidak peduli bila gambar orang diberi warna merah dan rambutnya berwarna hijau seperti buah cabe. Mereka juga menyanyikan beberapa lagu wajib dengan nada yang lari kesana-kemari dengan penuh penghayatan dan percaya diri. Dengan hanya melihat, kita akan tahu bahwa mereka bahagia.

26 Maret 2016, gerimis kecil mengundang petrichor. Terlalu dramatis dan mengada-ada bila terselip rasa “Langit pun bersedih ketika kami akan berpisah”. Pemandangan sekeliling sekolah biasa saja. Mushala yang tampak rusak dan jarang digunakan. Ruang kelas yang berdebu karena hanya dua dari tiga kelas yang digunakan. Ruang guru dan perpustakaan berada dalam ruangan yang sama. Dua buah rumah dinas guru yang baru dibangun, salah satunya sudah rusak. Jangan berburuk sangka karena dikorupsi ini itunya. Rusaknya rumah dinas yang masih baru itu karena ditabrak gajah.

Lesten dan Gajah adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Di Lesten masih ada, masih banyak Gajah. Meskipun saya belum pernah melihat secara langsung, tetapi kotoran Gajah yang kami lihat di sepanjang perjalanan dengan bau yang sangat menyengat dan masih basah adalah bukti keberadaan mereka. Jalur pejalan kaki, motor, dan jonder adalah jalur yang sama biasa dilalui oleh Gajah. Masyarakat dan pemerintahan setempat sangat bangga dengan masih lestarinya Gajah di daerah mereka.

Menurut kabar yang beredar, tahun ini akan segera dibangun SMP Satu Atap di Lesten. Itu artinya akan ada kemajuan dalam bidang pendidikan. Beberapa anak yang sudah putus sekolah setahun belakangn ini sangat menantikan bakal sekolah baru mereka. Selain itu tentu akan ada guru baru lagi untuk mengajar jenjang yang lebih tinggi tersebut. Dalam perjalanan juga kami melihat adanya patok-patok yang menunjukkan ukuran jalan. Kelak jalan tanah sepanjang 18 KM ini akan berubah warna menjadi hitam karena aspal. Lesten akan segera ramai dikunjungi orang.

Tugas yang tidak mudah bagi guru, pemerintah dan juga masyarakat untuk mempersiapkan diri menerima segala perubahan yang akan segera mereka alami. Pergeseran nilai adalah hal yang sangat riskan terjadi. Saya Guru SM3T malu-malu saya mengakui, belum tentu bisa bertahan dalam kondisi seperti yang mereka alami selama ini, listrik dari panel surya yang terbatas dan banyak yang sudah rusak, tanpa sinyal telpon seluler, populasi yang tidak lebih dari 200 orang, jauh dari sentuhan modern padahal mereka tidak konservatif, dan akan semakin banyak lagi bila saya terus membandingkan dengan hidup dan gaya hidup saya selama ini.


Menjelang tengah hari, kami beranjak pulang. Entah kapan bisa datang ke Lesten lagi. Entah harus dengan bahasa yang bagaimana kelak kembali akan saya ceritakan tentang Lesten. Dimanapun kita merasa nyaman, beranjaklah melihat ke sekitar kita. Ada banyak orang yang tidak seberuntung kita yang bisa berleha-leha di depan telvisi, mengenggam telpon seluler bersosial media tanpa bersosialisasi nyata, dan menikmati segala fasilitas apapun dengan mudah. Sebaliknya, ada lebih banyak lagi orang yang berada dalam serba keterbatasan tetapi mereka lebih bahgia dari kita. Jangan lupa bersyukur.


Bapak, Ibu... salam dari anak Lesten. Semangat mengajar, ya. Berkunjunglah ke tempat kami J.

Thursday, March 31, 2016

Apa Kabar SM3T???

Apa kabar SM3T?
Sudah beberapa waktu lamanya ndak posting apapun, rasanya rindu menulis dan rindu membaca tulisan sendiri. Kelak akan banyak yang terlupa dengan sendirinya karena faktor usia. Semanis apapun kenangannya, bila kita terus berlalu makan akan terlupa bila tanpa pemicu. Semoga setelah ini akan lebih rajin lagi.. mungkin ini janji yang keseribu kalinya atau bahkan lebih. Setidaknya kita berusaha.


Di penghujung Maret, semua baik-baik saja J

Tuesday, December 8, 2015

Cerita antara hujan dan ujian...



Hujan, sekotak ultra, di depan laptop… ahay. Ini semacam surga dunia. Ini adalah hari kedua ujian semseter untuk anak-anakku di sekolah. Tapi aku masih di rumah, bukan karena aku ini guru yang tidak baik, meskipun mungkin begitu.. tetapi karena ini masih pagi. Seperti biasa, aku sudah siap dan yang lainnya masih terlelap atau sedang bersiap-siap. Ketika sampai pad akalimat sebelum ini, aku teringat belum menggunakan sedikit parfum. Katanya wangi apel, tapi kiraku ini apel busuk.. tapi tetap saja aku suka, karena apel ini warnanya hijau.

Tepat pula ini adalah ujian untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Kewarganegaaran. Aku yang mengampu. Rasanya ingin segera selesai, turut pula aku mendoakan agar mereka bernilai baik sehingga tidak perlu remedial.. karena remedial adalah lambang belum berhasilnya aku sebagai guru. selain itu, egois juga aku supaya banyak berwaktu luang tanpa remedi itu. Ditambah lagi saat hujan seperti ini banyak setan menggodaku untuk berfikiran aneh-aneh. Syukurnya, sepertinya setan-setan itu telah kalah.

Berbahagialah aku yang sepagi ini sudah bisa duduk santai.. diam-diam menghirup udara pagi dan melihat ada burung gereja yang kedinginan mengendap masuk ke dalam dapur. Aku biarkan saja.. dia keluar. Lalu terbang masuk lagi, enah apa yang sedang ia cari. Burung gereja itu, bisa jadi sama denganku.. sedang memikirkan kebahagiaan pagi ini. Seketika aku ingat untuk berdoa. Bukankah ketika hujan adalah waktu dimana Tuhan banyak mengabulkan doa kita? Maka aku meminta, dan meminta, lalu meminta lagi… banyak hal yang aku pinta.

Aku mulai mendengarkan lagu dengan bantuan headset yang sebelah bagiannya sudah tidak berfungsi. Lagu-lagu yang pernah mengiringi beberapa adegan dalam hidupku atau hidup orang lain. Aku tidak merasa keberatan mengulang membayangkannya. Lain lagi dengan remedial ujian, anak-anak pasti akan sangat keberatan. Jadi aku mendoakan semoga sedikit saja dari mereka yang remedial.

Kotak ultra di samping kananku sudah aku kosongkan.. lalu aku terbayang adikku nan jauh di sana, sedang apakah ia? Dia selalu menjadi gadis kecilku hingga kapanpun kelak. Alit, tidak terlalu suka susu. Kemudian fikirku melayang jauh dan jauh lebih ke seberang sana, papa. Susu juga bukan yang papa sukai, papa lebih suka kopi.. dan sekarang papa lebih suka ibu itu.

Aku membayangkan setelah ujian anak-anak selesai dan selesai pula beberapa urusanku di semester ini. Aku akan menyempatkan waktu untuk pulang, untuk gadis kecilku. Semoga bertepatan dengan pengambilan hasil laporan belajarnya selama ini.. tidak pernah ada orangtua atau keluarganya yang datang ke sekolah untuk prestasi sederhana itu. Tentu kelak akan menjadi luka yang bisa saja diungkit olehnya. Aku harus melengkungkan garis bibirnya sehingga ia tersenyum.

Sudah aku bayangkan juga akan aku habiskan waktu liburan itu untuk hal-hal menyenangkan bersamanya di rumah. Kemudian ada pula sela-sela waktu yang akan aku persembahkan untuk seseorang yang telah ada dalam hatiku dan adapula aku dalam hatinya meskipun kami telah melalui banyak hal bahkan hingga hari ini. Akan aku perbaiki selagi aku masih bisa. Akan aku tunaikan janjiku di kemudian hari untuknya.

Aku terhempas, kembali ke depan laptop. Hujan belum reda, sebentar lagi waktunya berangkat ke sekolah. Masih ada waktu untuk membayangkan? Masih boleh berdoa? Duh, retoris. Ini kan untukku sendiri, tentu saja aku tidak perlu menjawab, apalagi engkau.. jangan dijawab, aku sudah tahu jawabannya. Boleh.

Ibu, Kasih, dan Kasih Sayang Ibu


“Ibu, Kasih sayang , ibu!”
“Iya, nak. Ibu pun sayang Kasih”
…………….
Eh. Apa barusan itu yang dia maksudkan? Dia bilang sayangi akukah? Atau dia hanya merasa kata kasih ditambah sayang akan menjadi kata dengan keindahan luar biasa? dan Kasih adalah namanya.

Kasih, ketika aku menuliskan ini, mungkin ia sedang terlelap atau juga dia sudah terbangun dan sibuk beribadah dan melakukan pekerjaan anak-anak seusianya di kampung ini, membantu orang tua atau antri mandi di kamar mandi menasah dekat rumahnya. Menasah mungkin sebentar lagi mulai agak ramai oleh jamaah yang masih ingat pada seruan Tuhan untuk melaksanakan kewajibannya, semua orang di sini mengaku beragama Islam. Sekarang pukul 04.14 WIB.

Tempat ini ribuan kilometer jauhnya dari tanah Papua. Entah mengapa pula Kasihku itu bisa berhitam kulit dan berkeriting rambut seperti layaknya saudara kita nun jauh di ujung Timur sana. Adakah generasi di atasnya yang mewariskan? Ternyata tidak juga. Kasih bilang, “Aku sering main panas, bu”, tanpa menjawab mengapa rambutnya keriting.

Masih kelas satu SMP dan dia sudah begitu hebat, menurutku. Bukan karena sekolah adalah sama-sama rumah kedua bagi kami, bukan pula karena sekarang aku adalah ibu kedua untuknya. Tetapi lebih karena garis takdir.. dari sekian banyak anak, toh Kasih yang aku ceritakan.

Sekolah kami tidak baik diberi label tertinggal. Fasilitas cukup lengkap, meskipun anak-anak belum bisa belajar komputer karena tidak ada. Perpustakaan dengan buku berserakan dan debu hampir di setiap bukunya, mereka masih malas membaca. Memang di sekolah ini.. di kampung ini… sebaiknya aku sampaikan bahwa di Kecamatan dengan sembilan desa yang empat di antaranya tersebar jauh, sangat jauh ini belum mengenal “jaringan”. Beberapa orang mendambakan jaringan untuk kemudahan hidup dan berkomunikasi dengan dunia luar. Tetapi ada pula yang menentangnya dengan alasan… berbagai alasan yang intinya dianggap akan merugikan mereka di kemudian hari.

Nah, tidak ada sinyal operator seluler berarti susahkah? Sama sekali tidak, karena dalam keterbatasan maka akan muncul ide-ide dan cara adaptasi yang hebat. Nayatanya undangan pernikahan tetap akan kita teriama dari ujung kampung sana meski kita di ujung lainnya lagi. Belum lagi kabar duka. Tambah lagi kabar duka yang menjadi suka bagi rang lain, wah, itu sudah barang tentu akan menjadi kabar yang segera menyebar, gosip.

Tempat tinggal Kasih lebih jauh lagi dari “jaringan”. Bukan hanya sinyal, tetapi jalan dan juga listrik. Namanya Lesten. Katanya sekarang sedang gencar dilakukan pembangunan, terutama pembuatan jalan. Sebelumnya di sana telah pula ada listrik dari tenaga surya, sayangnya belum dimanfaatkan secara bijak dan telah dimanfaatkan dengan sangat maksimal. Maka hasilnya adalah beberapa panel penangkap panas sudah rusak.

Untuk menuju Pining, kampung kami sekarang ini. Konon, Kasih dan warga Lesten lainnya harus berjalan kaki, kecuali mereka memiliki kendaraan roda dua yang sudah berlapis rantai pada kedua rodanya dan ada jonder maka mereka tidak perlu sering-sering jalan kaki. Jonder jangan diabayangkan sebagai kendaraan mewah atau bahkan kendaraan lapis baja seperti hendak perang. Bayangkanlah jonder  sebagai alat berat dengan empat roda yang sangat besar dan tinggi, seperti di lahan pertanian atau perkebunan di negeri Barat sana. Lalu untuk kembali menuju Lesten akan menghabiskan lebih banyak waktu lagi, karena jalannya menanjak. Sembilan jam, jangan dibayangkan.

Tapi tawa Kasih selalu seperti tanpa beban. Mungkin memang karena usianya yang memang masih pada perkembangan anak-anak, tetapi tidak ingin aku disalahkan bila aku menebak dan menilai itu karena kedewasaannya. Kasih sudah punya cerita yang mungkin belum pernah kita alami, aku pun belum pernah. Dia memang tidak cemerlang dalam pelajarannya. Tidak pula pendiam. Bahkan bila aku benar-benar tidak pernah bertanya dan menutup mata, maka Kasih adalah anak nakal.

“Kasih di sini tinggal tempat siapa?”
“Pak Gecik, bu. Yang di depan pohon besar itu, bu. Pernah ibu kan lihat Kasih di situ, bu?”
Oyale, ibu panggil Kasih waktu itu. Siapa yang di Lesten?”
“Mamakku, bu. Dengan nenek”
“Bapakmu di sini?”
“Sudah enggak  adalah lagi bapakku, bu”
…..
Kemanakah bapakmu, nak? Tidak perlu aku bertanya dia sudah pula akan menjawab. Sebenarnya ingin aku cegah, takut melukai hatinya karena terkenang pada masa yang telah lalu. Tetapi aku juga merasa perlu tahu, bukankah aku sekarang adalah ibunya.. begitu kubesarkan hatiku.

Lelaki itu sudah pergi sejak Kasih masih dalam kandungan. Katanya ia pergi mencari burung di hutan. Nyatanya ia tak pernah kembali hingga suatu hari setelah Kasih lahir dan faham benar siapa mamak dan siapa bapak bagi seorang anak, tersiar kabar bahwa ada yang sempat melihat sang bapak di kota lain, masih di negeri ini, Kota Cane. Namun Kasih dan mamaknya tidak ambil pusing, mereka bahkan menganggap lelaki itu telah berpulang kepada-Nya. Sempat pula aku bertanya apakah mamaknya menikah lagi? Dengan senyuman bangga seolah dia telah menjaga kehormatan sang mamak, “Aku enggak bolehkan mamakku nikah lagi, bu”. Lalu aku simpulkan, bukan hanya anakku ini saja yang hebat, tetapi mamaknya juga kuat.

Kasih tentu mengingatkanku dan kita pada lagi tentang ibu, Kasih Ibu. Mengingatkan pada terimakasih. Mengingatkan pada Yang Maha Pengasih. Dan kelak Kasih akan selalu mengingatkan aku pada kampung ini, sekolah ini, dan semua yang akan berlalu pada masanya nanti. Aku tidak banyak berharap pada perkembangan belajar Kasih, dia cukup aktif meskipun beberapa pertanyaan yang ia lontarkan di kelas acapkali bukan pertanyaan yang pada tempatnya, tetapi kan tetap saja dia sudah berani unjuk gigi. Meskipun demikian sudah semestinya aku menaruh harap, aku ini ibunya.. aku berharap, kelak ia lulus hingga SMA dan mengabariku hendak berjuang di Kota lain untuk kuliah atau bekerja yang bukan sekedar menunggu durian atau manggis atau bahkan yang sangat aku takutkan.. menanam ganja. Allah melindungimu, nak. Melindungi kita semua. Aamiin.

Tuesday, November 24, 2015

Satu Hati Dua Cinta



Tentang satu hati dua cinta. ini obrolan yang rada berat.. kalau kamu ndak yakin otakmu bisa mencerna bahan ini, sebaiknya jangan diteruskan. Tapi bila engkau penasaran, maka diperbolehkan terus membaca dan banyak bertanya tanpa jawaban. Tanya aku, karena ini dari otakku, jangan percaya yang lain.. apalagi pilih yang lain, karena yang lain belum tentu setia. Jadi pilihlah aku.

Satu pragraf saja sudah ndak jelas apa yang akan dan telah dibicarakan. Maklumilah.

Setiap manusia lahir di dunia dengan dibekali hati. Hati yang dengan mudahnya dapat dibolak-balikkan oleh sang pemilik hati. Bila dia yang sangat engkau cintai di dunia ini berkata “Biar aku yang jaga hatimu” atau “Jaga hatimu yaa”, berarti kita berdua belum saling memahami dan masih sok jago. Hati kita ini milik siapa? Belum lagi bila hati kita ingin mendua.. kloning saja.

Hati katanya sudah dijodohkan dengan hati lainnya hingga bisa menjadi satu. Lalu mungkinkah peristiwa satu hati dua cinta itu mungkin terjadi?

Kita bahas dulu cinta itu apa..?

Berdasarkan pengalaman hidup selama sekitar 23 tahun lebih, ada beberapa waktu yang aku habiskan untuk membahas masalah cinta. Cinta pada Tuhan, cinta pada kedua orang tua, cinta tanah air, cinta monyet, cinta buta.. dan cinta kamu. Maka supaya tidak menimbulkan fitnah, mari kita bahas aku saja tanpa analogi. Karena aku adalah contoh ideal dari isi otakku.

Aku punya satu hati.. sudah terisi penuh. Lalu tanpa rencana dan tanpa aba-aba aku akan menambahkan banyak hal lagi. Ah, sesuatu.. ke dalam hatiku. Nah, menurut para ahli *ahlibicara* itu artinya aku sedang mendua, sedang berbuat kejahatan, bahkan aku disebut sebagai pengkhianat. Aku diam saja, belum waktunya untuk menjawab.
Lalu sesuatu itu benar-benar telah masuk ke dalam hatiku, seperti halnya yang lain yang telah ada di dalam hatiku sebelumnya. Lagi-lagi para ahli *kaliiniahlituduh* mulai menaikkan alisnya dan menarik garis bibir mencibir. Dasar tak pandai bersyukur!. Kemudian aku mulai tertarik untuk menjawab bahkan membahasnya…

Seperti halnya kesabaran yang ndak ada batasnya, hati ndak begitu. Kalau hati terlanjur rusak.. konon bisa merusak diri kita seutuhnya. Boleh hati diisi dengan banyak hal? Nanti kalau rusak bagaimana? Boleh! Dan ndak bagaimana-bagaimana. Hati ini bukan milik kita.. Tuhan menggenggamnya. Tugas kita memang mengisinya. Baik atau buruk dan berapapun banyaknya hati itu kita isi, itu tanggungjawab kita yang telah memilih memasukkannya.

Tentang mendua, jahat dan berkhianat..  bagaimana? Bahkan sejak kita memasukkan hal lain selain tentang Tuhan, kita telah berkhianat lebih dari apapun. Tapi, justru itu artinya kita sedang bersyukur.. menikmati banyak hal ciptaan Tuhan. Meskipun tidak seharusnya lalu dimasukkan ke dalam hati.

Sudah sejauh ini.. apakah engkau sedang berfikir aku adalah perempuan berdosa biasa yang berkeksasih lalu aku mendua, jahat, dan berkhianat? Mungkin saja iya. Tapi isi hati dan otak kita nyata berbeda. Ini tentang anak-anakku.

Anak-anakku. Mereka tidak terlahir dari rahimku, bukan aku yang menyusui, bukan aku yang menderita ketika mereka sakit dan menangis.. bukan aku pula yang turut bangga ketika mereka tertawa karena berhasil berdiri setelah jatuh. Itu semua bukan aku yang melakukannya. Tapi mereka memanggilku IBU.

Lalu hatiku yang sudah terisi sebelumnya.. akan aku isi lagi. Apakah Tuhan akan marah kepadaku? Tentu saja tidak! Kali ini aku percaya diri, karena banyak nda dan noktah lain yang pernah terlanjur aku masukkan ke dalam hati.. Tuhan akan lebih marah tentang hal itu. Baiklah, sekarang aku akan lebih percaya diri ketika kalian memanggilku “Ibu”.

Apakah anakmu mau memanggilku, ibu?
Aku lebih senang dipanggil Bunda...

Saturday, September 5, 2015

Balada SM3T - SMPN 1 Pining Kab. Gayo Lues

Balada atau balado? Enaknya balado tetapi sebaiknya balada.. ini kisah tentang guru muda (23 tahun masih muda kan?)

Setelah mengikuti proses yang dapat dikatakan cukup lama dan telah pula melalui beberapa tahap. Akhirnya saya diberangkatkan sebagai salah satu peserta program SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) dari Kemenristek Dikti. Pemberangkatan dilakukan serentak dalam waktu yang telah ditentukan sejak awal, yaitu tanggal 17 – 22 Agustus 2015. Perbedaan jadwal keberangkatan dikarenakan harus menyesuaikan dengan sarana transportasi yang akan kami gunakan. Misalnya saja untuk menuju daerah sasaran yang berada di wilayah Timur Indonesia tidak setiap saat ada layanan penerbangan, kami diberangkatkan melalui perjalanan udara menuju titik terdekat daerasah sasaran. Kemudian beberapa di antara kami masih harus melanjutkan perjalanan darat yang cukup jauh, termasuk saya. Lainnya bahkan ada pula yang masih melanjutkan lagi melalui jalur air baik laut maupun sungai. Saya berangkat dari Yogyakarta pada tanggal 19 Agustus 2015.

Kemana saya berangkat? Saya ditempatkan di Kab. Gayo Lues Provinsi Aceh atau Nangro Aceh Darussalam. Tanah Rencong...

Sebagai lulusan dari Jurusan Pendidikan Geografi tentu sudah menjadi naluri saya untuk langsung membuka peta dan membaca kontur yang kemudian saya lanjutkan untuk mencari referensi lainnya dalam artikel dan publikasi lainnya. Ibarat kata tentara itu harus punya senjata maka geografi juga harus punya peta.. saya mencari Gayo Lues di dalam peta. Ternyata tidak saya temukan nama Gayo Lues di dalam peta tersebut. Akan tetapi saya tidak terlalu terkejut, karena peta yang saya miliki adalah terbitan lama.. bisa jadi telah ada pemekaran atau perubahan nama daerah.

Kab. Gayo Lues nyatanya memang kabupaten yang baru dibentuk pada tahun 2002 dengan Blangkejeren sebagai ibu kota kabupaten. Berdasarkan informasi yang saya kutip dari buku “Sentan Ku Panang Gayo Lues Qu” karya putra derah Gayo Lues yaitu Zulkifli, S.Pt., dijelakan bahwa Kab. Gayo Lues berada pada 96˚ 43’ 24” - 97˚ 55’ 24” BT dan 3˚ 16’ 55” LU dengan elevasi antara 400 – 1200 m dpl. Terdiri dari 11 kecamatan, 25 mukim, dan 144 desa.

Saya berangkat bersama 66 orang teman lainnya dari lembaga penyelenggara atau LPTK Universitas Negeri Yogyakarta dan didampingi oleh tiga orang dosen yang akan menyerahkan kami kepada pemerintahan setempat untuk mengabdi selama satu tahun. Selain untuk mengantarkan kami, beliau para dosen juga bertugas untuk menjemput guru program SM3T angkatan sebelum kami. 67 orang termasuk saya, diterima dengan baik dan diberikan jaminan rasa aman dan hangatnya kekeluargaan pada saat itu.

Tentu saja kami para guru ini tidak akan berkelompok di dalam satu wilayah saja. Kami mendapat SK dari dinas pendidikan Kab. Gayo Lues untuk ditempatkan di sekolah-sekolah yang berbeda, untuk jenjang SD tentunya hanya satu guru dalam satu sekolah. Tetapi untuk jenjang SMP dan SMA/K jumlah guru yang ditugaskan adalah 1 – 3 orang karena disesuaikan dengan mata pelajaran yang dibutuhkan dan untuk kedua jenjang tersebut, mata pelajaran yang harus dikuasai oleh peserta didik lebih beragam.

Saya dan 6 orang lainnya ditempatkan di Kecamatan Pining. Tepatnya saya harus mengajar di SMPN 1 Pining. Kecamatan Pining merupakan wilayah kecamatan terluas di Kab. Gayo Lues, yaitu 1617,14 Km² dengan jarak menuju kabupaten yang paling jauh dibanding kecamatan lainnya yaitu 55 Km. Tetapi Kec. Pining juga merupakan salah satu kecamatan dengan total desa yang hanya sedikit, yaitu 9 desa. Luasnya wilayah itu merupakan hutan dan perbukitan. Karena topografi yang demikian itulah tidak semua wilayah dapat dimanfaatkan untuk pemukiman. Sehingga jarak antar satu desa dengan desa lainnya juga berjauhan.

Tentang Aceh, yang saya dambakan untuk menuju Aceh adalah “Leuser”. Mimpi saya sejak lama bahwa saya akan mendaki Leuser dan kembali pulang dengan penuh syukur. Kab. Gayo Lues sebagian wilayahnya termasuk ke dalam daerah suaka Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Dapatkan kalian bayangkan betapa saya sudah begitu dekat dengan mimpi saya selama ini?.


Terhitung mulai tanggal 20 Agustus 2015 saya sudah berada di Pining. Lalu balada ini akan saya mulai dengan mesra bersama anak-anakku, rekan kerja, orang tua/guru, warga setempat, dan yang selalu bersamaku.. alam Gayo Lues.
 

Notes Of Gea Template by Ipietoon Cute Blog Design