Friday, March 13, 2020

Jurnal

Tidak terasa sudah hampir lima tahun aku berada di kota ini. Bandung dengan segala nikmat lezat kulinernya, warna-warni fashion, dan tentu saja kabut yang di tahun pertama kabutnya putih, bersih, dan dingin, sampai akhirnya di penghujung tahun ini rasanya mulai banyak kabut polusi. Aku tutup ritsleting koper dan bersamaan dengan itu aku hembuskan pula helaan nafas lega. Akhirnya selesai juga.
Ternyata sedikit saja barang-barangku. Baju yang hanya itu-itu saja, badan ndak pula terlalu gemuk, tapi sampai akhir begini tabunganku tinggal sedikit lagi. aku lirik rak kecil di sudut kamar. Oh kiranya disana uang-uangku selama ini berada. Buku-buku sehubungan mata kuliah, ya tentu saja hanya versi copy-nya, lalu selanjutnya rata-rata ditulis oleh NH Dini, beberapa komik, dan sebagian lagi membuatku tercekat karena satu baris penuh berisi buku tentang perempuan dalam Islam. Di baris kedua itu, sampul buku tampak masih rapi. Beda nian dengan buku-buku lainnya yang sudah berulang kali dibaca bahkan mungkin sering tergilas badanku karena tertidur ketika membaca.
Kardus-kardus berdebu juga tak kalah menggemaskan. Harus segera dirapikan tapi debunya aduhai tidak tahan hidungku dibuatnya. Aku buka kardus pertama, hampir saja aku terlonjak kaget. Keluar kecoak dari dalamnya. Pasti isinya adalah barang yang sangat berharga, sampai-sampai aku tidak pernah membuangnya selama hampir lima tahun ini. Isinya adalah beberapa buku catatan, surat-surat edaran yang pernah aku terima dari kampus, dan beberapa jurnal. Ah, ternyata memang berharga, jurnalku. Memang aku punya kebiasaan menulis jurnal.
Jurnal berwarna hijau muda. Aku ingat ini aku beli di bandara sesaat sebelum kutinggalkan kotaku, ayahku, ibuku, adikku, rumahku, teman-temanku, guru-guruku, jalan-jalan yang pernah aku lalui, mamang penjual martabak favoritku, ibu penjual bubur ketan hitam, es kelapa muda di tepian sungai paling besar di kotaku, dan tentunya semua kenangan yang pada akhirnya selalu aku rindukan sampai hari ini.

15 Agustus 2003
Aku harus kemana? Entah aku yang terlalu kecil ataukah kota ini yang terlalu besar.
Karena aku tidak dibekali uang untuk membeli rumah, baiklah besok aku cari kosan.

Hahahaha, ternyata aku sudah hampir lupa dengan hari itu. Pertama kali aku datang ke Bandung, aku belum ada tempat tinggal, tapi sudah ada tujuan sementara. Salah seorang kerabat menawarkan salah satu kamar di rumahnya agar aku bisa istirahat dan mulai mencari kost keesokan harinya. Mereka dengan senang hati menerimaku, namun jaraknya cukup jauh dari kampus, maka dengan berat hati namun dengan maksud tulus aku menolak tawaran mereka.
Keesokan harinya aku bisa langsung pindah kost. Karena seorang teman sekolahku, yang juga akan menjadi teman sekelasku di kampus, sepanjang hari menemani mencari kost, aku jadi merasa lebih riang, belum terasa rindu yang aku ceritakan di awal tadi. Rupanya perasaan-perasaan itu datang menyerap tepat di malam kedua aku di kamar baru.

17 Agustus 2003
Sepi. Sepi. Sepiiiii. Dirgahayu Indonesia. Kau sudah merdeka dan aku belum. Bagaimana aku bisa mengisimu. Sementara aku saja sedang tertekan.
Ayah dan ibu sedang apakah? Aku rindu.

Setelah Agustus di tahun itu, aku mulai sibuk dengan kegiatan kampus. Bergabung dengan organisasi yang membantuku lebih dekat dengan hal-hal yang pada dasarnya aku sukai seperti hutan, gunung, tebing, sungai, pantai, dan gua. Nilai-nilaiku tetap baik, aku bahkan menerima beasiswa. Ayah memberikan bonus uang jajan yang dengan senang hati kuterima dan kupakai untuk liburan ke Yogyakarta.
Pada beberapa lembar selanjutnya aku lihat potongan tiket bioskop yang sudah memudar tulisan judul filmnya. Tiket kereta api seharga dua puluh tujuh ribu yang sudah susah payah kudapatkan tiketnya namun tetap saja aku tidak dapat tempat duduk. Kereta api kelas ekonomi saat itu membuatku merinding, selama masih ada ruang untuk berdiri makan setiap orang akan masuk, segala macam pedagang berebutan masuk tiap kali berhenti di stasiun-stasiun kecil di sepanjang perjalanan.
Ada juga cetakan foto yang membuatku mual melihat gayaku. Meski akhirnya aku tertawa geli juga membayangkan bahwa aku pernah sekonyol itu. Ada aku dan dua orang sahabatku, orang-orang yang sabar mendekatiku sampai akhirnya aku membuka hati dan menerima uluran tangan persabahatan yang tulus dari mereka. Hari ini saat aku membuka jurnal ini, mereka sudah kembali ke kampung halaman masing-masing. Mereka sudah lebih duluan lulus daripada aku, Amel sudah akan menikah, sedangkan Lona kabarnya akan melanjutkan studi master. Aku turut bahagia dan bangga pada pencapaian yang telah mereka lakukan.
Tahun 2004 aku semakin jarang menulis. Mungkin karena saat itu tugas kuliah semakin banyak, selain itu aku juga sambil bekerja mengajar les. Aku hanya menuliskan beberapa rencana awal tahun, target bulanan, dan tentang hal-hal baru yang aku alami. Sepertinya aku semakin dewasa, sedikiti nian aku lihat keluh kesah di sepanjang tahun 2004.

5 September 2004
Aku perlu istirahat. Pusing. Teman-temanku curhat tentang orang yang mereka sukai.
Mungkin aku juga akan suka pada seseorang nantinya.
Tapi aku pusing, karena disukai oleh orang yang tidak aku sukai.
Semoga penghujan segera berlalu.

Telah sampai padaku sebuah salam perkenalan dari orang yang sudah pula aku kenal. Kami bertemu beberapa kali di kampus, pada bahasa tubuh budaya timur kami sudah saling bertegur sapa. Salam itu aku terima. Hal kecil bagiku kiranya sesuatu yang besar bagi orang lain. Dia terus mengikutiku, membawakanku banyak makanan manis, membantuku dengan suka rela untuk menyelesaikan tugas, namun aku bergeming.

10 Oktober 2004
Kenapa aku tidak boleh pacaran? Dulu katanya anak sekolah jangan pacaran, sekarang kan bukan lagi.
Apa aku diam-diam pacaran saja? Apa ayah dan Ibu akan tahu kalau aku diam-diam pacaran?
Lagipula tahun ini aku belum ingin pulang. Aku ingin liburan.

Pada akhirnya aku tidak jadi pacaran. Hampir setiap akhir pekan aku pergi atas nama “liburan”, kadang-kadang aku membolos untuk kuliah. Seringkali datang terlambat, namun aku tetap berusaha memenuhi tugas dengan baik. Nilaiku tetap stabil.

12 Oktober 2004
Tiba-tiba ibu telpon, tanya kabarku. Rupanya seminggu kemarin aku selalu mengabaikan telpon dari rumah.
Beberapa hari ini kondisi ibu kurang baik. Parahnya sudah dua hari ayah tidak pulang.
Aku harus lebih sering telpon mereka.

Ibu bukan orang yang bermewah-mewah dalam hidupnya, aktivitas sosialnya juga terbatas pada kegiatan Pendidikan, pertanian, dan pengajian. Semangatnya membara untuk berangkat mengaji sepanjang ada izin dari ayah. Dari ibu pula tubuhku punya alarm bangun setiap dini hari untuk mandi dan kemudian berdo’a. Ibu sering bilang, kita tidak pernah tahu sampai kapan kita punya banyak uang, harus latihan dari sekarang. Itu adalah hari pertama ibu mengajakku untuk berpuasa berselang yang ternyata namanya adalah puasa Daud.

13 Oktober 2004
Ayah menelponku tadi siang. Tampaknya situasi di rumah sangat kacau.

Setelah hari itu, sepanjang Oktober berlalu dengan telpon yang terus bergantian masuk. Benar-benar keluarga yang sangat sibuk. Aku butuh liburan. Awal November aku sudah punya beberapa destinasi. Liburan kali itu aku tidak pulang lagi.

8 November 2004
Akhirnya aku pulang.

……………………

9 November 2004
Ternyata rumahku luas dan bisa menampung banyak orang. Orang-orang yang tidak aku kenal.

……………………

10 November 2004
Rumah tidak sekacau yang aku bayangkan. Aku saja yang paling kacau disini.

Air mataku jatuh menetes di atas lembaran jurnal. Merusak tintanya. Tapi masih bisa aku baca.

11 November 2004
Aku kembali ke Bandung hari ini. Entah kapan aku sanggup untuk pulang lagi.

Aku pastikan barang-barangku hari ini tidak akan bisa aku selesaikan. Tersungkur aku di antara kardus-kardus penuh debu. Hari ini aku sudah tahu akan kemana kubawa barang-barangku. Aku akan merubah rencana penerbanganku. Aku harus pulang.

====
Aku sudah di rumah dengan perasaan yang lebih segar. Meskipun sekarang aku sendirian.
Di jurnal hijau muda tahun 2003 – 2004 itu, ada satu halaman yang sengaja aku lipat dan akhirnya kini aku buka lagi.

7 November 2005
Benarkah mama telah pergi?
====

=========
P.s.
  1. Selamat tanggal 14 Maret, Ma.
  2. Ini fiksi lhooo
  3. Kenapa tahun 2003? Mungkin karena senyum mbak yang kukenang waktu di dalam masjid
  4. Baiknya kita pada orang tua saat ini, tidak akan sepadan dengan kasih sayang dan pengorbanan yang telah mereka berikan dan lakukan untuk kita
  5. Jaga kesehatan jiwa, raga, dan iman
  6. Jangan pacaran sebelum menikah
  7. Sopan dan santun pada orangtua
  8. Jangan cuek kalau orangtua telpon, jawab!
  9. Sampai sekarang aku masih menulis jurnal pribadi


Monday, March 9, 2020

English, please


Baca basmalah dulu yaa.. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Apakah Bahasa Inggris adalah pelajaran yang sulit? Kok rasanya bagi saya Bahasa Inggris itu keren, sekaligus juga bikin malu. Menurut saya keren bisa lancar Bahasa Inggris, tentu saja setelah mengerti dengan baik Bahasa Indonesia, kan Bahasa nasional kita. Lalu kenapa bikin malu? Karena Bahasa Inggris bagi saya keren kalau sudah diucapkan. Tapi ketika di dalam otak sudah terangkai dengan baik, sampai di ujung lidah gagal terucapkan, akhirnya cuma bisa nyengir, malu.

Saya berkenalan dan belajar Bahasa Inggris sejak TK, diajarkan oleh Tante Paini. Menyebutkan angka, abjad, nama hari, binatang, buah, dan banyak lagi kosa kata lainnya. Rasanya saat itu ingin serba tahu benda ini apa sih Bahasa Inggrisnya. Sebelum mengucapkan salam dan berangkat ke sekolah dulu pernah bilang ke mama,

I mau go to school ya, ma”.

Mama pula pandai membesarkan hatiku, tertawa-tawa ia menjawab “Yes, yesI”.

Kemudian saya masuk pesantren, terputuslah kelas privat gratis Bahasa Inggris dari tante. Saya fokus mengaji. Lagipula di SD waktu itu belum ada pelajara Bahasa Inggris. Sampai akhirnya SMP saya benar-benar berkenalan secara formal dengan Bahasa Inggris.

Ada dua orang guru dalam ingatan saya, beliau berdua pernah mengajarkan Bahasa Inggris di kelas. Pertama adalah Ibu Marina, saya bahkan agak ragu kalau namanya benar itu. Mungkin bila sengaja ataupun tidak, salah satu dari teman yang pernah bersekolah di gedung yang bersebelahan dengan pasar di jalan Poponatawijaya kala itu, bisa membantu melengkapi ingatan saya. Bukan berarti sepenuhnya saya lupa pada beliau. Melalui beliau saya bisa dan berani berkenalan dalam Bahasa Inggris. Saya mulai menuliskan kata “How are you?” ketika sedang rindu pada keluarga, karena SMP saya kos di kota kecamatan untuk sekolah di sekolah negeri.

Ibu Marina yang saya ingat, orangnya ceria, kulitnya bersih, putih, pakai kerudung, cantik nian. Beliau adalah pendatang, asalnya dari Kota Jambi, di provinsi sana. Mungkin waktu itu Bahasa Inggris jadi keren karena diajarkan oleh beliau yang sudah duluan keren bagi saya. Beliau mau datang ke kampung kami, jalan jelek, listrik sering mati, waktu itu bahkan belum ada signal telepon seluler. Ya, meskipun itu lebih baik daripada kondisi di kampung saya, serba apa adanya, akses jalan juga apa adanya lindas saja. Entahkan tiba-tiba ular melintas ya sudah, yang penting tidak saling mengganggu. Ibu Marina Tangguh nian. Memang sebagai pegawai harus siap ditempatkan dimana saja, tapi toh tetap beliau punya hak untuk mundur. Namun nyatanya tidak.

Ternyata Ibu Marina sudah berkeluarga. Jadi selama kami saling mengenal, beliau tinggal secara terpisah dari keluarganya. Tipe perempuan karir yang kuat dan sabar. Beliau pernah bercerita, memasak adalah salah satu hal yang sulit dilakukan olehnya. Bagaimana pula seorang istri ndak memasak apapun untuk suaminya? Apalagi kalau nantinya ibu punya anak, bagaimana anaknya akan makan? Namun belakangan saya baru sadari, ternyata benar bahwa Allah telah pasangkan manusia dengan jodohnya untuk saling melengkapi. Suami Ibu Marina suka sarden. Ikan dengan bumbu lengkap, tinggal dihangatkan langsung siap santap.

Sampai akhirnya saya tidak ingat bagaimana momen perpisahan beliau. Kiranya yang tadi itu adalah kenangan paling berharga antara saya dengan Ibu Marina. Tentu akan saya jaga. Terutama dalam do’a, semoga beliau dan juga keluarganya selalu dalam kebahagiaan, terbuka banyak pintuk rezekinya yang halal dan penuh keberkahan, dan dapat berdo’a dan beribadah dengan khusyuk, aamiin.

Setelah Ibu Marina pergi, ada guru baru yang menggantikan beliau untuk mengajar. Namanya Pak Amir. Selain Bahasa Inggris, saya belajar hal lain dari Pak Amir. Saya latihan silat dengan abang arif, teman sekelas saya, diajarkan oleh Pak Amir. Saat itulah saya sadar, bahwa jemari tangan kanan saya tidak bisa rata ketika dikepalkan, di bagian telunjukknya selalu mencuat lebih tinggi daripada yang lainnya. Sehingga saya harus lebih giat dalam berlatih pukulan. Di sela latihan silat, bapak akan menyisipkan Bahasa Inggris juga. Metodenya sangat menyenangkan dan dekat nian dengan kehidupan sehari-hari.

Seringkali saat sedang latihan, istri Pak Amir juga datang melihat. Saya tidak ingat nama ibu, tapi saya bisa gambarkan ibu dalam ingatan. Kecil badannya, bahkan tampak kurus, ibu berkerudung kurung. Saat itu, sedikit nian kulihat orang-orang pakai kerudung kurung, bahkan mama juga masih sering tidak mengulurkannya sehingga tidak menutupi semuanya. Lalu ibu akan menyampaikan nasihat-nasihat, kalau saya ingat lagi, itu seperti melingkar yang dilakukan dewasa ini. Eh, saya hendak fokus menceritakan tentang Bahasa Inggris. Tapi kenangan menggurita ternyata.

Kembali lagi pada Pak Amir dan Bahasa Inggris. Pak Amir pernah berpesan, jangan takut pada Bahasa Inggris. Sementara itu adalah ilmu pengetahuan. Takut pada Bahasa Inggris berarti takut pada ilmu dan pengetahuan, dapatlah bila disimpulkan demikian. Pak Amir pernah meminta saya dan teman-teman menghafal teks fenomenal di sekolah kami, judulnya adalah “How to make a glass of tea”, agaknya itu adalah materi teks prosedur. Beliau meminta kami untuk percaya diri mengucapkannya, karena orang lain yang tidak akan mengerti akan memuji dan mendo’akan supaya kita tekun dan jadi pandai. Bahkan sampai sekarang pun saya masih ingat, di buku yang bagaimana saya salin teks itu, bagaimana kalimat di paragraph pertama, dan hebat nian rasanya ketika ingat saat itu saya praktikkan di rumah, membuat teh sambil menjelaskan langkah-langkahnya dalam Bahasa Inggris. Walaupun menurut mama itu jadi ribet, tapi tehnya enak.

Jujur saja saya tidak terlalu ingat bagaimana rupa wajah Pak Amir. Kesan mendalam adalah Pak Amir selalu mengajak kami mengucap basmalah sebelum memulai pelajaran, dan mengajak mengucapkan hamdalah setelah pelajaran selesai. Tentu saja semua itu dilakukan dengan Bahasa Inggris, maka kami akan membalas dengan mengucap basmalah dan/atau hamdalah dalam lafal arab. Sekarang setelah saya menjadi guru, saya menirukan dan menerapkan itu. Semoga ini juga menjadi pemberat amal baik bagi Pak Amir di hari perhitungan kelak. Memori baik yang tersimpan tentang Bahasa Inggris, membuat saya ndak malas untuk belajar walaupun bukunya pakai Bahasa Inggris.

Tapi tolong jangan dikira saya sekarang ini native gitu, ya. Sekedar pasif dan agak mengerti saja. Kalau ada kesempatan belajar lagi, tentu ingin nian. Pun juga materi tentang Bahasa Inggris ini adalah tulisan acak-acakkan yang sudah berjubel dalam pikiran saya semenjak beberapa hari lalu. Senangnya bisa dituliskan juga pada akhirnya. Di SMA dan seterusnya sampai sekarang saya telah bertemu guru-guru hebat lainnya, agaknya harus satu judul khusus untuk menceritakan beliau.

Hari ini anak-anak di sekolah sedang PTS Bahasa Inggris, banyak yang serius, ada beberapa yang masih mencari makna. Saya sedang menghimpun makna. Mengingat Ibu Marina dan Pak Amir, saya jadi lebih banyak belajar, bersyukur, dan juga istighfar. Kembali do’a yang sama untuk beliau dan semua guru lainnya, semoga beliau dan juga keluarganya selalu dalam kebahagiaan, terbuka banyak pintuk rezekinya yang halal dan penuh keberkahan, dan dapat berdo’a dan beribadah dengan khusyuk, aamiin.

Saya banyak belajar, ternyata saya ini memang bukan apa-apa di dunia ini kalau malas belajar, saya benar-benar harus punya produk unggulan, pernah kan kalian dengar tentang orang yang tidak terkenal di Bumi tapi terkenal di langit? Rasanya indah nian kalau yang sedang kita lakukan kemudian Allah sukai. Saya harus banyak belajar, terutama sebagai guru begini. Saya mengingat Ibu Marina dan Pak Amir dengan citra begini. Lalu bagaimana saya dalam kenangan anak-anak yang pernah belajar bersama saya?.

Bersyukur itu penting, jangan berhenti dan jangan bosan. Memangnya apalah milik saya ini yang bukan pemberian dari Allah? Alhamdulillah, dipinjamkan begini banyaknya. Saya itu rasanya kuat, tapi kok ya gampang nangis kalau berhubungan dengan anak. Dulu saya pernah bertemu seorang anak SMA, di kampung yang jauh dari hingar bingar kota, tidak ada sinyal, akses internet yang sangat sulit, jauh dari toko buku, dan akses jalan yang juga tidak terlalu mudah, dan tentu saja ia ndak terlalu pandai berbahasa Inggris. Saya tidak bertemu dengannya di kelas, tapi kami seringkali mengobrol, dia akan mencucikan piring-piring saya dan teman-teman, sering juga masak lauk . Beberapa bulan lalu saya bertemu dengannya ketika di Yogyakarta, ternyata anak saya sedang mengerjakan skripsi. Betapa saya bersyukur untuk hal itu.

Kenapa istighfar? Karena saya banyak salahnya, khilafnya, kurangnya. Kepada Allah bermuara pengharapan dan ampunan. Kepada manusia dilabuhkan sesalan.

Saya berharap dari sekian banyak yang saya sampaikan, ada kiranya yang bermanfaat bagi orang-orang. Saya berharap setiap anak-anak yang pernah bertemu dengan saya tumbuh menjadi anak sholeh dan sholeha, bertanggungjawab pada setiap jalan yang dipilihnya, apabila ternyata saat ini sedang singgah atau melalui jalan yang salah, semoga segera mendapat hidayah. Aamiin. Kemudian, maafkan ibu ya, nak.

For all my teachers, thank you.

===
p.s.
1.       Hormati gurumu
2.       Maafkan gurumu
3.       Do’akan gurumu
4.       Belajar Bahasa Inggris
5.       Terima kasih semua bapak ibu guru Bahasa Inggris saya, terutama guru saya saat ini, yaitu Miss Fushi dan Miss Reni
6.       Senyum dong 😊
7.       Semoga anakku, Mariati, wisuda tahun ini. Aamiin.
8.       let’s close this reading by hamdalah

Monday, February 17, 2020

Kado Ulang Tahun


Cuma belajar kelompok saja dicurigai. Jam sebelas malam belum tidur, dituduh sedang main handphone. Lebih parahnya lagi waktu bangun kesiangan, ayah pasti bilang karena tadi malam aku begadang. Ayah bahkan tidak pernah tahu atau bahkan tidak mau tahu, berapa banyak jumlah tugas kelompok dan pekerjaan rumah yang harus dikerjakan secara individu. Aku bahkan tidak punya lebih uang jajan untuk beli kuota, karena ayah sangat membatasi uang jajanku, bagaimana mungkin aku main handphone?. Lalu tentang begadang, rumah ini di dekat pasar yang selalu ramai, biarpun seumur hidupku sudah tinggal disini, namun tetap saja ada masa dimana aku lebih gelisah daripada biasanya, mungkin lebih keren kalau kubilang aku insomnia, kadang-kadang.

“Ingat, biaya kuliah mahal!”

Tentu aku tidak akan lupa. Bangun tidur, ayah akan menyambutku dengan kalimat itu. Pamit main, ayah pesan begitu. Pulang dari masjid, ayah juga bilang begitu. Rasanya bak memanjat batang kacang ajaib milik Jack, tinggi dan jauh di atas sana si biaya kuliah itu.

Atau suatu waktu ayah akan tanya, “Mau kuliah dimana kau nanti?”.

Kalau sekarang sedang gelap gulita, pasti tiba-tiba benderang dari binar mataku. Aku selalu bersemangat setiap kali ada yang bertanya tentang mimpi-mimpiku.

“Ayah tahukah banyak nian kampus di Jawa, aku mau kuliah di Jawa, Yah. Disana ada kampus yang namanya …”
“Ingat, biaya kuliah mahal!”

Selalu saja begitu. Listrik padam  bisa kusalahkan PLN. Tapi bilamana semangatku padam, tidak tega rasanya bila kusalahkan ayah. Tapi memang ayah yang salah, lirih benar suara-suara ini ada di dalam lubuk hatiku. Dengan segera aku akan mengusir suara-suara itu. Aku tahu ayah juga mendukungku kuliah. Bersamaan dengan itu, aku pun sadar bagaimana kondisi kami. Ayah hanya pedagang buah di pasar satu-satunya yang ada di kampung kami. Kalau dagangannya tidak habis laku, ayah akan berkeliling dari satu RT ke RT lain. Kampung kami kecil, hampir setiap hari semua orang ke pasar. Jika mereka tidak membeli buah segar ketika di pasar, maka sedikit sekali yang akan membeli buah layu di sore hari.

Ayah mungkin belum dapat kabar. Anak-anak remaja di sekolah mulai terserang wabah aneh. Senyum sendiri, rela lapar demi membelikan coklat, sok akrab dengan teman kelas lainnya agar bisa kirim salam dengan gratis. Kalau sampai kabar ini sampai pada ayah, kuperkirakan peringatannya akan semakin sering kudengar. Apalagi sekarang aku sudah kelas dua belas dan dalam tahun ini akan menghadapi ujian kelulusan.

“Pik, belum punya pacar ya?”
“Belum, wak”
“Jangan kau menyendiri, seperti ayahmu itu. Hidup itu indah, Pik. Harus diisi dengan hal-hal berkesan”.

Terus saja sepanjang hari aku membayangkan apalah indahnya pacaran?. Wak Ipang adalah teman ayah berdagang di pasar. Mereka sudah saling kenal sejak remaja. Wajar saja bila ia yang paling pandai menerka hati ayah. Indahnya bayanganku kemudian sirna ketika aku pulang dan bertemu ayah. Sumringah. Ayah bahkan tampak sedang memecahkan es batu, ada satu teko teh manis di atas meja. Itu semua membuatku terheran-heran.

“hari ini panas terik, Pik”.
“Tumben ayah beli es”.
“Tidak apalah sesekali. Kau juga pasti haus kan. Pulang sekolah harus jalan kaki”.

Usut punya usut hari ini dagangan ayah ludes habis sudah. Jadi ayah pulang lebih awal. Rumah sudah dibersihkan. Cucian piring yang sejatinya adalah tugasku, sudah pula ayah kerjakan. aku mencoba mencari celah yang pas untuk menyambung obrolan tempo hari tentang kuliah.

“Yah, sebentar lagi Pik ulang tahun”.
“Iya, ayah sudah siapkan kado untuk kau.”

Ayah, biar saja anak remaja lainnya mengalami penyakit yang aneh. Karena aku mengalami hal yang lebih aneh. Ayah tampak lebih muda, tampan, dan banyak uangnya. Hari ini aku bahagia sekali ayah. Aku berharap ayah memberiku kado biaya kuliah ke Jawa.

“Tapi kau harus hemat, Pik. Ingat, biaya kuliah mahal!”
“….”
“Ayah juga dengar, kawan-kawanmu mulai mengenal cinta-cintaan. Jangan kau ikuti yang demikian itu”.
“…..”
“Ayah tidak ingin kau jadi penjual buah seadanya seperti ayah begini”
“…….”. Mataku berkaca-kaca. Nafasku naik turun sama beratnya. Aku hela pelan-pelan, takut ayah merasa tersinggung.

Obrolan siang hari sepekan sebelum ulang tahunku, berlalu begitu saja. Ayah kembali berdagang, kadang langsung habis, kadang juga harus ditambah dengan berkeliling. Aku semakin sibuk latihan soal. Menyisihkan uang jajanku untuk membeli kuota internet, agar bisa belajar dari sumber lainnya yang lebih banyak lagi. Wak Ipang juga begitu, selalu mengulangi kalimat yang itu-itu saja bila bertemu denganku di pasar. Benar-benar lambat dunia berputar, namun pasti.

Hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku segera berangkat ke masjid, berjalan mendahului ayah. Aku ingin tunjukkan padanya bahwa aku sudah dewasa. Tidak perlu ayah ingatkan dan suruh-suruh lagi untuk kewajibanku. Pulang dari masjid, aku menyapu halaman, mencuci piring dan bergegas mandi. Ayah sedang bersiap-siap menata buah dalam keranjang di sisi kiri dan kanan motornya. Aku sudah siap menerima kado dari ayah.

“Pik, ayah berangkat duluan ya”.
“Eh, iya ayah. Fii amanillah”.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam, ayah".

Apa-apaan ini? Ayah bahkan tidak mengucapkan selamat ulang tahun dan mendo’akan apalah begitu untukku. Apa mungkin ayah lupa? Atau ayah mau meberikan aku kejutan? Mana mungkin ayah seromantis itu repot-repot menyiapkan kejutan untukku. Aku jadi layu. Kulangkahkan kakiku menuju ke sekolah dengan gontai, turun sudah semangatku.

Pelajaran di sekolah hari ini sulit aku mengerti. Biarpun bapak dan ibu guru sudah menjelaskannya, tetap saja aku bingung. Beberapa kali aku ditegur karena kedapatan sedang melamun. Kalau nilaiku jelek kali ini, sudah bisa kupastikan bahwa ini adalah salah ayah. Aku marah.

Pulang sekolah hari ini aku harus mampir ke pasar. Jangan sampai aku bertemu dengan ayah. Cukup saja aku diberi harapan palsu, katanya akan diberi hadiah ulang tahun. Tapi tetap saja aku harus ke pasar, karena ayah sudah menitipkan makan siang dan kunci rumah pada Wak Ipang seperti biasanya. Biarlah kali ini aku yang mengalah.

“Pik. Pik. Hei, Pik”. Wak Ipang berteriak memanggilku, ia belari tegopoh menghampiri.
“Ada apa, wak?”
“Ayah kau, Pik. Ayah kau…”
“Kenapa ayah? Ada apa, wak?” Ayah, tiba-tiba hatiku menjadi gelisah. Aku lupa bahwa sedetik yang lalu sedang marah pada ayah.
“Ayah kau sepertinya sudah tak sadar…”
“Ayah kenapa? Dimana ayah?” Aku semakin panik.
Ayo, Pik. Kita ke dalam pasar, ayah kau ada disana”

Air mataku bercucuran, bagaimana jika sesuatu terjadi pada ayah? Aku sudah tidak pernah melihat ibu semenjak bayi. Kalau sekarang sesuatu hal yang kutakutkan terjadi pada ayah, aku tidak mau, aku tidak akan siap.

Dari kejauhan aku melihat kios ayah dikerumuni banyak orang. Kupercepat langkahku, rasanya berat sekali. Orang-orang menatapku dengan sorot mata yang tidak aku tahu apa artinya. Aku semakin khawatir. Sampailah aku di depan kerumunan. Lututku gemetar, seragamku basah bersimbah peluh. Aku harus menerobos orang-orang ini. Pelan-pelan aku kepalkan dengan kuat jemariku, perlahan mulai melangkah. Dengan sendirinya orang-orang memberi jalan. Sampai akhirnya aku lihat ayah ….

“…..”.
Aku benar-benar terkejut melihat ayah, sampai jatuh lututku bersimpuh. Air mataku mengalir deras.
“Pik ….”
Tangisku semakin menjadi, aku meraung ketakutan. Sedih, takut, khawatir dan bahagia menjadi satu.
“Selamat ulang tahun, Pik”

Ayah berjongkok di hadapanku. Di tangannya ada sepotong roti kecil tanpa lilin di atasnya. Aku semakin tak kuasa menahan air mata. Ayah dan seisi pasar ini telah berkomplot mengerjaiku. Mereka bersorak sorai, mengucapkan selamat padaku, mengusap kepalaku, menepuk bahuku, dan beberapa diantaranya memberikan kado berupa tempe, sayuran, cabai, dan apa saja yang ada di kios mereka.

“Hei, anak laki-laki jangan cengeng, Pik!”

Aku sekarang sudah ada dalam pelukan ayah. Usiaku hari ini adalah 16 tahun dan aku bersyukur, ayah baik-baik saja tidak seperti yang kusangka.

“Apa ini hadiah yang ayah maksud?”
“Hahahaha. Bukan, Pik. Hadiah dari ayah adalah kau boleh kuliah kemana saja!”
“Sungguh ayah?”
“Tentu, kau sudah dewasa sekarang. Pergilah kau cari ilmu, kejar cita-citamu. Ke jawa atau kemanapun yang kau mau!”
“Benarkah ayah?” Aku terperanjat, takjub.
“Iya, tapi kau harus bersungguh-sungguh. Ingat …”
“Aku ingat, yah. Biaya kuliah mahal!”

Kami berdua tergelak. Ingusku keluar tanpa bisa kutahan. Air mataku surut dan yang tersisa adalah isak bahagia. Wak Ipang menyaksikan drama siang hari ini juga ikut tergelak. Ibu-ibu tampak senyum-senyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah kami.

Diam-diam aku minta maaf, karena sudah berburuk sangka pada ayah, bahkan aku sudah berdosa sekali karena berani menuduh ayah. Ayah.. terima kasih, ini adalah kado terindah dalam hidupku, akan kujaga amanah dari ayah.

===

Akhirnya Pik bisa kuliah ke Jawa. Usaha ayah terus berkembang, sekarang sudah ditambah dengan berjualan jus dan juga es buah. Handphone milik Pik sudah  diganti dengan yang baru, kuotanya juga selalu ada. Ayah juga membeli handphone meskipun bekas. Jadi ayah dan Pik bisa sering-sering telpon dan juga saling tatap dalam video, dan tentu saja ayah akan bilang, "Ingat, biaya kuliah mahal!"

===

Ps.
  1. Sayangi orang tua
  2. Jangan pacaran sebelum menikah
  3. Belajar dengan bersungguh-sungguh, bukan untuk orang lain tapi untuk diri sendiri maka kemudian akan berdampak pula baiknya bagi orang lain
  4. Ingat perjuangan kedua orang tua dan juga keluarga
  5. Ingat, biaya kuliah mahal!


 

Notes Of Gea Template by Ipietoon Cute Blog Design