Showing posts with label Biogeografi. Show all posts
Showing posts with label Biogeografi. Show all posts

Sunday, April 29, 2012

Kukang Jawa


             Kukang kadang-kadang disebut pula malu-malu adalah jenis primata yang bergerak lambat. Warna rambutnya beragam, dari kelabu keputihan, kecoklatan, hingga kehitam-hitaman. Pada punggung terdapat garis coklat melintang dari belakang hingga dahi, lalu bercabang ke dasar telinga dan mata. Berat tubuh 0,375-0,9 kg, panjang tubuh dewasa 19-30 cm.
            Di Indonesia, satwa ini dapat ditemukan di Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Kukang (Nycticebus coucang) adalah jenis primata yang lucu dan menggemaskan sehingga tidak heran banyak masyarakat umum yang menjadikan primata ini menjadi incaran untuk dijadikan hewan peliharaan.
            Keluarga kukang atau sering disebut-sebut malu-malu, terdiri dari 8 marga (genus) dan terbagi lagi dalam 14 jenis. Penyebarannya cukup luas, mulai dari Afrika sebelah selatan Gurun Sahara, India, Srilanka, Asia Selatan, Asia Timur dan Asia Tenggara. Dari 8 marga yang ada, di Indonesia hanya ditemui 1 marga, yaitu Nycticebus.


            Kukang merupakan primata yang hidup di hutan tropis Indonesia, menyukai hutan primer dan sekunder, semak belukar dan rumpun-rumpun bambu. Kukang tersebar di Asia Tenggara. Di Indonesia kukang ditemukan di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Akan tetapi sampai saat ini belum ada data yang pasti dan akurat tentang jumlah populasi kukang di alam. Akan tetapi jika dilihat dari berkurangnya habitat kukang serta maraknya perburuan dan perdagangan ilegal bisa dijadikan indikator bahwa keberadaan kukang di alam mengalami penurunan.
            Survey yang dilakukan profauna sejak tahun 2000 hingga 2006 menunjukkan bahwa kukang yang diperdagangkan bebas di beberapa pasar burung adalah hasil tangkapan dari alam, bukan hasil penangkaran. Pemanfaatan kukang selain di perdagangkan untuk hewan peliharaan juga dimanfaatkan untuk obat-obatan tradisional. Daging kukang tersebut dipercaya sebagai obat untuk meningkatkan stamina laki-laki. Selain itu juga bagian kukang seperti kerangka dipercaya memiliki kekuatan mistis untuk menolak bahaya dan membuat rumah tangga tenteram.

Elang Jawa


Elang Jawa atau dalam nama ilmiahnya Nisaetus bartelsi adalah salah satu spesies elang berukuran sedang yang endemik di Pulau Jawa. Elang yang bertubuh sedang sampai besar, langsing, dengan panjang tubuh antara 60-70 cm (dari ujung paruh hingga ujung ekor). Kepala berwarna coklat kemerahan (kadru), dengan jambul yang tinggi menonjol (2-4 bulu, panjang hingga 12 cm) dan tengkuk yang coklat kekuningan (kadang nampak keemasan bila terkena sinar matahari). Jambul hitam dengan ujung putih; mahkota dan kumis berwarna hitam, sedangkan punggung dan sayap coklat gelap. Kerongkongan keputihan dengan garis (sebetulnya garis-garis) hitam membujur di tengahnya. Ke bawah, ke arah dada, coret-coret hitam menyebar di atas warna kuning kecoklatan pucat, yang pada akhirnya di sebelah bawah lagi berubah menjadi pola garis (coret-coret) rapat melintang merah sawomatang sampai kecoklatan di atas warna pucat keputihan bulu-bulu perut dan kaki. Bulu pada kaki menutup tungkai hingga dekat ke pangkal jari. Ekor kecoklatan dengan empat garis gelap dan lebar melintang yang nampak jelas di sisi bawah, ujung ekor bergaris putih tipis. Betina berwarna serupa, sedikit lebih besar.

            Iris mata kuning atau kecoklatan; paruh kehitaman; sera (daging di pangkal paruh) kekuningan; kaki (jari) kekuningan. Burung muda dengan kepala, leher, dan sisi bawah tubuh berwarna coklat kayu manis terang, tanpa coretan atau garis-garis.
            Ketika terbang, elang jawa serupa dengan elang brontok (Nisaetus cirrhatus) bentuk terang, namun cenderung nampak lebih kecoklatan, dengan perut terlihat lebih gelap, serta berukuran sedikit lebih kecil.
            Sebaran elang ini terbatas di Pulau Jawa, dari ujung barat (Taman Nasional Ujung Kulon) hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo. Namun demikian penyebarannya kini terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan. Sebagian besar ditemukan di separuh belahan selatan Pulau Jawa. Agaknya burung ini hidup berspesialisasi pada wilayah berlereng.
            Elang Jawa menyukai ekosistem hutan-hutan tropika yang selalu hijau, di dataran rendah maupun pada tempat-tempat yang lebih tinggi. Mulai dari wilayah dekat pantai seperti di Ujung Kulon dan Meru Betiri, sampai ke hutan-hutan pegunungan bawah dan atas hingga ketinggian 2200 m dan kadang-kadang 3000 mdpl.
            Pada umumnya tempat tinggal elang jawa sukar untuk dicapai, meski tidak selalu jauh dari lokasi aktivitas manusia. Agaknya burung ini sangat tergantung pada keberadaan hutan primer sebagai tempat hidupnya. Walaupun ditemukan elang yang menggunakan hutan sekunder sebagai tempat berburu dan bersarang, akan tetapi letaknya berdekatan dengan hutan primer yang luas.
            Burung pemangsa ini berburu dari tempat bertenggernya di pohon-pohon tinggi dalam hutan. Dengan sigap dan tangkas menyergap aneka mangsanya yang berada di dahan pohon maupun yang di atas tanah, seperti berbagai jenis reptil, burung-burung sejenis walik, punai dan bahkan ayam kampung. Juga mamalia berukuran kecil sampai sedang seperti tupai dan bajing, kalong, musang, sampai dengan anak monyet.
            Pohon sarang merupakan jenis-jenis pohon hutan yang tinggi, seperti rasamala (Altingia excelsa), pasang (Lithocarpus dan Quercus), tusam (Pinus merkusii), puspa (Schima wallichii), dan ki sireum (Eugenia clavimyrtus). Tidak selalu jauh berada di dalam hutan, ada pula sarang-sarnag yang ditemukan hanya sejarak 200-300 meter dari tempat rekreasi.
            Di habitatnya, elang jawa menyebar jarang-jarang. Sehingga meskipun luas daerah agihannya, total jumlahnya hanya sekitar 137-188 pasang burung, atau perkiraan jumlah individu elang ini berkisar terhadap kelestariannya, yang disebabkan oleh kehilangan habitat dan eksploitasi jenis. Pembalakan liar dan konservasi hutan menjadi lahan pertanian telah menyusutkan tutupan hutan primer di Jawa. Dalam pada itu, elang ini juga terus diburu orang untuk diperjual belikan di pasar gelap sebagai satwa peliharaan. Karena kelangkaannya, memelihara burung ini seolah menjadi kebanggaan tersendiri, dan pada gilirannya menjadikan harga burung ini melambung tinggi. 

Owa Jawa


Owa jawa, merupakan salah satu hewan primata paling langka. Keberadaannya masuk dalam status “terancam punah”. Selain makin sedikit, banyak yang memburu hanya untuk dipelihara. Pemberian status terancam ini sepertinya justru menarik masyarakat untuk kepentingan pribadi.
            Owa Jawa (Hylobates moloch) merupakan spesies kera kecil tanpa ekor dengan rambut berwarna abu-abu dan memiliki nyanyian yang indah. Owa Jawa termasuk jenis kera pohon ssejati (Arboreal monkey) karena hampir sepanjang hidupnya primata ini tidak pernah turun dari atas pohon. Uniknya, meski dikenal sebagai raja pohon, Owa Jawa justru termasuk kera yang berjalan dengan tegak alias tidak menggunakan keempat tangan dan kakinya, melainkan mengandalkan kedua kakinya untuk berjalan.

            Saat ini owa jawa hidup sebagian besar di hutan-hutan di Jawa Barat, sebagian kecil di Jawa Tengah, Gunung Slamet, dataran tinggi Dieng dan Jawa Timur. Makanan Owa Jawa adalah buah-buahan alami, daun muda dan serangga. Owa Jawa dapat hidup sampai umur 20 tahun. Ciri khas dari hewan ini adalah teriakkan atau nyanyiannya. Teriakkan atau nyanyian Owa Jawa menandakan teritorial tempat tinggal dan area mencari makan.
            Saat ini berbagai upaya telah dilakukan untuk menyelamatkan Owa Jawa dari kepunahan. Diantaranya kegiatan edukasi masyarakat luas, khususnya yang tinggal di daerah kawasan hutan. Anton Ario dari Conservation International Indonesia (CII) mengatakan, masyarakat sekitar hutan sangat berperan penting dalam proses pemberian informasi mengenai pendeteksian keberadaan Owa Jawa yang dipelihara oleh masyarakat.
            Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Jawa Barat, tepatnya di resort Bodogol, terdapat pusat rehabilitasi Owa Jawa. Owa Jawa yang masuk rehabilitasi biasanya berumur tujuh tahun. Rehabilitasi Owa Jawa perlu dilakukan secara bertahap agar dapat mengembalikan kemampuan survival Owa Jawa yang telah lama dipelihara oleh masyarakat.
            Awalnya Owa Jawa dimasukkan karantina untuk diperiksa kesehatannya dan juga perubahan perilaku yang terjadi seperti pola makan dan interkasi dengan lingkungan sekitarnya. Saat dipelihara Owa Jawa selalu diberi makan buah-buahan secara teratur, tetapi pada saat dikembalikan ke alam bebas, Owa Jawa harus belajar mencari sendiri di mana ada buah-buahan di hutan.
            Setelah melewati masa karantina kurang lebih selama 1-1,5 bulan, Owa Jawa siap untuk dilepaskan ke alam bebas untuk dapat bersosialisasi dengan lingkungan aslinya. Petugas selalu melakukan monitoring terhadap Owa Jawa yang baru dilepaskan untuk dapat mengetahui perkembangan yang terjadi terhadap Owa Jawa tersebut.
            Untuk menyelamatkan Owa Jawa dari ancaman kepunahan, perlu dilakukan kerjasama semua pihak. Selain upaya penegakkan hukum yang lebih kongkret dan tegas terhadap para pemburu Owa Jawa, juga diperlukan kegiatan pendidikan dan sosialisasi informasi kepada masyarakat luas, agar lebih peduli kepada hewan primata ini yang jumlahnya makin sedikit.

Thursday, March 15, 2012

Bendahara

Praktikum Biogeografi semester 4 ini ke Bodogol, Bogor
...ini berarti untuk pertama kalinya aku bakal ke Bogor, hehehe...
Kali ini aku jadi ^bendahara^
bukan tugas yang mudah loh nagih-nagih duit ke anak orang begituu...soalnya kan kondisi ekonomi setiap orang itu berbeda-beda yaa
biaya praktikum kali ini kira-kira Rp 230.000,-
semoga aku dan teman-teman diberi kemudahan dan kelapangan rezeki supaya bisa melunasi pembayaran setiap uang praktikumnya...
Aamiin :)


bersambung dulu yaa...samapi jumpa di cerita tentang praktikum.. hehehehe

Monday, February 20, 2012

Taksonomi Hewan

Dari wikipedia berbahasa indoneisa, taksonomi berasal dari Bahasa yunani, yaitu tassein yang berarti "untuk mengelompokkan" dan nomos yang berarti "aturan". Taksonomi dapat diartikan sebagai pengelompokkan suatu hal berdasarkan hierarki (tingkatan) tertentu. Dimana taksonomi yang lebih tinggi bersifat lebih umum dan yang lebih rendah bersifat lebih khusus atau spesifik.

Dalam Biologi, taksonomi merupakan cabang ilmu tersendiri yang mempelajari penggolongan atau sistematika makhluk hidup. sistem yang dipakai adalah penamaan dengan dua sebutan, yang dikenal dengan sebagai "tata nama binomial" atau "binomial nomenclature", yang diusulkan oleh Carl von Linne (Latin: Carolus Linnaeus), seorang naturalis berkebangsaan Swedia.

Beliau memperkenalkan enam hierarki (tingkatan) untuk mengelompokkan makhluk hidup. Keenam hierarki (yang disebut takson) itu berturut-turut dari tingkatan tertinggi (umum) hingga terendah (spesifik) adalah:
  • Phylum/Filum untuk hewan, atau Divisio/Divisi untuk tumbuhan
  • Classis/Kelas
  • Ordo/Bangsa
  • Familia/Keluarga/Suku
  • Genus/Marga
  • Spesies/Jenis
Dalam Geografi, taksonomi, terutama taksonomi hewan, dipelajari untuk membantu penguasaan materi Biogeografi, yang salah satunya menjelaskan tentang Geografi Hewan.

Berikut contoh taksonomi hewan:

"Taksonomi Ikan Mas"

Berdasarkan keanekaragaman genetik, ikan mas memiliki keistimewaan karena banyaknya jumlah strain. Dewasa ini, pembudidayaan Ikan Mas terhambat karena adanya wabah "koi herpes virus (KHV)".

Dalam taksonomi, klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut:
Kelas           :  Osteichthyes
Anak Kelas  :  Actinopterygii
Bangsa         :  Cypriniformes
Suku            :  Cyprinidae
Marga         :   Cyprinus
Jenis            :   Cyprinus carpio L

Thursday, February 16, 2012

Materi Perkuliahan Biogeografi

Selama semester 4 ini, Bunda cantik akan memepelajari all about Biogeografi. Adapun yang dipelajari meliputi:
  1. Ruang lingkup biogeografi
  2. Faktor-faktor yang mempengaruhi sebaran tumbuhan yang ada di permukaan bumi
  3. Nilai ekonomi, ekologis, dan sosial tumbuhan bagi manusia
  4. Taksonomi hewan
  5. Tipe-tipe bioma di muka bumi
  6. Migrasi dan pemencaran tumbuhan
  7. Kajian paleogeografi dengan sebaran hewan dan evolusinya
  8. Migrasi hewan dan penghalang (barrier)
  9. Pewilayahan hewan di muka bumi, fauna kepulauan Indonesia, suaka margasatwa, cagar alam
  10.  Program pelestarian dan perlindungan hewan serta nilai ekonomis, ekologis, dan sosial hewan bagi manusia
  11. klasifikasi tumbuhan dan hewan
  12. Bioma wilayah iklim sedang
  13. Bioma wilayah hutan hujan tropis
  14. domestifikasi hewan dan tumbuhan
Setiap materi yang Bunda dapat, tentu akan di share
tunggu Bunda yaaaa ^_^

Tuesday, February 7, 2012

Pengertian dan Ruang Lingkup Biogeografi

Hari ini Bunda cantiik belajar Biogeografi..
Apa sih Biogeografi itu?
Begini hasil rangkuman dan pemahan Bunda dalam pertemuan pertama dalam mata kuliah Biogeografi ini..


    


Jadi, Biogeografi adalah: Cabang dari biologi yang mempelajari tentang keanekaragamn hayati berdayarkan ruang dan waktu. Yang bertujuan untuk mengungkapkan mengenai kehidupan suatu organisme dan apa yang mempengaruhinya, dilihat dari sudut pandang kelingkungan, kewilayahan , dan keruangan. 
 

Notes Of Gea Template by Ipietoon Cute Blog Design