Showing posts with label covid19. Show all posts
Showing posts with label covid19. Show all posts

Wednesday, January 27, 2021

Jangan Ada Dusta di Antara Kita

    Aku kalau mau berangkat sekolah, selalu malas untuk mandi. Karena pagi-pagi airnya selalu dingin, sarapannya juga nasi dingin sisa tadi malam. Kadang ibuku menggorengkan telur mata sapi yang pinggirnya agak gosong, tidak cantik seperti yang ada di iklan televisi. Tapi aku tetap harus mandi dan harus makan juga, kata ibuku supaya aku jadi anak pintar.

    Setiap pagi aku akan bercermin sambil menyisir rambut, mengikuti gaya rambut ayahku. Kata ayah, laki-laki harus rapi dan wangi supaya bisa jadi orang hebat. Di cermin mukaku tampak jadi ada tiga, karena cermin kecil yang terselip di dekat jendela itu retak. Sudah berbulan-bulan lalu jatuh dan beberapa bagiannya pecah, yang menjatuhkan tentu saja ayah sebagai yang paling sering bercermin di rumah ini. Sampai hari ini belum juga diganti dengan yang baru. Ibuku bilang, buat apa diganti? Toh masih bisa dipakai.

   Tidak seperti teman-teman lain yang diantar pakai mobil, ayah mengantarku ke sekolah menggunakan sepeda motor. AKu pakai seragam dan ayah pun juga. Seragam ayah sangat aman, jaket tebal yang resletingnya tertutup sampai ke dekat leher, ayah juga pakai sarung tangan, pakai sepatu meski tidak pakai kaos kaki. Kadang-kadang di jalan aku juga melihat orang-orang yang pakai seragam seperti ayah, bahkan helm yang mereka pakai juga sama dengan yang ayahku pakai. Pemandangan itu rasanya tidak mengurangi udara pagi yang sangat dingin. Untung saja ayahku badannya lebih lebar, atau mungkin tepatnya badanku yang masih kecil, jadi aku bisa berlindung di punggung ayah. Kadang aku peluk erat ayah dari belakang, untuk mengukur panjang tanganku sudah bertambah atau belum. Tapi kata ayah, panjang tangan itu bukan hal yang baik.

    Sebentar lagi ujian kenaikan kelas. Tiba-tiba kami harus pindah ke desa karena listrik di rumah kami sudah beberapa hari ini mati, air juga tidak mengalir. Aku memang malas mandi pagi, tapi ternyata aku malu kalau datang ke sekolah tapi tidak mandi. Ibuku juga sudah tidak pernah lagi menggorengkan aku telur. Kata ibu supaya aku tidak bosan, maka harus makan protein nabati juga karena telur termasuk protein hewani. Jadilah hampir seminggu ini aku makan nasi dengan lauk kecap. Rasanya manis, aku suka sekali dengan kecap. Sedangkan ayah katanya perlu banyak tenaga, jadi ayah harus banyak makan nasi dan tidak perlu lauk tambahan. Ibuku tentu saja puasa untuk mendekatkan diri pada sang maha pencipta.

    Hari kepindahan sudah ditentukan. Aku sangat sedih harus berpisah dengan teman-teman dan guru-guruku di sekolah. Mereka memberiku hadiah perpisahan, yaitu buku-buku pelajaran karena kata guruku di desa nanti jarang ada yang menjual buku. Aku juga mendapat hadiah mobil remote control dari teman-teman, canggih dan menggunakan baterai. Pasti aku akan mainkan setiap hari, supaya aku tidak kesepian sesampainya nanti di desa. Kami juga berjanji akan terus menjadi teman, tidak sombong, tidak melupakan, dan akan bertemu lagi nantinya. Aku melangkah keluar meninggalkan kelas, sangat berat rasanya. Aku menoleh ke belakang, pintu kelas sudah ditutup dan kudengar suara riuh teman-temanku mengobrol, tertawa, dan ada yang berteriak seperti biasanya. Ayah dan ibuku mengusap kepalaku dan memberikan semangat, mereka bilang di desa juga ada sekolah dan akan ada teman-teman yang baru, jadi aku tidak perlu khawatir.

    Sekarang, sudah satu bulan aku tinggal di desa. Ayah sudah mendapat pekerjaan yang baru, bahkan ibu juga ikut membantu. Seragam kerja ayah kali ini berbeda. Ayah cukup memakai celana pendek dan kaos oblong saja. Sementara ibu menggunakan pakai yang dipakainya tidur tadi malam, kadang-kadang pakai dress, piyama, celana olahraga dan kadang-kadang pakai celana pendek punya ayah. Aku berangkat sekolah dengan berjalan kaki, kata ayah supaya otot kakiku kuat dan ayah tidak boleh mencemari udara di desa dengan asap kendaraan sehingga ayah harus meninggalkan sepeda motornya di kota. Aku juga sudah punya teman-teman baru disini, kami bermain bersama setiap pulang sekolah. Selalu ada saja yang kami lakukan, menangkap belalang dan memasukkannya ke dalam botol bekas air mineral, mencari belut, mandi di sungai, bahkan menerbangkan layangan juga kami lakukan. Sangat seru. Aku tidak punya waktu lagi untuk memainkan mobil remote control pemberian teman-temanku dulu.

    Tapi teman-temanku jarang mandi. Kukunya kotor dan badannya bau. Seragamnya juga kotor dan warnanya tidak putih seperti yang aku pakai. Mereka belum lancar membaca dan jarang masuk sekolah. Kata Pak Guru rumah mereka jauh dari sekolah, atau hari ini sungai meluap sehingga mereka tidak bisa datang ke sekolah, atau mereka harus menjaga hewan ternak karena ayahnya sedang sakit, atau sedang ada panen raya di daerah mereka. Aku iri pada mereka, aku tidak bisa melakukan apa yang mereka lakukan. Aku selalu datang setiap hari ke sekolah, setiap ada tugas dari guru selalu aku kerjakan dengan mudah, dan aku juga harus mandi setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah. Rasanya sesekali aku ingin seperti mereka, tidak perlu datang ke sekolah.

    Semenjak tinggal di desa, kulit ayah semakin legam. Kata ayah itu tandanya lelaki perkasa. Ibu hanya akan tertawa saja menanggapi perkataan ayah. Aku senang bisa berkumpul bersama keluarga, apalagi ibuku sangat pintar dan kreatif. Setiap hari menu makanan kami selalu berubah dan baru aku rasakan sekarang makanan itu. Kata ibu merebus keladi untuk makan malam, merebus daun kelor dan diberi sedikit garam sebagai sayur, di akhir pekan kadang-kadang kami membakar sate keong dari sawah-sawah milik orang lain.

    Pernah ibuku bertanya, apakah aku ingin kembali ke kota? Tentu saja kujawab tidak. Lalu ibuku bertanya lagi, aku ingin apa? Kujawab, aku ingin menjadi seperti yang ayah dan ibu minta. Menjadi anak pintar, menjadi orang hebat, tidak khawatir pada apapun, menjadi lelaki kuat, dan menjadi lelaki perkasa. Maka dari itu aku sangat berusaha untuk selalu mandi dan makan pagi, bercermin setiap hari, bermain bersama teman-teman, senang berjalan kaki, dan menjadikan kulitku legam terbakar matahari. Aku ingin menjadi kebanggaan ayah dan ibu, seperti yang ayah dan ibu mau.

Tuesday, April 14, 2020

Covid-19 : Setelah Semua Ini Berlalu


Tiba-tiba saja anak-anak saya membahas tentang sugar daddy. Hal yang sangat mengejutkan, bukan berburuk sangka pada apa yang mereka lakukan tapi lebih pada sibuk dengan pikiran saya. Bagaimana mereka bisa tahu? Dari mana? Siapa yang memberitahu? Sejauh apa mereka tahu? Apalagi?. Sebenarnya menurut saya pribadi, bukan sepenuhnya hal buruk jika mereka tahu tentang itu, berpotensi menjadi bekal pengetahuan agar berhati-hati dalam pergaulan. Pun saya yang pertama kali tahu tentang kata-kata itu agak terkejut, ternyata ada orang yang melakukan hal seperti itu di luar sana.

Beberapa tahun yang lalu, saya belum lulus kuliah, calon guru. Harus diuji, benarkah siap menjadi guru? Maka dilakukan praktik mengajar di sekolah sungguhan, bertemu dengan anak-anak yang sebenarnya usianya tidak terpaut jauh dengan saya saat itu. Manusia dengan kepribadian yang labil, seketika tertawa terbahak sangat ceria, seketika marah tanpa bisa menjelaskan sebabnya, hingga tingkahnya yang begitu unik, membuat saya ingin mencari tahu dengan kata kunci… kenakalan yang mungkin dilakukan oleh remaja. 

Pada dasarnya saya berkeyakinan, obrolan hari ini hanya seputar candaan semata. Kemudian saya berpikir lebih jauh lagi dengan berbagai alternatif kemungkinan. Hampir satu bulan berlalu semenjak kegiatan belajar dan mengajar dilakukan secara daring karena Indonesia menjadi salah satu negara yang juga terkena dampak menyebarnya virus yaitu covid19. Saya mengamati kegiatan anak-anak tentu saja dari apa yang dapat dilihat dan juga sesekali ngobrol dengan mereka melalui media sosial. Tentu saja kita sebaiknya tidak langsung menilai dari apa yang kita lihat saja, namun tulisan ini dibuat karena keresahan saya sebagai orang tua. Maka saya berharap untuk siapapun yang sengaja ataupun tidak sengaja membaca tulisan ini, agar memaklumi pemikiran saya ini.

Saat ini saya adalah seorang guru di salah satu sekolah swasta di Pulau Jawa. Sekolah tempat saya sehari-hari bertemu dengan anak-anak sebelum covid19 menjadi pandemi, adalah sekolah dengan kegiatan ciri khas pembiasaan aktivitas keagamaan, dan juga termasuk full day school. Bisa karena biasa, kemudian juga telah turun temurun dikatakan bahwa lancar kaji karena diulang, pasar jalan karena diturut. Begitulah salah satu cara karakter anak dapat tumbuh, karena kegiatan yang dilakukan terus menerus sehingga ia akan terbiasa dan merasa ada yang kurang jika hal tersebut tidak dilakukan. Hal itu juga perlu pendampingan, agar anak mengerti maknanya dan bukan melakukannya atas dasar kebiasaan saja. Alangkah senangnya saya sebagai orang tua bila anak-anak tumbuh dengan pribadi yang baik dan mengenal Tuhannya dengan baik pula. Saya banyak menuliskan pendapat saya pada tulisan ini dengan sudut pandang latar belakang pendidikan dan kepercayaan yang saya anut.

Saya dan orang tua anak-anak di rumah saling membagi tugas, namun tentu saja bukan hal yang pantas bagi saya untuk menentukan porsi siapa yang seharusnya lebih besar. Karena kami juga punya tujuan dan harapan yang sama pada anak-anak. Sekarang kami sama-sama melakukan dan memberikan yang terbaik, dengan versi masing-masing. Anak juga menanggapinya dengan versi masing-masing.

Bagaikan air yang terus menetes pada sebongkah batu, lama kelamaan akan membuat cekungan pada batu tersebut. Kita juga seringkali mendengar bahwa salah satu metode menghafal adalah mengulanginya secara terus menerus selama beberapa kali. Saya juga pernah menonton film pendek yang menunjukkan bagaimana caranya seorang laki-laki supaya istiqamah untuk terus bangun pagi dan shalat berjamaah di masjid? Dan jawabannya adalah terus melakukannya selama 40 hari berturut-turut. Dalam sebuah lagu yang pernah cukup popular dinyanyikan oleh Mbah Surip, kegiatan bangun tidur dan tidur lagi sampai begitu seterusnya menjadi kebiasaan. Dari hal-hal tersebut saya ingin menyampaikan bahwa semua ini akan menjadi pola.

Selama semua orang di rumah aja, bekerja dari rumah, belajar di rumah, dan sebagainya, akan ada dampak berikutnya. Menurut saya, kita bukan saja sedang berjuang mengatasi covid19, tapi juga mengatasi diri sendiri terutama di kemudian hari. Covid19 akan berlalu, tapi pola dan karakter yang terbentuk menurut pendapat saya secara pribadi, bukan hal yang mudah untuk dirubah. Saya membayangkan, setelah semua ini berlalu (segera), akan banyak orang yang bergerak lebih lamban, malas mandi, ketergantungan pada gawai, kurang peka, dan lain-lain.

Semoga saja anak-anak yang menjadi harapan kita semua sebagai generasi penerus merdekanya bangsa ini, tidak menjadi seperti hal buruk yang saya bayangkan. Karena tetap saja, baik dan buruk itu selalu berdampingan. Saya juga mendapat kabar baik, bahwa selama belajar di rumah anak-anak menjadi lebih rajin memantu orang tua, bangun pada waktu sepertiga malam untuk berdo’a, membuat karya dengan memanfaatkan teknologi yang ada dan terus berusaha mengembangkannya.

Dalam kondisi yang mengkhawatirkan ini, saya melihat secercah harapan yang kemudian akan terang. Saya percaya.

Wednesday, April 8, 2020

Stratifikasi Sosial



Menurut Pitirim Sorokin, stratifikiasi sosial merupakan pembeda dalam masyarakat yang mengklasifikasikan masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial yang bersusun bertingkat. Wujud nyata dari stratifikasi sosial adalah pembagian kelas sosial atas, kelas sosial menengah, dan kelas sosial bawah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa stratifikasi sosial adalah tingkatan sosial dalam kehidupan masyarakat.

Dasar yang digunakan untuk menggolongkan masyarakat dalam stratifikasi sosial adalah kekayaan, kekuasaan, keturunan, dan Pendidikan. Stratifikasi sosial dapat dapat dilihat dari karakteristiknya yaitu:


  • 1.       Adanya perbedaan dalam kemampuan dan kesanggupan
  • 2.       Adanya perbedaan dalam gaya hidup (life style)
  • 3.       Adanya perbedaan dalam hak-hak dan akses untuk memanfaatkan sumberdaya/fasilitas


Adanya stratifikasi sosial menjadikan masyarakat berada dalam kelompok yang berbeda-beda sesuai dengan kelasnya. Tampak akan menimbulkan dampak negative dalam penerapannya, namun ternyata stratifikasi sosial juga memiliki fungsi sebagai berikut:


  • 1.       Stratifikasi sosial menyusun alat bagi masyarakat dalam mencapai beberapa tugas utama
Perlu diingat bahwa stratifikasi sosial berarti adanya tingkatan dalam masyarakat, setiap golongan dalam masing-masing tingkatan memiliki tugas utama yang berbeda-beda.
Contohnya: kekuasaan seorang presiden memungkinkan untuk melakukan persetujuan kerjasama antarnegara. Kekuasaan seorang ketua RT tidak demikian besarnya. Ketua RT memiliki kekuasaan untuk mengatur kerukunan warga dalam cakupan wilayah kerjanya.

  • 2.       Stratifikasi sosial menyusun, mengatur, serta mengawasi saling hubungan di antara anggota masyarakat.
Dalam hal ini stratifikasi sosial berhubungan dengan partisipasi seseorang dalam kehidupan masyarakat. Adanya kesempatan untuk mengisi posisi tertentu.
Contohnya: berdasarkan tingkatan Pendidikan, seorang guru minimal berpendidikan jenjang S1 (sarjana), sedangkan untuk tenaga administrasi bisa juga minimal berpendidikan jengan D3 (ahli madya).

  • 3.       Stratifikasi sosial memiliki kontribusi sebagai pemersatu dengan mengoordinasikan serta mengharmonisasikan unit-unit yang ada dalam struktur sosial itu.
Ketika tingkatan sosial seseorang berbeda, maka fungsinya dalam kehidupan masyarakat juga berbeda. Fungsi peran yang berbeda akan membuat orang saling bekerjasama dan harmonis dalam kehidupan bermasyarakat karena saling melengkapi.
Contohnya: satu kelas hanya perlu satu orang ketua kelas, tetapi perlu dibantu oleh wakil ketua kelas, dan juga anggota kelas yang saling berkerjasama mengelola kelas.

  • 4.       Stratifikasi sosial dapat menyederhanakan dunia manusia dalam konteks saling berhubungan di antara mereka. 
Ada dua kelompok lagi yaitu kelompok primer dan kelompok sekunder. Dalam kelompok primer, fungsi ini tidak begitu penting karena semuanya saling mengenal secara dekat. Tetapi dalam kelompok sekunder, stratifikasi sosial dapat membantu untuk menetapkan aturan tingkah laku mana yang akan digunakan dalam berhubungan dengan orang lain.
Contohnya: Raja-raja dan keturunannya merupakan orang yang dihormati oleh rakyatnya. Dengan mengetahui bahwa seseorang tersebut adalah keturunan raja sedangkan kita adalah rakyatnya, maka kita dapat menentukan bersikap dan bertutur kata di depan orang tersebut.

Untuk lebih memahami materi tentang stratifikasi sosial, silahkan kerjakan soal berikut ini:
Kamu mungkin belum mengenal dengan baik semua anggota keluargamu, silahkan kumpulkan data dengan bertanya pada orang tua dan menghubungi sanak saudara. Adapun data yang perlu dikumpulkan adalah data nama, posisi dalam keluarga, dan tingkat pendidikannya, dimulai dari kakek dan nenek yaa.
Kakek, nenek, ayah, ibu, kakak ataupun adiknya ayah dan ibu, anak-anak dari kakak ataupun adik dari ayah dan ibumu, kaka dan adikmu. Semuanya. Sekalian tanya kabarnya juga ya.
Catat di buku tulismu, foto, dan kirimkan ke email guru antropologi.

Monday, March 30, 2020

Social Distancing


Tepat sudah 14 hari aku di rumah aja. Lusa sudah berganti menjadi April. Beberapa orang menghubungiku, bertanya tentang kabarku, kondisi disini, dan hal penting serta ndak penting lainnya. Hal yang agak sering kuterima adalah, kamu ndak bosan sendirian di rumah? Sini biar ndak bosan? Atau ayok ngobrol biar ndak bosan. Padahal biar kupikir bagaimanapun, aku sama sekali belum merasa bosan dengan kondisi sekarang ini.
Alhamdulillah, sehat dan baik. Begitu yang bisa kukabarkan. Namun kemudian kutambahkan juga, Alhamdulillah sehat dan ini baik nian, karena ternyata kondisi ini membuatku semakin banyak tahu hal yang tentu saja baru. Mungkin kalian juga begitu. Suka citaku saja yang boleh jadi lebih daripada kalian. Tentu saja kita harus tetap sama prihatin dan duka mendalam dengan adanya pandemi ini.
Selama masa social distancing begini, aku yang adaptif ya wajar saja kalau hasilnya begini. Tapi mungkin ini bisa meredakan isi kepalaku yang penuh dengan oh ternyata… kalau gini, gimana ya? Lalu kalau gitu? Ini apa sih? Dan lain sebagainya.
1.       Lockdown
Dari mulai yang bercanda sampai yang serius, aku percaya semua pada awalnya. Aku sempat merasa lockdown bukan hal yang sulit dilakukan. Tinggal suruh saja semuanya, kalau memang pemerintah begitu tinggi marwahnya, kan kami pun akan turut serta. Beberapa tulisan kubaca, sampai ndak kukira lagi banyaknya tulisan yang kubaca. Pada akhirnya aku simpulkan, oh ternyata ndak semudah itu.
Menutup semua akses berarti benar-benar harus sudah siap. Paling penting menurutku menyiapkan mental. Aku saja yang mengaku begini adaptif terhadap tempat baru, kondisi baru, nyatanya di awal masa work from home juga terkejut karena jam enam pagi sudah siap berangkat ke sekolah, padahal sudah saatnya di rumah aja, tubuh yang biasa bergerak tiba-tiba harus punya rutinitas baru, konon bisa menyebabkan stress bagi beberapa orang. Aku sempat juga khawatir, kalau gajiku dipotong bagaimana kondisi finansialku bulan ini? Sedangkan aku begitu tertib menuliskan apa yang akan dan yang ndak akan aku lakukan, beserta alternatifnya.
Kemudian ada kabar lockdown? Iya, dan yang diminta adalah lockdown Indonesia. Aku langsung terbayang geografi di kelas XI tentang ketahanan pangan, di semester genap ada mitigasi bencana, ada penelitian geografi di kelas X, rencana tata ruang wilayah di kelas XII, sebentar saja.. kepalaku langsung penuh. Lalu aku lupa dengan lockdown. Optimis kita bisa melalui ini semua.
Jadi aku ketika ditanya kabar, kujawab sehat dan baik. Ketika ditanya sudah nikah atau belum?, nah itu ku-lockdown kau.

2.       Zoom
Sekarang ini aku berkenalan dengan zoom untuk kali pertama. Iya aku tahu ada aplikasi yang namanya zoom berikut fungsinya. Tapi tahu saja memang benar ndak akan bisa mengerti. Selama anak-anak harus belajar di rumah, aku merasa jadi guru yang malas nian belajar selama ini. Padahal setiap malam aku selalu belajar. Belajar geografi, belajar perkembangan peserta didik, dan hal-hal hikmah lainnya yang akan aku bagikan pada anak-anak di kelas. Ternyata semakin hari, makin banyaklah yang belum aku tahu.
Intinya aku jadi tahu banyak media pembelajaran, banyak web keren yang isinya materi yang bagus untukku dan tentu saja bisa diakses juga oleh anak-anak. Tapi sejauh ini aku baru pakai zoom untuk ngobrol dengan teman-teman, rapat online, dan tentu saja dengan anak.
Untuk bapak dan ibu guru, bisa juga pakai google classroom yang ternyata di lapangan disingkat menjadi gcr. Menurutku gcr mudah dimengerti dan mudah diakses. Untuk kegiatan tatap muka bisa juga menggunakan google hangout, tapi pesertanya terbatas. Ada juga portal rumah belajar dari kemendikbud, yang sayangnya menurutku sulit diakses (aku yang agak ndak sabar), payah juga untuk anak-anak buat akun di kelas maya. Quizziz yang seru nian, warna-warni menarik seperti juga halnya kahoot. Kemudian ada webex, tapi aku belum pernah coba.
Mungkin setelah pandemic covid19 ini berlalu, aku bisa minta keluarga untuk pasang aplikasi zoom dihandphone atau laptopnya, jadi kami bisa ramai-ramai ngobrol ndak bergantian video call lewat WhatsApp.

3.       Cuci Tangan
Ini bukan cuci tangan seperti lempar batu sembunyi tangan ya. Sebelum masa work from home ini, aku sudah lumayan tertib cuci tangan. Tapi ndak pakai sabun. Ya pakai kalau ada, tapi di sekolah kadang ndak ada juga sabunnya dan aku juga ndak bawa sabun cuci tangan ke sekolah. Setiap setelah pakai kaos kaki, aku akan cuci tangan. Mau makan juga cuci tangan, walau makannya pakai sendok. Sebelum mengajar dan setelah mengajar. Jadi dengan cuci tangan ini aku ndak terlalu terkejut.
Aku tahu lho cuci tangan yang baik dan dibenarkan itu bagaimana. Tapi jarang aku praktikkan karena selama ini cuci tangan bagiku adalah kebiasaan. Sedangkan saat ini cuci tangan meningkat menjadi kebutuhan.
Kubaca di tirto,
Cuci tangan merupakan langkah mudah dan aman untuk melindungi diri dari virus corona COVID-19, tetapi tidak banyak yang tahu bagaimana cara mencuci tangan yang benar. Berikut tata cara mencuci tangan yang direkomendasikan WHO.
·         Basahi tangan dengan air.
·         Tuang sabun pada tangan secukupnya untuk menutupi semua permukaan tangan.
·         Gosok telapak tangan yang satu ke telapak tangan lainnya.
·         Gosok punggung tangan dan sela jari.
·         Gosok punggung jari ke telapak tangan dengan posisi jari saling bertautan.
·         Genggam dan basuh ibu jari dengan posisi memutar.
·         Gosok bagian ujung jari ke telapak tangan agar bagian kuku terkena sabun.
·         Gosok tangan yang bersabun dengan air mengalir.
·         Keringkan tangan dengan lap sekali pakai

4.       Hoax
Kemarin ditanya, kamu kenapa sih anti nian sama berita hoax? Ya apa iya itu harus aku jawab juga?. Bukan hanya satu dua tulisan yang aku baca sejak lama tentang dampaknya menyebarkan berita hoax, belum lagi ujaran kebencian. Sekolah kami di Pining, pernah kulihat guru-gurunya sampai membuat video kampanye menentang hoax. Sayang nian aku sudah ndak ada disana waktu video itu dibuat.
Banyak berita yang mantap nian judulnya, baik tata kalimatnya, mendayu, syahdu, mengiris hati, mendobrak semangat, ternyata hoax. Sementara bersamaan dengan itu adalah fitnah, dusta, dan memecah belah persatuan.
Pernah juga karena malas membaca dan ndak teliti, aku meneruskan berita hoax. Rasanya malu, kesal, dan menyesal. Padahal mudah saja aku cek, banyak fasilitas untuk mengecek apakah berita itu fakta atau hoax, aku pernah cari dan itu bisa dilakukan di stophoax.id.

Selain empat hal yang ingin kutekankan itu, aku juga berusaha lebih menghargai momen di rumah aja. Bisa telpon keluarga setiap saat tanpa bilang “Nanti yaa, sekarang mau ngajar dulu”. Menjaga jarak, apalagi dengan yang ndak halal tu kan. Jadi lebih memperhatikan Indonesia daripada hari sebelumnya. Menyimak kajian pranikah dengan tenang dan ndak malu kalau senyum-senyum sendiri. Jadwalku padat dan aku ndak merasa bosan.
Banyak hal yang bisa dilakukan selama di rumah aja. Dinikmati dan disyukuri. Untuk orang-orang yang bahkan sampai kehilangan pekerjaannya karena masa ini, boleh jadi itu terasa berat, maka kuharapkan dengan khusyuk, semoga Allah gantikan dengan yang lebih baik dan penuh keberkahan. Pada masa ini ada orang-orang yang kehilangan anggota keluarganya, semoga lapang hatinya dan terus laju semangat hidupnya. Untuk yang masih memaksakan diri untuk ndak turut serta menjaga jarak dan memutus rantai pandemi padahal ndak perlu pula ia berlalu-lalang di luar sana, ndak kah kau itu tega nian?.

===
Kutulis ini karena…
  1. Beginikah rasanya jaga jarak?
  2. Terketuk keyboardku, karena pertanyaan dari kakak o
  3. Ini adalah tulisan khusus untuk kakak o yang sedang belajar sejarah padahal dia guru geografi
  4. Aku rindu anak-anakku
  5. Di rumah aja!



 

Notes Of Gea Template by Ipietoon Cute Blog Design