Friday, March 31, 2017

Kepada Angan

Ada masanya kita kan jatuh cinta, lagi, dan lagi...

Mungkin hari ini kita akan sangat mencintai rumah baru, atau motor baru, sepatu baru, baju baru, atau hal lainnya yang rasanya kita peroleh dengan penuh perjuangan. Kemudian besok dan lusa kita sudah mulai melupakannya dan jatuh cinta pada hal lain lagi.
Hari ini saya begitu tergila-gila dengan drama korea, yang sebenarnya ceritanya begitu-begitu saja. Sampailah pada episode terakhir, saya menjadi sedih atas nama seorang karakter.. saya tersenyum sendiri untuk pasangan yang akhirnya bersama. Saya juga tersenyum jahat untuk karakter yang tidak lebih jahat dari saya. Lalu saya akan membahasnya bersama teman yang juga menonton drama tersebut. Kemudian menguap begitu saja.

Kurun tidak lebih dari 3 minggu selama bulan Maret.

Benar, saya jatuh cinta. Tidak hanya kepada botol air minum yang baru.. kepada pin jilbab yang warna-warni.. kepada lauk makan yang tanpa repot bisa langsung dinikmati.. kepada keluarga baru di kelas.. kepada tugas yang membuat saya betah duduk agak lama di kursi yang sudah agak tidak lembut lagi.. juga kepada angan.

Saya bahas satu saja, kepada angan.

Hijrah itu memang tidak mudah. Tetapi Istiqamah jauh lebih tidak mudah. itu yang saya rasakan. Katanya boleh jadi saya ini tidak ikhlas, tidak tulus hati benar-benar hijrah. Jangan pakai kerudung terlalu kurung. Ditanya ini dan itu tentang agama. Rasanya ingin protes.. saya ini ineu. Lalu apa?. Dapat dipastikan tidak akan ada penjelasan yang dapat saya sampaikan, pun itu tidak penting untuk mereka.

Lalu suatu hari saya merasa.. "oh, ini cinta".
Sulit dipercaya, saya menyimpulkan ini jatuh cinta. Kali ini kepada angan. Saya mulai berani membayangkan wajah seseorang selain keluarga dan sahabat ketika berdo'a. Hingga gundah datang. Saya merasa.. ada yang salah dengan semua ini.

Maaf.

Dia yang belum lagi menjadi milik saya. Menimbulkan banyak tanya, inikah kagum? Atau saya jatuh cinta lagi? Mungkin juga kami memang akan bersatu? Atau ini godaan setan yang melemahkan hati? 
Saya memilih dua jawaban dalam tanya terakhir.

Thursday, March 16, 2017

Untuk UKKI

“................................................................................................”

“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya. (Mereka berdo’a), Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. ....”. (QS. Al-Baqarah: 286).

Belakangan ini saya agak sering mengeluh. Tugas kuliah yang seperti tak kunjung berakhir, uang saku yang belum juga diberikan, usia sudah cukup tapi jodoh belum juga bertemu atau bertamu, dan lain sebagainya. Terlepas dari itu hanya candaan saja, bagi saya, itu ananiah, egois. Sifat “keakuan” yang merupakan bagian dari paket lengkap lahirnya kita di dunia ini. secara istilah, ananiah  berarti sikap mementingkan diri sendiri dan kurang memperhatikan orang lain.
            Bukan hal mudah bagi saya untuk membersihkan fikiran dari keluhan-keluhan yang seharusnya bisa tidak saya lakukan. Tapi itu harus dicoba dan dilakukan. Karena sudah jelas, tidak ada beban yang tidak dapat kita tanggung atas kehendak-Nya.
            Tugas kuliah yang seperti tak kunjung berkahir. Bersyukur. Di luar lingkaran kita, ada banyak orang yang mendambakan dirinya menjadi mahasiswa, menjadi orang yang bergelar profesional, tetapi langkahnya harus terhenti karena masalah ekonomi, masalah keluarga yang tidak mendukung dan merestui, masih kesulitan memilih dan menentukan jalan mana yang harus ia tempuh, karena sakit, dan juga karena ajal.
            Uang saku yang belum juga diberikan. Sudah tugas kita untuk terus belajar, seperti kata-kata hikmah (bukan hadis) yang agaknya sudah sering kali kita dengar, “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat”. Pendidikan yang kita tempuh saat ini sama sekali tidak gratis. Dalam salah satu syarat menuntut ilmu, kita membutuhkan biaya. Kali ini biaya yang kita butuhkan dibebankan pada orang banyak, yang kita nikmati ini adalah amanah. Mata saya sampai berkaca-kaca ketika seorang sahabat mengingatkan, semakin sedikit uang yang kita terima maka semakin sedikit pula pertanggungjawaban kita kelak. Ada orang-orang yang tidak berani membayangkan untuk bisa sekolah karena keterbatasannya. Bersyukur.
            Jodoh belum bertemu dan bertamu. Tenang saja, mungkin kita sedang berjalan ke arah yang sama dan menuju pada titik yang sama. Jadilah calon pasangan yang terbaik mulai dari sekarang. Walaupun kita saat ini belum tahu siapa yang kelak akan menjadi pasangan kita. Fokus pada tugas kita, belajar. Yang menjadi tujuan kita saat ini adalah “selembar kertas” yang siang dan malam didoakan oleh kedua orang tua agar dapat kita peroleh dengan mudah. Tentang jodoh itu agaknya benar-benar akan unik. Boleh jadi kita belum pernah bertemu dengannya, atau malah yang selama ini ada di dekat kita. Bersyukur. Kita masih punya waktu untuk merenung disaat sebagian orang ada yang melalui jalan yang salah untuk bertemu jodohnya.
            Tentang masalah yang lainnya, La Tahla, jangan mengeluh. Lebih lagi jangan membandingkan keadaan kita dengan orang lain. Dalam istilah Jawa, katanya hidup ini tentang “wang sinawang”, kita merasa kitalah yang lebih susah daripada orang lain. Padahal orang lain juga merasakan hal yang sebaliknya kita rasakan. Saya dan mungkin kita berubah menjadi ananiah  atau egois memperebutkan bahwa kitalah yang paling menderita. Dimana syukur kita?.
            Saya tidak pandai menuliskan pemikiran dengan baik. Sebagian besar tulisan ini berisi tentang yang sedang saya perjuangkan untuk dilakukan. Meskipun Allah SWT telah berjanji dan janji-Nya itu pasti, tugas kita adalah berusaha, berdo’a, tawakal, mohon ampun, dan bersyukur. Semoga Allah tidak menghukum kita jika kita lupa atau melakukan kesalahan, semoga Allah tidak membebani kami dengan beban yang berat, dan semoga Allah tidak memikulkan kepada kita apa yang tidak sanggup kita pikul. Semoga kita menjadi orang yang selalu ingat untuk bersyukur dan tidak egois.

“.....Maafkanlah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”(QS. Al-Baqarah:286).

Tulisan ini sudah terlebih dahulu di posting dalam http://ingat-ulangku.blogspot.co.id/
Saya kirimkan tanpa judul, karena saya tidak pandai memberi judul untuk tulisan ini.



Wednesday, March 15, 2017

Selamat Hari Lahir, Mama

14 Maret 1973
Katanya hari itu mama dilahirkan, di sebuah kota kecil yang belum pernah saya datangi bahkan hingga hari ini, Kisaran - Sumatera Utara.

Saya sama sekali tidak ingin melalui masa kecil seperti yang mama saya pernah lalui. Merantau kesana-kemari, bahkan sempat pula mama tinggal di tanah pasundan antara 1982 - 1983 ketika Galunggung meletus dengan bunyi dentuman yang sangat kuat. Mama juga pernah tinggal di Lahat, Sumatera Selatan setelah kakek berhenti dari pekerjaannya. Lalu mama kembali ke tanah Batak, kali ini bukan ke Kisaran, tetapi Saribudolok.

Setelah Sipiso-piso, udara semakin sejuk. Kulit langsat mama yang akhirnya diwariskan padaku secara genetik agaknya berkilau disana pada masanya. Mama tumbuh menjadi remaja yang cantik, tetapi untuk kecantikannya itu tidak diwariskan padaku. Tahun berlalu.. Keluarga besar dengan 7 orang anak termasuk pula mama sebagai anak tengah kembali merantau ke Aceh.

1991, di Aceh.
Karena alasan yang seharusnya sudah kita duga apa yang terjadi disana, keluarga itu kembali merantau. Berjalan kaki berkilo-kilo meter hingga sampai ke perbatasan menuju Medan. Mama dan keluarga meninggalkan harta benda berupa rumah dan seisinya untuk bertahan hidup. Di bagian ini, ada yang selalu saya lewatkan untuk ditanyakan.. tentang kisah cinta mama.

1991, di Jambi
Tiba-tiba mama sudah ada di Jambi. Karena ada kakek muda saya yang ternyata sudah terlebih dahulu tinggal di Jambi. Kisah-kisah romantis dimulai.. mama bertemu dengan papa yang sudah pernah menikah sebelumnya. Mama yang kala itu adalah gadis berambut panjang melebihi pinggangnya, bermata coklat, dan berkulit langsat.. jatuh cinta pada papa.

Dengan prosesi yang sederhana. Mereka menikah. dan satu tahun kemudian saya lahir. Tepat satu tahun, antara Idul Adha sampai idul Adha berikutnya.

1994, Jambi - Medan
Ini bagian yang saya lewatkan... Papa membawa saya ke Saribudolok untuk menemui seseorang dan mengembalikan cincin milik mama.
Beliau tidak pernah bertanya mengapa mama tidak kembali.. Beliau juga tidak berusaha merebut mama kembali.. Katanya, aku harus memanggilnya wawak bila kami berjumpa. Hingga hari ini, kami belum pernah berjumpa. Ketika saya mulai faham keadaannya, saya rasa papa keren sekali saat itu.

Hari ini.. 7 tahun berlalu. Umur mama sudah terhenti, tidak bisa bertambah lagi.
Tidak ada teh hangat di atas meja, sebagai satu-satunya persembahan yang bisa saya buatkan untuk mama
Tidak ada telpon satu hari sebelumnya... "besok mama ulang tahun, loh"
Tidak ada yang perlu disesali apalagi diratapi

Teteh, dedek, dan papa...
Kami bertiga sayang mama
Maafkan kami karena belum bisa bersama.
 

Notes Of Gea Template by Ipietoon Cute Blog Design