Showing posts with label hikmah. Show all posts
Showing posts with label hikmah. Show all posts

Wednesday, January 27, 2021

Jangan Ada Dusta di Antara Kita

    Aku kalau mau berangkat sekolah, selalu malas untuk mandi. Karena pagi-pagi airnya selalu dingin, sarapannya juga nasi dingin sisa tadi malam. Kadang ibuku menggorengkan telur mata sapi yang pinggirnya agak gosong, tidak cantik seperti yang ada di iklan televisi. Tapi aku tetap harus mandi dan harus makan juga, kata ibuku supaya aku jadi anak pintar.

    Setiap pagi aku akan bercermin sambil menyisir rambut, mengikuti gaya rambut ayahku. Kata ayah, laki-laki harus rapi dan wangi supaya bisa jadi orang hebat. Di cermin mukaku tampak jadi ada tiga, karena cermin kecil yang terselip di dekat jendela itu retak. Sudah berbulan-bulan lalu jatuh dan beberapa bagiannya pecah, yang menjatuhkan tentu saja ayah sebagai yang paling sering bercermin di rumah ini. Sampai hari ini belum juga diganti dengan yang baru. Ibuku bilang, buat apa diganti? Toh masih bisa dipakai.

   Tidak seperti teman-teman lain yang diantar pakai mobil, ayah mengantarku ke sekolah menggunakan sepeda motor. AKu pakai seragam dan ayah pun juga. Seragam ayah sangat aman, jaket tebal yang resletingnya tertutup sampai ke dekat leher, ayah juga pakai sarung tangan, pakai sepatu meski tidak pakai kaos kaki. Kadang-kadang di jalan aku juga melihat orang-orang yang pakai seragam seperti ayah, bahkan helm yang mereka pakai juga sama dengan yang ayahku pakai. Pemandangan itu rasanya tidak mengurangi udara pagi yang sangat dingin. Untung saja ayahku badannya lebih lebar, atau mungkin tepatnya badanku yang masih kecil, jadi aku bisa berlindung di punggung ayah. Kadang aku peluk erat ayah dari belakang, untuk mengukur panjang tanganku sudah bertambah atau belum. Tapi kata ayah, panjang tangan itu bukan hal yang baik.

    Sebentar lagi ujian kenaikan kelas. Tiba-tiba kami harus pindah ke desa karena listrik di rumah kami sudah beberapa hari ini mati, air juga tidak mengalir. Aku memang malas mandi pagi, tapi ternyata aku malu kalau datang ke sekolah tapi tidak mandi. Ibuku juga sudah tidak pernah lagi menggorengkan aku telur. Kata ibu supaya aku tidak bosan, maka harus makan protein nabati juga karena telur termasuk protein hewani. Jadilah hampir seminggu ini aku makan nasi dengan lauk kecap. Rasanya manis, aku suka sekali dengan kecap. Sedangkan ayah katanya perlu banyak tenaga, jadi ayah harus banyak makan nasi dan tidak perlu lauk tambahan. Ibuku tentu saja puasa untuk mendekatkan diri pada sang maha pencipta.

    Hari kepindahan sudah ditentukan. Aku sangat sedih harus berpisah dengan teman-teman dan guru-guruku di sekolah. Mereka memberiku hadiah perpisahan, yaitu buku-buku pelajaran karena kata guruku di desa nanti jarang ada yang menjual buku. Aku juga mendapat hadiah mobil remote control dari teman-teman, canggih dan menggunakan baterai. Pasti aku akan mainkan setiap hari, supaya aku tidak kesepian sesampainya nanti di desa. Kami juga berjanji akan terus menjadi teman, tidak sombong, tidak melupakan, dan akan bertemu lagi nantinya. Aku melangkah keluar meninggalkan kelas, sangat berat rasanya. Aku menoleh ke belakang, pintu kelas sudah ditutup dan kudengar suara riuh teman-temanku mengobrol, tertawa, dan ada yang berteriak seperti biasanya. Ayah dan ibuku mengusap kepalaku dan memberikan semangat, mereka bilang di desa juga ada sekolah dan akan ada teman-teman yang baru, jadi aku tidak perlu khawatir.

    Sekarang, sudah satu bulan aku tinggal di desa. Ayah sudah mendapat pekerjaan yang baru, bahkan ibu juga ikut membantu. Seragam kerja ayah kali ini berbeda. Ayah cukup memakai celana pendek dan kaos oblong saja. Sementara ibu menggunakan pakai yang dipakainya tidur tadi malam, kadang-kadang pakai dress, piyama, celana olahraga dan kadang-kadang pakai celana pendek punya ayah. Aku berangkat sekolah dengan berjalan kaki, kata ayah supaya otot kakiku kuat dan ayah tidak boleh mencemari udara di desa dengan asap kendaraan sehingga ayah harus meninggalkan sepeda motornya di kota. Aku juga sudah punya teman-teman baru disini, kami bermain bersama setiap pulang sekolah. Selalu ada saja yang kami lakukan, menangkap belalang dan memasukkannya ke dalam botol bekas air mineral, mencari belut, mandi di sungai, bahkan menerbangkan layangan juga kami lakukan. Sangat seru. Aku tidak punya waktu lagi untuk memainkan mobil remote control pemberian teman-temanku dulu.

    Tapi teman-temanku jarang mandi. Kukunya kotor dan badannya bau. Seragamnya juga kotor dan warnanya tidak putih seperti yang aku pakai. Mereka belum lancar membaca dan jarang masuk sekolah. Kata Pak Guru rumah mereka jauh dari sekolah, atau hari ini sungai meluap sehingga mereka tidak bisa datang ke sekolah, atau mereka harus menjaga hewan ternak karena ayahnya sedang sakit, atau sedang ada panen raya di daerah mereka. Aku iri pada mereka, aku tidak bisa melakukan apa yang mereka lakukan. Aku selalu datang setiap hari ke sekolah, setiap ada tugas dari guru selalu aku kerjakan dengan mudah, dan aku juga harus mandi setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah. Rasanya sesekali aku ingin seperti mereka, tidak perlu datang ke sekolah.

    Semenjak tinggal di desa, kulit ayah semakin legam. Kata ayah itu tandanya lelaki perkasa. Ibu hanya akan tertawa saja menanggapi perkataan ayah. Aku senang bisa berkumpul bersama keluarga, apalagi ibuku sangat pintar dan kreatif. Setiap hari menu makanan kami selalu berubah dan baru aku rasakan sekarang makanan itu. Kata ibu merebus keladi untuk makan malam, merebus daun kelor dan diberi sedikit garam sebagai sayur, di akhir pekan kadang-kadang kami membakar sate keong dari sawah-sawah milik orang lain.

    Pernah ibuku bertanya, apakah aku ingin kembali ke kota? Tentu saja kujawab tidak. Lalu ibuku bertanya lagi, aku ingin apa? Kujawab, aku ingin menjadi seperti yang ayah dan ibu minta. Menjadi anak pintar, menjadi orang hebat, tidak khawatir pada apapun, menjadi lelaki kuat, dan menjadi lelaki perkasa. Maka dari itu aku sangat berusaha untuk selalu mandi dan makan pagi, bercermin setiap hari, bermain bersama teman-teman, senang berjalan kaki, dan menjadikan kulitku legam terbakar matahari. Aku ingin menjadi kebanggaan ayah dan ibu, seperti yang ayah dan ibu mau.

Monday, March 9, 2020

English, please


Baca basmalah dulu yaa.. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Apakah Bahasa Inggris adalah pelajaran yang sulit? Kok rasanya bagi saya Bahasa Inggris itu keren, sekaligus juga bikin malu. Menurut saya keren bisa lancar Bahasa Inggris, tentu saja setelah mengerti dengan baik Bahasa Indonesia, kan Bahasa nasional kita. Lalu kenapa bikin malu? Karena Bahasa Inggris bagi saya keren kalau sudah diucapkan. Tapi ketika di dalam otak sudah terangkai dengan baik, sampai di ujung lidah gagal terucapkan, akhirnya cuma bisa nyengir, malu.

Saya berkenalan dan belajar Bahasa Inggris sejak TK, diajarkan oleh Tante Paini. Menyebutkan angka, abjad, nama hari, binatang, buah, dan banyak lagi kosa kata lainnya. Rasanya saat itu ingin serba tahu benda ini apa sih Bahasa Inggrisnya. Sebelum mengucapkan salam dan berangkat ke sekolah dulu pernah bilang ke mama,

I mau go to school ya, ma”.

Mama pula pandai membesarkan hatiku, tertawa-tawa ia menjawab “Yes, yesI”.

Kemudian saya masuk pesantren, terputuslah kelas privat gratis Bahasa Inggris dari tante. Saya fokus mengaji. Lagipula di SD waktu itu belum ada pelajara Bahasa Inggris. Sampai akhirnya SMP saya benar-benar berkenalan secara formal dengan Bahasa Inggris.

Ada dua orang guru dalam ingatan saya, beliau berdua pernah mengajarkan Bahasa Inggris di kelas. Pertama adalah Ibu Marina, saya bahkan agak ragu kalau namanya benar itu. Mungkin bila sengaja ataupun tidak, salah satu dari teman yang pernah bersekolah di gedung yang bersebelahan dengan pasar di jalan Poponatawijaya kala itu, bisa membantu melengkapi ingatan saya. Bukan berarti sepenuhnya saya lupa pada beliau. Melalui beliau saya bisa dan berani berkenalan dalam Bahasa Inggris. Saya mulai menuliskan kata “How are you?” ketika sedang rindu pada keluarga, karena SMP saya kos di kota kecamatan untuk sekolah di sekolah negeri.

Ibu Marina yang saya ingat, orangnya ceria, kulitnya bersih, putih, pakai kerudung, cantik nian. Beliau adalah pendatang, asalnya dari Kota Jambi, di provinsi sana. Mungkin waktu itu Bahasa Inggris jadi keren karena diajarkan oleh beliau yang sudah duluan keren bagi saya. Beliau mau datang ke kampung kami, jalan jelek, listrik sering mati, waktu itu bahkan belum ada signal telepon seluler. Ya, meskipun itu lebih baik daripada kondisi di kampung saya, serba apa adanya, akses jalan juga apa adanya lindas saja. Entahkan tiba-tiba ular melintas ya sudah, yang penting tidak saling mengganggu. Ibu Marina Tangguh nian. Memang sebagai pegawai harus siap ditempatkan dimana saja, tapi toh tetap beliau punya hak untuk mundur. Namun nyatanya tidak.

Ternyata Ibu Marina sudah berkeluarga. Jadi selama kami saling mengenal, beliau tinggal secara terpisah dari keluarganya. Tipe perempuan karir yang kuat dan sabar. Beliau pernah bercerita, memasak adalah salah satu hal yang sulit dilakukan olehnya. Bagaimana pula seorang istri ndak memasak apapun untuk suaminya? Apalagi kalau nantinya ibu punya anak, bagaimana anaknya akan makan? Namun belakangan saya baru sadari, ternyata benar bahwa Allah telah pasangkan manusia dengan jodohnya untuk saling melengkapi. Suami Ibu Marina suka sarden. Ikan dengan bumbu lengkap, tinggal dihangatkan langsung siap santap.

Sampai akhirnya saya tidak ingat bagaimana momen perpisahan beliau. Kiranya yang tadi itu adalah kenangan paling berharga antara saya dengan Ibu Marina. Tentu akan saya jaga. Terutama dalam do’a, semoga beliau dan juga keluarganya selalu dalam kebahagiaan, terbuka banyak pintuk rezekinya yang halal dan penuh keberkahan, dan dapat berdo’a dan beribadah dengan khusyuk, aamiin.

Setelah Ibu Marina pergi, ada guru baru yang menggantikan beliau untuk mengajar. Namanya Pak Amir. Selain Bahasa Inggris, saya belajar hal lain dari Pak Amir. Saya latihan silat dengan abang arif, teman sekelas saya, diajarkan oleh Pak Amir. Saat itulah saya sadar, bahwa jemari tangan kanan saya tidak bisa rata ketika dikepalkan, di bagian telunjukknya selalu mencuat lebih tinggi daripada yang lainnya. Sehingga saya harus lebih giat dalam berlatih pukulan. Di sela latihan silat, bapak akan menyisipkan Bahasa Inggris juga. Metodenya sangat menyenangkan dan dekat nian dengan kehidupan sehari-hari.

Seringkali saat sedang latihan, istri Pak Amir juga datang melihat. Saya tidak ingat nama ibu, tapi saya bisa gambarkan ibu dalam ingatan. Kecil badannya, bahkan tampak kurus, ibu berkerudung kurung. Saat itu, sedikit nian kulihat orang-orang pakai kerudung kurung, bahkan mama juga masih sering tidak mengulurkannya sehingga tidak menutupi semuanya. Lalu ibu akan menyampaikan nasihat-nasihat, kalau saya ingat lagi, itu seperti melingkar yang dilakukan dewasa ini. Eh, saya hendak fokus menceritakan tentang Bahasa Inggris. Tapi kenangan menggurita ternyata.

Kembali lagi pada Pak Amir dan Bahasa Inggris. Pak Amir pernah berpesan, jangan takut pada Bahasa Inggris. Sementara itu adalah ilmu pengetahuan. Takut pada Bahasa Inggris berarti takut pada ilmu dan pengetahuan, dapatlah bila disimpulkan demikian. Pak Amir pernah meminta saya dan teman-teman menghafal teks fenomenal di sekolah kami, judulnya adalah “How to make a glass of tea”, agaknya itu adalah materi teks prosedur. Beliau meminta kami untuk percaya diri mengucapkannya, karena orang lain yang tidak akan mengerti akan memuji dan mendo’akan supaya kita tekun dan jadi pandai. Bahkan sampai sekarang pun saya masih ingat, di buku yang bagaimana saya salin teks itu, bagaimana kalimat di paragraph pertama, dan hebat nian rasanya ketika ingat saat itu saya praktikkan di rumah, membuat teh sambil menjelaskan langkah-langkahnya dalam Bahasa Inggris. Walaupun menurut mama itu jadi ribet, tapi tehnya enak.

Jujur saja saya tidak terlalu ingat bagaimana rupa wajah Pak Amir. Kesan mendalam adalah Pak Amir selalu mengajak kami mengucap basmalah sebelum memulai pelajaran, dan mengajak mengucapkan hamdalah setelah pelajaran selesai. Tentu saja semua itu dilakukan dengan Bahasa Inggris, maka kami akan membalas dengan mengucap basmalah dan/atau hamdalah dalam lafal arab. Sekarang setelah saya menjadi guru, saya menirukan dan menerapkan itu. Semoga ini juga menjadi pemberat amal baik bagi Pak Amir di hari perhitungan kelak. Memori baik yang tersimpan tentang Bahasa Inggris, membuat saya ndak malas untuk belajar walaupun bukunya pakai Bahasa Inggris.

Tapi tolong jangan dikira saya sekarang ini native gitu, ya. Sekedar pasif dan agak mengerti saja. Kalau ada kesempatan belajar lagi, tentu ingin nian. Pun juga materi tentang Bahasa Inggris ini adalah tulisan acak-acakkan yang sudah berjubel dalam pikiran saya semenjak beberapa hari lalu. Senangnya bisa dituliskan juga pada akhirnya. Di SMA dan seterusnya sampai sekarang saya telah bertemu guru-guru hebat lainnya, agaknya harus satu judul khusus untuk menceritakan beliau.

Hari ini anak-anak di sekolah sedang PTS Bahasa Inggris, banyak yang serius, ada beberapa yang masih mencari makna. Saya sedang menghimpun makna. Mengingat Ibu Marina dan Pak Amir, saya jadi lebih banyak belajar, bersyukur, dan juga istighfar. Kembali do’a yang sama untuk beliau dan semua guru lainnya, semoga beliau dan juga keluarganya selalu dalam kebahagiaan, terbuka banyak pintuk rezekinya yang halal dan penuh keberkahan, dan dapat berdo’a dan beribadah dengan khusyuk, aamiin.

Saya banyak belajar, ternyata saya ini memang bukan apa-apa di dunia ini kalau malas belajar, saya benar-benar harus punya produk unggulan, pernah kan kalian dengar tentang orang yang tidak terkenal di Bumi tapi terkenal di langit? Rasanya indah nian kalau yang sedang kita lakukan kemudian Allah sukai. Saya harus banyak belajar, terutama sebagai guru begini. Saya mengingat Ibu Marina dan Pak Amir dengan citra begini. Lalu bagaimana saya dalam kenangan anak-anak yang pernah belajar bersama saya?.

Bersyukur itu penting, jangan berhenti dan jangan bosan. Memangnya apalah milik saya ini yang bukan pemberian dari Allah? Alhamdulillah, dipinjamkan begini banyaknya. Saya itu rasanya kuat, tapi kok ya gampang nangis kalau berhubungan dengan anak. Dulu saya pernah bertemu seorang anak SMA, di kampung yang jauh dari hingar bingar kota, tidak ada sinyal, akses internet yang sangat sulit, jauh dari toko buku, dan akses jalan yang juga tidak terlalu mudah, dan tentu saja ia ndak terlalu pandai berbahasa Inggris. Saya tidak bertemu dengannya di kelas, tapi kami seringkali mengobrol, dia akan mencucikan piring-piring saya dan teman-teman, sering juga masak lauk . Beberapa bulan lalu saya bertemu dengannya ketika di Yogyakarta, ternyata anak saya sedang mengerjakan skripsi. Betapa saya bersyukur untuk hal itu.

Kenapa istighfar? Karena saya banyak salahnya, khilafnya, kurangnya. Kepada Allah bermuara pengharapan dan ampunan. Kepada manusia dilabuhkan sesalan.

Saya berharap dari sekian banyak yang saya sampaikan, ada kiranya yang bermanfaat bagi orang-orang. Saya berharap setiap anak-anak yang pernah bertemu dengan saya tumbuh menjadi anak sholeh dan sholeha, bertanggungjawab pada setiap jalan yang dipilihnya, apabila ternyata saat ini sedang singgah atau melalui jalan yang salah, semoga segera mendapat hidayah. Aamiin. Kemudian, maafkan ibu ya, nak.

For all my teachers, thank you.

===
p.s.
1.       Hormati gurumu
2.       Maafkan gurumu
3.       Do’akan gurumu
4.       Belajar Bahasa Inggris
5.       Terima kasih semua bapak ibu guru Bahasa Inggris saya, terutama guru saya saat ini, yaitu Miss Fushi dan Miss Reni
6.       Senyum dong 😊
7.       Semoga anakku, Mariati, wisuda tahun ini. Aamiin.
8.       let’s close this reading by hamdalah

Monday, February 17, 2020

Kado Ulang Tahun


Cuma belajar kelompok saja dicurigai. Jam sebelas malam belum tidur, dituduh sedang main handphone. Lebih parahnya lagi waktu bangun kesiangan, ayah pasti bilang karena tadi malam aku begadang. Ayah bahkan tidak pernah tahu atau bahkan tidak mau tahu, berapa banyak jumlah tugas kelompok dan pekerjaan rumah yang harus dikerjakan secara individu. Aku bahkan tidak punya lebih uang jajan untuk beli kuota, karena ayah sangat membatasi uang jajanku, bagaimana mungkin aku main handphone?. Lalu tentang begadang, rumah ini di dekat pasar yang selalu ramai, biarpun seumur hidupku sudah tinggal disini, namun tetap saja ada masa dimana aku lebih gelisah daripada biasanya, mungkin lebih keren kalau kubilang aku insomnia, kadang-kadang.

“Ingat, biaya kuliah mahal!”

Tentu aku tidak akan lupa. Bangun tidur, ayah akan menyambutku dengan kalimat itu. Pamit main, ayah pesan begitu. Pulang dari masjid, ayah juga bilang begitu. Rasanya bak memanjat batang kacang ajaib milik Jack, tinggi dan jauh di atas sana si biaya kuliah itu.

Atau suatu waktu ayah akan tanya, “Mau kuliah dimana kau nanti?”.

Kalau sekarang sedang gelap gulita, pasti tiba-tiba benderang dari binar mataku. Aku selalu bersemangat setiap kali ada yang bertanya tentang mimpi-mimpiku.

“Ayah tahukah banyak nian kampus di Jawa, aku mau kuliah di Jawa, Yah. Disana ada kampus yang namanya …”
“Ingat, biaya kuliah mahal!”

Selalu saja begitu. Listrik padam  bisa kusalahkan PLN. Tapi bilamana semangatku padam, tidak tega rasanya bila kusalahkan ayah. Tapi memang ayah yang salah, lirih benar suara-suara ini ada di dalam lubuk hatiku. Dengan segera aku akan mengusir suara-suara itu. Aku tahu ayah juga mendukungku kuliah. Bersamaan dengan itu, aku pun sadar bagaimana kondisi kami. Ayah hanya pedagang buah di pasar satu-satunya yang ada di kampung kami. Kalau dagangannya tidak habis laku, ayah akan berkeliling dari satu RT ke RT lain. Kampung kami kecil, hampir setiap hari semua orang ke pasar. Jika mereka tidak membeli buah segar ketika di pasar, maka sedikit sekali yang akan membeli buah layu di sore hari.

Ayah mungkin belum dapat kabar. Anak-anak remaja di sekolah mulai terserang wabah aneh. Senyum sendiri, rela lapar demi membelikan coklat, sok akrab dengan teman kelas lainnya agar bisa kirim salam dengan gratis. Kalau sampai kabar ini sampai pada ayah, kuperkirakan peringatannya akan semakin sering kudengar. Apalagi sekarang aku sudah kelas dua belas dan dalam tahun ini akan menghadapi ujian kelulusan.

“Pik, belum punya pacar ya?”
“Belum, wak”
“Jangan kau menyendiri, seperti ayahmu itu. Hidup itu indah, Pik. Harus diisi dengan hal-hal berkesan”.

Terus saja sepanjang hari aku membayangkan apalah indahnya pacaran?. Wak Ipang adalah teman ayah berdagang di pasar. Mereka sudah saling kenal sejak remaja. Wajar saja bila ia yang paling pandai menerka hati ayah. Indahnya bayanganku kemudian sirna ketika aku pulang dan bertemu ayah. Sumringah. Ayah bahkan tampak sedang memecahkan es batu, ada satu teko teh manis di atas meja. Itu semua membuatku terheran-heran.

“hari ini panas terik, Pik”.
“Tumben ayah beli es”.
“Tidak apalah sesekali. Kau juga pasti haus kan. Pulang sekolah harus jalan kaki”.

Usut punya usut hari ini dagangan ayah ludes habis sudah. Jadi ayah pulang lebih awal. Rumah sudah dibersihkan. Cucian piring yang sejatinya adalah tugasku, sudah pula ayah kerjakan. aku mencoba mencari celah yang pas untuk menyambung obrolan tempo hari tentang kuliah.

“Yah, sebentar lagi Pik ulang tahun”.
“Iya, ayah sudah siapkan kado untuk kau.”

Ayah, biar saja anak remaja lainnya mengalami penyakit yang aneh. Karena aku mengalami hal yang lebih aneh. Ayah tampak lebih muda, tampan, dan banyak uangnya. Hari ini aku bahagia sekali ayah. Aku berharap ayah memberiku kado biaya kuliah ke Jawa.

“Tapi kau harus hemat, Pik. Ingat, biaya kuliah mahal!”
“….”
“Ayah juga dengar, kawan-kawanmu mulai mengenal cinta-cintaan. Jangan kau ikuti yang demikian itu”.
“…..”
“Ayah tidak ingin kau jadi penjual buah seadanya seperti ayah begini”
“…….”. Mataku berkaca-kaca. Nafasku naik turun sama beratnya. Aku hela pelan-pelan, takut ayah merasa tersinggung.

Obrolan siang hari sepekan sebelum ulang tahunku, berlalu begitu saja. Ayah kembali berdagang, kadang langsung habis, kadang juga harus ditambah dengan berkeliling. Aku semakin sibuk latihan soal. Menyisihkan uang jajanku untuk membeli kuota internet, agar bisa belajar dari sumber lainnya yang lebih banyak lagi. Wak Ipang juga begitu, selalu mengulangi kalimat yang itu-itu saja bila bertemu denganku di pasar. Benar-benar lambat dunia berputar, namun pasti.

Hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku segera berangkat ke masjid, berjalan mendahului ayah. Aku ingin tunjukkan padanya bahwa aku sudah dewasa. Tidak perlu ayah ingatkan dan suruh-suruh lagi untuk kewajibanku. Pulang dari masjid, aku menyapu halaman, mencuci piring dan bergegas mandi. Ayah sedang bersiap-siap menata buah dalam keranjang di sisi kiri dan kanan motornya. Aku sudah siap menerima kado dari ayah.

“Pik, ayah berangkat duluan ya”.
“Eh, iya ayah. Fii amanillah”.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam, ayah".

Apa-apaan ini? Ayah bahkan tidak mengucapkan selamat ulang tahun dan mendo’akan apalah begitu untukku. Apa mungkin ayah lupa? Atau ayah mau meberikan aku kejutan? Mana mungkin ayah seromantis itu repot-repot menyiapkan kejutan untukku. Aku jadi layu. Kulangkahkan kakiku menuju ke sekolah dengan gontai, turun sudah semangatku.

Pelajaran di sekolah hari ini sulit aku mengerti. Biarpun bapak dan ibu guru sudah menjelaskannya, tetap saja aku bingung. Beberapa kali aku ditegur karena kedapatan sedang melamun. Kalau nilaiku jelek kali ini, sudah bisa kupastikan bahwa ini adalah salah ayah. Aku marah.

Pulang sekolah hari ini aku harus mampir ke pasar. Jangan sampai aku bertemu dengan ayah. Cukup saja aku diberi harapan palsu, katanya akan diberi hadiah ulang tahun. Tapi tetap saja aku harus ke pasar, karena ayah sudah menitipkan makan siang dan kunci rumah pada Wak Ipang seperti biasanya. Biarlah kali ini aku yang mengalah.

“Pik. Pik. Hei, Pik”. Wak Ipang berteriak memanggilku, ia belari tegopoh menghampiri.
“Ada apa, wak?”
“Ayah kau, Pik. Ayah kau…”
“Kenapa ayah? Ada apa, wak?” Ayah, tiba-tiba hatiku menjadi gelisah. Aku lupa bahwa sedetik yang lalu sedang marah pada ayah.
“Ayah kau sepertinya sudah tak sadar…”
“Ayah kenapa? Dimana ayah?” Aku semakin panik.
Ayo, Pik. Kita ke dalam pasar, ayah kau ada disana”

Air mataku bercucuran, bagaimana jika sesuatu terjadi pada ayah? Aku sudah tidak pernah melihat ibu semenjak bayi. Kalau sekarang sesuatu hal yang kutakutkan terjadi pada ayah, aku tidak mau, aku tidak akan siap.

Dari kejauhan aku melihat kios ayah dikerumuni banyak orang. Kupercepat langkahku, rasanya berat sekali. Orang-orang menatapku dengan sorot mata yang tidak aku tahu apa artinya. Aku semakin khawatir. Sampailah aku di depan kerumunan. Lututku gemetar, seragamku basah bersimbah peluh. Aku harus menerobos orang-orang ini. Pelan-pelan aku kepalkan dengan kuat jemariku, perlahan mulai melangkah. Dengan sendirinya orang-orang memberi jalan. Sampai akhirnya aku lihat ayah ….

“…..”.
Aku benar-benar terkejut melihat ayah, sampai jatuh lututku bersimpuh. Air mataku mengalir deras.
“Pik ….”
Tangisku semakin menjadi, aku meraung ketakutan. Sedih, takut, khawatir dan bahagia menjadi satu.
“Selamat ulang tahun, Pik”

Ayah berjongkok di hadapanku. Di tangannya ada sepotong roti kecil tanpa lilin di atasnya. Aku semakin tak kuasa menahan air mata. Ayah dan seisi pasar ini telah berkomplot mengerjaiku. Mereka bersorak sorai, mengucapkan selamat padaku, mengusap kepalaku, menepuk bahuku, dan beberapa diantaranya memberikan kado berupa tempe, sayuran, cabai, dan apa saja yang ada di kios mereka.

“Hei, anak laki-laki jangan cengeng, Pik!”

Aku sekarang sudah ada dalam pelukan ayah. Usiaku hari ini adalah 16 tahun dan aku bersyukur, ayah baik-baik saja tidak seperti yang kusangka.

“Apa ini hadiah yang ayah maksud?”
“Hahahaha. Bukan, Pik. Hadiah dari ayah adalah kau boleh kuliah kemana saja!”
“Sungguh ayah?”
“Tentu, kau sudah dewasa sekarang. Pergilah kau cari ilmu, kejar cita-citamu. Ke jawa atau kemanapun yang kau mau!”
“Benarkah ayah?” Aku terperanjat, takjub.
“Iya, tapi kau harus bersungguh-sungguh. Ingat …”
“Aku ingat, yah. Biaya kuliah mahal!”

Kami berdua tergelak. Ingusku keluar tanpa bisa kutahan. Air mataku surut dan yang tersisa adalah isak bahagia. Wak Ipang menyaksikan drama siang hari ini juga ikut tergelak. Ibu-ibu tampak senyum-senyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah kami.

Diam-diam aku minta maaf, karena sudah berburuk sangka pada ayah, bahkan aku sudah berdosa sekali karena berani menuduh ayah. Ayah.. terima kasih, ini adalah kado terindah dalam hidupku, akan kujaga amanah dari ayah.

===

Akhirnya Pik bisa kuliah ke Jawa. Usaha ayah terus berkembang, sekarang sudah ditambah dengan berjualan jus dan juga es buah. Handphone milik Pik sudah  diganti dengan yang baru, kuotanya juga selalu ada. Ayah juga membeli handphone meskipun bekas. Jadi ayah dan Pik bisa sering-sering telpon dan juga saling tatap dalam video, dan tentu saja ayah akan bilang, "Ingat, biaya kuliah mahal!"

===

Ps.
  1. Sayangi orang tua
  2. Jangan pacaran sebelum menikah
  3. Belajar dengan bersungguh-sungguh, bukan untuk orang lain tapi untuk diri sendiri maka kemudian akan berdampak pula baiknya bagi orang lain
  4. Ingat perjuangan kedua orang tua dan juga keluarga
  5. Ingat, biaya kuliah mahal!


 

Notes Of Gea Template by Ipietoon Cute Blog Design