Showing posts with label persahabatan. Show all posts
Showing posts with label persahabatan. Show all posts

Thursday, August 27, 2020

Simsalabim

Ada masa dimana musim penghujan datang terlambat, atau kemarau terlalu betah untuk berlalu.  Kamu mungkin juga tahu rasanya bubur ayam yang diaduk akan lebih nikmat, atau malah jadi koproh dan menghilangkan selera makan. Tentang musim yang berganti bukan karena simsalabim, tentang bubur ayam yang bisa kita tentukan cara menikmatinya, adalah dua hal yang berbanding terbalik dengan kenyaatan yang sedang kuhadapi. Tahun ini aku berusia 18 tahun, hal yang seharusnya bisa kupilih untuk dinikmati malah di-simsalabim oleh keadaan.

Nduk, kami itu sudah dewasa. Sudah saatnya untuk menikah!”.

Sejujurnya aku sudah menduga, tahun ini ibu ingin aku menikah. Sama seperti Maryam, Lastri, atau bahkan Aminah yang tampak bahagia karena tidak perlu lanjut sekolah lagi karena menikah. Tidak tanggung-tanggung, suaminya adalah juragan tambak di desa kami. Istri ketiga, tapi istri yang lainnya sudah tua. Aminah bilang, rezeki tidak akan kemana.

“Aku pengen kuliah, bu”.

Tatapan ibu kemudian menjadi lebih tajam, helaan nafasnya terdengar menjengkelkan.

“Ibu. Kalau aku kuliah, nanti bisa punya ijazah dan kerja di kota”.

“Kamu mau kerja apa? Sekarang ini cari kerjaan susah. Kalau menikah, bisa di rumah aja ngurus suami, segala kebutuhan sudah tercukupi”.

Aku harus melawan. “Nanti ibu, kalau aku sudah punya ijazah…”.

“Sudah, sudah. Jangan ngeyel!”.

Selanjutnya masih aku dengar ibu yang terus mengomel, membahas tentang keturunan, harta warisan, cerita tentang bapak, sampai pada acara pesta panen bulan depan. Ibu khawatir kalau sampai tiba waktunya acara itu dan aku belum juga dilamar orang, kata ibu itu aib. Kupandangi punggung ibu yang bergerak menjauh menuju sumur untuk mengambil air. Badannya masih tegap, kaki dan tangannya kokoh, sayang hatinya juga keras.

Aku urungkan niatku untuk makan pagi ini, tahu goreng dan sayur bayam biasanya adalah menu favoritku tapi pagi ini beda, mendadak hilang nafsu makanku. Lagipula kalau aku makan pagi ini, bisa-bisa siang nanti aku sudah kelaparan lagi dan tidak ada apa-apa yang bisa dimakan. Semenjak bapak meninggal, kehidupan semakin sulit. Ibu hanya berjualan daun ubi untuk disayur, padalah orang di desa kami juga rata-rata menanam ubi untuk kebutuhan pangan. Ibu harus tahu, aku ingin sekolah dan itu penting untuk kami.

Panas terik dan angin berhembus kencang. Kemarau sedang menuju puncaknya. Setelah dinyatakan lulus dari sekolah menengah atas satu-satunya yang ada di kecamatan, rasanya aku semakin kemrungsung, panasnya luar dan dalam. Betapa sia-sianya kalau aku tidak lanjut sekolah, perjuanganku selama ini menempuh perjalanan panjang hanya untuk belajar, memakai seragam yang itu-itu saja, dan nasihat dari bapak dan ibu guruku.

“Hanin nilai kamu bagus, harus lanjut kuliah ke kota, ya!”. Begitu kata Bu Bhakti, guru panutanku. Betapa bungahnya aku mendapat dukungan dari seorang guru yang sangat kreatif, sabar, dan baik seperti Bu Bhakti.

Tapi sekarang nyatanya, apa? Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk lanjut kuliah, pastinya juga ibu tidak akan punya cukup uang untuk membiayaiku, belum lagi di pesta panen bulan depan, orang-orang akan mulai bergunjing kalau melihat anak seusiaku belum nikah juga. Aku memikirkan banyak cara untuk kabur, dari pesta panen, dari desa ini, dan dari ibu.

Sambil duduk-duduk di halaman rumah, di bawah pohon jambu air yang sedang tidak berbuah, aku bisa melihat debu berterbangan, daun kering berserakan dan akan disapu oleh ibu-ibu sore nanti sambil mengobrol, membahas tentang Pak RT yang nikah lagi atau tentang bantuan dari pemerintah yang selalu kurang saja jumlahnya. Matahari beranjak naik, aku melihat seseorang datang memasuki halaman rumah kami yang cukup hijau karena ibu rajin menanam bunga, tapi aku tidak rajin.

“Nin, ibumu ada?”, ternyata itu adalah Mas Windu. Anak Pak Carik, umurnya hanya dua tahun lebih tua dari aku.

“Ada, mas. Sedang ke sumur. Aku panggilkan, ya”.

Ndak usah, Nin. Aku kesini mau ketemu kamu”.

“Aku, mas? Ada apa?”. Baru kali ini ada tamu datang dan mencariku, bukan mencari bapak dan menagih hutang-hutangnya.

“Ini ada titipan dari bapak, untuk dek Hanin”.

“…..”

Setelah menerima “hadiah” dari Pak Carik yang dititipkan pada Mas Windu, aku merasa suhu udara semakin panas, mataku juga panas dan benar saja keluarlah air mataku. Sambil membuka hadiah itu, aku terus menangis sampai bahuku terguncang dan ingusku juga ikut turun naik. Ibu yang baru kembali dari sumur dan melihatku menangis sesegukan di depan rumah langsung lari tergopoh.

Ngopo? Kenapa nangis? Kamu kenapa, nduk?”. Ibu sibuk mengusap-usap kepalaku, bergantian menggenggam jemariku sampai terasa telapak tangannya yang kasar itu. Air mataku semakin deras.

“Ini apa?”, ibu melihat dan membuka barang yang sedari tadi kupengang, kemudian memandangku dengan tatapan tidak percaya. Ibu memelukku.

“Ibu… Aku mau menikah sama Mas Windu”.

(Sidoarjo, 27 Agustus 2020)

 =================================================================

Ini saya tulis setelah mata pedih karena mencari lowongan pekerjaan. Saya adalah satu dari 6,8 juta manusia di Indonesia yang sedang menganggur. Seringkali kita berusaha memberikan yang terbaik dengan tulus hati, tapi Allah berkehendak lain. Kemudian kita menjadi kecewa karena merasa Allah tidak adil. Padahal jelas nian sering kita dengar, Allah memberikan yang terbaik untuk kita sesuai dengan kebutuhan kita dan tentunya perlu nian untuk melihat ke dalam diri, benarkah sudah maksimal? Benarkah tulus?.

Tulisan ini juga seperti biasa, meluahkan isi kepala yang terlalu random. Prihatin pada kondisi dunia pendidikan saat ini, pernikahan dini, pertentangan pendapat antara anak dan orang tua, kondisi yang mungkin relevan dengan kehidupan sehari-hari, sampai pada pilihan realistis dalam hidup.

Koproh : jorok (Jawa)

Nduk  : panggilan untuk anak perempuan (Jawa)

Bungah: bahagia

Ngopo  : mengapa/kenapa (Jawa)

Kemrungsung: bersungut-sungut/terburu-buru

        

Apa kamu penasaran hadiah apa yang Mas Windu berikan untuk Hanin? Semoga iya, hehehe. Jawabannya adalah, Kain batik dengan motif Sido Asih. Pak Carik ingin melamar Hanin untuk Mas Windu. Kenapa diterima? Padahal Hanin sangat ingin lanjut kuliah. Menurutmu, kenapa? ðŸ˜Š

Monday, March 30, 2020

Social Distancing


Tepat sudah 14 hari aku di rumah aja. Lusa sudah berganti menjadi April. Beberapa orang menghubungiku, bertanya tentang kabarku, kondisi disini, dan hal penting serta ndak penting lainnya. Hal yang agak sering kuterima adalah, kamu ndak bosan sendirian di rumah? Sini biar ndak bosan? Atau ayok ngobrol biar ndak bosan. Padahal biar kupikir bagaimanapun, aku sama sekali belum merasa bosan dengan kondisi sekarang ini.
Alhamdulillah, sehat dan baik. Begitu yang bisa kukabarkan. Namun kemudian kutambahkan juga, Alhamdulillah sehat dan ini baik nian, karena ternyata kondisi ini membuatku semakin banyak tahu hal yang tentu saja baru. Mungkin kalian juga begitu. Suka citaku saja yang boleh jadi lebih daripada kalian. Tentu saja kita harus tetap sama prihatin dan duka mendalam dengan adanya pandemi ini.
Selama masa social distancing begini, aku yang adaptif ya wajar saja kalau hasilnya begini. Tapi mungkin ini bisa meredakan isi kepalaku yang penuh dengan oh ternyata… kalau gini, gimana ya? Lalu kalau gitu? Ini apa sih? Dan lain sebagainya.
1.       Lockdown
Dari mulai yang bercanda sampai yang serius, aku percaya semua pada awalnya. Aku sempat merasa lockdown bukan hal yang sulit dilakukan. Tinggal suruh saja semuanya, kalau memang pemerintah begitu tinggi marwahnya, kan kami pun akan turut serta. Beberapa tulisan kubaca, sampai ndak kukira lagi banyaknya tulisan yang kubaca. Pada akhirnya aku simpulkan, oh ternyata ndak semudah itu.
Menutup semua akses berarti benar-benar harus sudah siap. Paling penting menurutku menyiapkan mental. Aku saja yang mengaku begini adaptif terhadap tempat baru, kondisi baru, nyatanya di awal masa work from home juga terkejut karena jam enam pagi sudah siap berangkat ke sekolah, padahal sudah saatnya di rumah aja, tubuh yang biasa bergerak tiba-tiba harus punya rutinitas baru, konon bisa menyebabkan stress bagi beberapa orang. Aku sempat juga khawatir, kalau gajiku dipotong bagaimana kondisi finansialku bulan ini? Sedangkan aku begitu tertib menuliskan apa yang akan dan yang ndak akan aku lakukan, beserta alternatifnya.
Kemudian ada kabar lockdown? Iya, dan yang diminta adalah lockdown Indonesia. Aku langsung terbayang geografi di kelas XI tentang ketahanan pangan, di semester genap ada mitigasi bencana, ada penelitian geografi di kelas X, rencana tata ruang wilayah di kelas XII, sebentar saja.. kepalaku langsung penuh. Lalu aku lupa dengan lockdown. Optimis kita bisa melalui ini semua.
Jadi aku ketika ditanya kabar, kujawab sehat dan baik. Ketika ditanya sudah nikah atau belum?, nah itu ku-lockdown kau.

2.       Zoom
Sekarang ini aku berkenalan dengan zoom untuk kali pertama. Iya aku tahu ada aplikasi yang namanya zoom berikut fungsinya. Tapi tahu saja memang benar ndak akan bisa mengerti. Selama anak-anak harus belajar di rumah, aku merasa jadi guru yang malas nian belajar selama ini. Padahal setiap malam aku selalu belajar. Belajar geografi, belajar perkembangan peserta didik, dan hal-hal hikmah lainnya yang akan aku bagikan pada anak-anak di kelas. Ternyata semakin hari, makin banyaklah yang belum aku tahu.
Intinya aku jadi tahu banyak media pembelajaran, banyak web keren yang isinya materi yang bagus untukku dan tentu saja bisa diakses juga oleh anak-anak. Tapi sejauh ini aku baru pakai zoom untuk ngobrol dengan teman-teman, rapat online, dan tentu saja dengan anak.
Untuk bapak dan ibu guru, bisa juga pakai google classroom yang ternyata di lapangan disingkat menjadi gcr. Menurutku gcr mudah dimengerti dan mudah diakses. Untuk kegiatan tatap muka bisa juga menggunakan google hangout, tapi pesertanya terbatas. Ada juga portal rumah belajar dari kemendikbud, yang sayangnya menurutku sulit diakses (aku yang agak ndak sabar), payah juga untuk anak-anak buat akun di kelas maya. Quizziz yang seru nian, warna-warni menarik seperti juga halnya kahoot. Kemudian ada webex, tapi aku belum pernah coba.
Mungkin setelah pandemic covid19 ini berlalu, aku bisa minta keluarga untuk pasang aplikasi zoom dihandphone atau laptopnya, jadi kami bisa ramai-ramai ngobrol ndak bergantian video call lewat WhatsApp.

3.       Cuci Tangan
Ini bukan cuci tangan seperti lempar batu sembunyi tangan ya. Sebelum masa work from home ini, aku sudah lumayan tertib cuci tangan. Tapi ndak pakai sabun. Ya pakai kalau ada, tapi di sekolah kadang ndak ada juga sabunnya dan aku juga ndak bawa sabun cuci tangan ke sekolah. Setiap setelah pakai kaos kaki, aku akan cuci tangan. Mau makan juga cuci tangan, walau makannya pakai sendok. Sebelum mengajar dan setelah mengajar. Jadi dengan cuci tangan ini aku ndak terlalu terkejut.
Aku tahu lho cuci tangan yang baik dan dibenarkan itu bagaimana. Tapi jarang aku praktikkan karena selama ini cuci tangan bagiku adalah kebiasaan. Sedangkan saat ini cuci tangan meningkat menjadi kebutuhan.
Kubaca di tirto,
Cuci tangan merupakan langkah mudah dan aman untuk melindungi diri dari virus corona COVID-19, tetapi tidak banyak yang tahu bagaimana cara mencuci tangan yang benar. Berikut tata cara mencuci tangan yang direkomendasikan WHO.
·         Basahi tangan dengan air.
·         Tuang sabun pada tangan secukupnya untuk menutupi semua permukaan tangan.
·         Gosok telapak tangan yang satu ke telapak tangan lainnya.
·         Gosok punggung tangan dan sela jari.
·         Gosok punggung jari ke telapak tangan dengan posisi jari saling bertautan.
·         Genggam dan basuh ibu jari dengan posisi memutar.
·         Gosok bagian ujung jari ke telapak tangan agar bagian kuku terkena sabun.
·         Gosok tangan yang bersabun dengan air mengalir.
·         Keringkan tangan dengan lap sekali pakai

4.       Hoax
Kemarin ditanya, kamu kenapa sih anti nian sama berita hoax? Ya apa iya itu harus aku jawab juga?. Bukan hanya satu dua tulisan yang aku baca sejak lama tentang dampaknya menyebarkan berita hoax, belum lagi ujaran kebencian. Sekolah kami di Pining, pernah kulihat guru-gurunya sampai membuat video kampanye menentang hoax. Sayang nian aku sudah ndak ada disana waktu video itu dibuat.
Banyak berita yang mantap nian judulnya, baik tata kalimatnya, mendayu, syahdu, mengiris hati, mendobrak semangat, ternyata hoax. Sementara bersamaan dengan itu adalah fitnah, dusta, dan memecah belah persatuan.
Pernah juga karena malas membaca dan ndak teliti, aku meneruskan berita hoax. Rasanya malu, kesal, dan menyesal. Padahal mudah saja aku cek, banyak fasilitas untuk mengecek apakah berita itu fakta atau hoax, aku pernah cari dan itu bisa dilakukan di stophoax.id.

Selain empat hal yang ingin kutekankan itu, aku juga berusaha lebih menghargai momen di rumah aja. Bisa telpon keluarga setiap saat tanpa bilang “Nanti yaa, sekarang mau ngajar dulu”. Menjaga jarak, apalagi dengan yang ndak halal tu kan. Jadi lebih memperhatikan Indonesia daripada hari sebelumnya. Menyimak kajian pranikah dengan tenang dan ndak malu kalau senyum-senyum sendiri. Jadwalku padat dan aku ndak merasa bosan.
Banyak hal yang bisa dilakukan selama di rumah aja. Dinikmati dan disyukuri. Untuk orang-orang yang bahkan sampai kehilangan pekerjaannya karena masa ini, boleh jadi itu terasa berat, maka kuharapkan dengan khusyuk, semoga Allah gantikan dengan yang lebih baik dan penuh keberkahan. Pada masa ini ada orang-orang yang kehilangan anggota keluarganya, semoga lapang hatinya dan terus laju semangat hidupnya. Untuk yang masih memaksakan diri untuk ndak turut serta menjaga jarak dan memutus rantai pandemi padahal ndak perlu pula ia berlalu-lalang di luar sana, ndak kah kau itu tega nian?.

===
Kutulis ini karena…
  1. Beginikah rasanya jaga jarak?
  2. Terketuk keyboardku, karena pertanyaan dari kakak o
  3. Ini adalah tulisan khusus untuk kakak o yang sedang belajar sejarah padahal dia guru geografi
  4. Aku rindu anak-anakku
  5. Di rumah aja!



Wednesday, May 3, 2017

Sugeng Riyadi, S.T.

Selamat ulang tahun mamas ugeng.. ada beberapa orang dalam hidupku yang tanggal ulang tahunnya lebih dari satu. Mas Ugeng salah satunya.. antara hari lahir dan data kelahirannya berbeda, untuk hanya selisih satu hari saja. Antara tanggal 2 dan tanggal 3, di bulan yang sama. Jadi selain ingat pada hari pendidikan nasional.. saya juga akan mengingat hari ulang tahun Mas Ugeng.

Tahun ini Mas Ugeng sudah lulus kuliahnya, sudah melalui prosesi wisuda pula, tapi dia belum kirim fotonya untuk saya. Nanti saya tagih..

Semoga Mas Ugeng segera bisa bekerja dan mengumpulkan cukup uang untuk naik haji bersama keluarga, menikah, membangun perusahaan, dan sedekah. aamiin.

Sedari kecilku bersama mas ugeng dan ayuk nesti, sekarang sudah usia segini. Mungkin juga sebentar lagi Adek Abil punya adik lagi.. sebelum anak kedua ayuk nesti lahir, semoga mas ugeng sudah menikah, dan semoga masa depanku juga sudah jelas, aamiin.

Untuk Kalian berdua.. adek rindu.

Wednesday, February 15, 2017

Selamat Menempuh Hidup Baru.. Sahabatku

Dulu kami duduk berdampingan pada satu meja yang sama selama satu tahun di kelas 3.

Sahabat saya.. Hari ini resmi menjadi seorang istri. Rinaku yang dulu tidak banyak bicara tentang pernikahan, ketemu jodohnya duluan, kakak kelas kami, Kak Mega. Alhamdulillah.

Saya turut berbahagia lahir dan batin. Meski sedihnya juga ada. Saya tidak bisa hadir di acara ijab qabul dan resepsinya. Karena belum rezeki kami berjumpa. Selain itu saya juga jahat karena ndak mengucapkan selamat menempuh hidup baru kepada mereka lewat pesan atau telepon. Kenapa? Sifat saya memang begini.

Semoga Rinaku, sahabatku... menjadi istri yang shaleha. Kak Mega menjadi imam yang baik dan bertanggungjawab. Bersama-sama hingga ke surga-Nya. Aamiin.
Jodoh, rezeki, maut...
Itu urusan Allah SWT, tugas kita berusaha keep on the track. Taat. Supaya Allah SWT ridha.
Sahabat saya menikah hari ini.. Nanti kalau Allah SWT sudah ridha, saya juga akan menyusul.

Ditulis di buku harian, November 2016.

The Green Al-Qur'an

My tears just fell down. 
Inginnya kalimat selanjutnya juga menggunakan Bahasa Inggris. Apa daya, kemampuan terbatas belum bisa. Kenapa pakai Bahasa Inggris, bukankah judulnya tentang Al-Qur'an? Tentu saja kearena ada hubungannya dengan orang yang memberikan Al-Qur'an berwarna hijau untuk saya.

Setelah hujan reda, saya memasak sayur dan lauk untuk berbuka puasa bersama kak noha  dan adek anja. Setelah makanan bisa dicicipi dan hasilnya terlalu asin, barulah saya membaca pesan singkat melalui Whatsapp dari kak icang di Makassar yang mengabarkan akan datang ke Yogyakarta sekitar minggu depan. Senang? Tentu. Tapi banyak sedihnya kali ini. Karena dalam masa yang berdekatan saya harus pergi ke luar kota dalam waktu yang cukup lama.

Saya curahkan dengan cara agak berlebihan pada Kak Noha. Akhirnya air mata reda. Lalu adegan percakapan yang akan berhubungan dengan Bahasa Inggris dan Al-Qur'an berwarna hijau akan segera dimulai.


"Ne.u, ado ketinggalan sesuatu"
"Apo, kak?"

"Iniiii." Sambil mengeluarkan Al-Qur'an warna hijau dari dalam plastik warna hitam. 
"Wiih, cantiknyo. Kakak beli dimano? Berapoan kakak beli?"
"Hmm. Tadi disano. Dak dijual".
Lalu kami tertawa-tawa. Saya sebenarnya agak merasa gede rasa, kalau tidak salah dengar, kakak memaksudkan Al-Qur'an itu untuk saya.
Saya bergumam pada Si Hijau, "Aih, dek. Kakak tu cuman pamer bae. Cantik nian hijaunyo ni".
"Nah itu untuk Ne.u"

"Ha? Iyo kak? Ih, sebenarnyo kami tadi la mikir itu emang buat kami, tapi takut salah dengar"
Lalu kami tertawa lagi dan air mata saya keluar lagi.


Al-Qur'an warna hijau yang cantik itu jadi milik saya. Belum tahu kan hubungannya dengan Bahasa Inggris itu apa? Jadi Kak Noha itu sarjana sastra Inggris, bahkan sekarang sedang lanjut untuk mendapatkan gelar master dari jurusan Linguistik. Tadinya tulisan ini ingin dipersembahkan untuk kakak dalam Bahasa Inggris. Lain waktu sajalah.
Love you kak nohaa.

Saturday, April 28, 2012

Mama Fao dan dedek Chiko

Hi there..dari sekian banyaknya detik yang sudah kita lalui dalam hidup, banyak hal manis yang tidak akan terlupakan begitu saja. Ini cerita tentang manisnya hidup, betapa hidup sangat menyenangkan ketika dengan berapi-api kita mengenang dan mengungkapkan yang telah terjadi..konyol, tolol, aneh, unik, meskipun luka pedih perih pasti turut ikut ambil bagian dalam cerita kita.
Dari sekian banyak manisnya hidupku, inilah salah satunya.. nurfaoziah ^_^
Fao si embem, tidak serta merta masuk ke dalam daftar sahabatku..tapi nyatanya kini fao bukan sekedar sahabat untukku, tapi juga saudara perempuanku. Bukan karena fao terlalu sering menolongku, bukan karena fao lebih muda dariku, bukan juga karena sekedar ingin menjadi saudaranya.
Tapi itu karena she just an ordinary girl with extraordinary heart.. baik :)
Fao itu lucu, sering galau..tapi bukan masalah, karena itu artinya emang wanita modern hehehe. Cerita manis dalam hidup yang didapat dari fao adalah, Fao dan hamsternya.. Hamster itu mengerikan bagi sebagian orang, hamster Fao namanya chiko..chiko terawat dengan bersih walau hanya segenggaman tanganku besarnya. Beberapa minggu kemudian, jumpa lagi dengan Fao dan Chiko. Ternyata chiko jadi genduuut banget, tapi badannya tetap wangi hamster bersih dan bulunya lembut.
Lalu dimana bagian manisnya?
Fao menganggap dirinya mama buat chiko..padahal chiko seekor hamster, meskipun hewan sekecil itu tapi dirawat dengan teliti dan dijaga baik-baik. Padahal jelas-jelas kita tahu hewan itu levelnya di bawah manusia, hewan identik dengan nafsu dan keburukan seunyu apapun hewan itu. Kalau bukan anak baik, pasti hamster itu hanya seekor chiko dan Fao adalah pemiliknya, tidak akan ada mama fao dan dedek chiko.

Heii...yang pecinta hewan kan bukan cuma fao?! bahkan ada yang lebih fanatik darinya.. So what? i don't know who are they...
*terima kasih yaa Fao sayang, karena sudah mau jadi temanku, kamu saudara dalam hidup aku*

Tuesday, April 10, 2012

Selamat ulang tahun mamiku sayang...

Tanggal 8 yang lalu mami ulang tahun. Tapi jahatnya ndak ngucapin selamat atau apapun ke mami.. bukan sepenuhnya lupa :( tapi waktu itu sedang ada praktikum hidrologi dan payah bawa Hp. Hujan deras, basah kuyup..
walaupun sudah terlambat dua hari untuk bilang "selamat ulang tahun mamiku sayang..." tapi rasa sayang buat mami ndak ada yang terlambat, ndak ada yang terlambat untuk doa yang manis dan baik.
Semoga mamiku sayang selalu di sayang Allah, lancar kuliahnya..jadi mami bisa sukses sebagai seorang sarjana teknik lingkungan, dan selalu dilindungi Allah, aamiin.


ne sayang mami rika....  ^_^

 

Notes Of Gea Template by Ipietoon Cute Blog Design