Thursday, July 5, 2012

Perilaku

  Pengertian perilaku dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah tanggapan atau reaksi individu yang terwujud di gerakan (sikap). Banyak ahli yang mendefinisikan tentang perilaku, salah satunya adalah menurut Notoatmojo seperti dipublis dalam arisandi.com, perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dsb. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, mupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.
  Perilaku dipelajari dalam Ilmu Psikologi. Perilaku berarti berhubungan dengan persepsi yang muncul dari diri seseorang terhadap lingkungan. Adapun ilmu yang mempelajari tentang persepsi lingkungan adalah Geografi Perilaku, Psikologi Lingkungan, Ekologi Psikologis, dan Psikogeogrfi.
  Menurut Kaplan, ilmu pengetahun yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungan adalah Psikologi Lingkungan.
  Tingkah laku dapat dibagi menjadi dua:
Perilaku terbuka (over behavior), merupakan perilaku yang tampak dan bisa dirasa langsung. Contohnya memukul, membaca, mnulis, dll. Dalam kaitannya dengan geografi, perilaku dapat terwujud dalam fenomena migrasi, mobilitas, dsb.
Perilaku tertutup (cover behavior), merupakan perilaku yng tidak dapat dlihat atau tidak kasat mata, hanya tersirat saja. contohnya berupa motivasi, emosi, dan minat.

Sumber:

Pengantar Geografi Perilaku

  Lowenthal mengatakan bahwa, universe dari penelaahan Geografi dapat dibagi dalam tiga kawasan (realm):

  1. hakikat dari lingkungan
  2. apa yang kita fikirkan dan rasakan tentang lingkungan
  3. bagaimana kita berperilaku di dalam lingkungan tersebut
  Sedangkn Prof. Maman menyatakan bahwa unsur terpenting dalam Geografi Perilaku adalah pembuatan keputusan. Pernyataan itu dapat juga diartikan bahwa Geografi Perilaku erat kaitannya dengan psikologi, karena dalam psikologi dipelajari tentang merasakan dan cara berfikir.

  Ruang lingkup Geografi Perilaku, seperti yang dikutip oleh Marsden adalah meliputi 4 hal, yaitu:
  1. persepsi lingkunganPersepsi lingkungan berarti anggapan seseorang terhadap lingkungan itu sendiri. Sebagai contoh, seseorang yang memasuki sebuah rumah ibadah, tanpa disadari ia akan lebih menertibkan sikapnya mengingat Tuhan dangan berdoa dan sebagainya. Hal itu dilakukan karena dalam benaknya tempat tersebut telah dipersepsikan sebagai rumah ibadah.
  2. sikap dan respon terhadap lingkunganSikap dan respon terhadap lingkungan akan berakhir pada nsb lingkungan itu sendiri. Di suatu tempat yang melimpah sumber dayanya, maka akan menimbulkan resppon positif dari masyarakatnya sekaligus mempengaruhi skap dari masing-masing mereka. Sikap tu tidak selalu berbuah positif tetapi ada juga yang negatif, misalnya sikap yang tamak dengan mengeksploitasi sumber daya yang ada.
  3. preferensi (kesukaan) ruang lingkungan (untuk tempat tinggal, liburan, dsb)Pada dasarnya tidak ada manusia yang ingin kesulitan dalam hidupnya.
  4. persepsi lingkungan yang berpngaruh terhadap perilaku dalam pengambilan keputusanIbarat kata mau dibawa kemana lingkungan itu ditentukan oleh keputusan yang diambil
  Objek kajian geografi perilaku adalah persepsi lingkungan berupa apa yang kita fikirkan berdasarkan tentang lingkungan.

Adapun buku-buku yang dapat digunakan sebagai panduan dalam mempelajri Geografi Perilaku adalah:
Geografi Perilaku - Prof.Maman Abdurrahman
Psikologi Lingkungan - Sarlito Wirawan Sarwono (Grasindo)
geografi Perilaku - Prof. Awan Mutakin

Monday, July 2, 2012

Semseter Pendek (SP)

  Menjelang tahun ajaran baru, diberlakukan kembali semester pendek (SP) atau ada juga yang menyebutnya semester padat. wajar bila orang menyebutnya demikian karena mata kuliah yang seharusnya dipelajari dalam waktu satu semester (5-6 bulan) dipendekkan waktunya menjadi 2 -3 semester saja. tentu materi yang disampaikan dan diterima mahasiswa sangat padat dan lagi ada anggapn bahwa "satu semseter aja banyak sekali materi yang kurang dikuasai apalagi dalam dua bulan".

Jadi, efektifkah SP?
  SP selama ini dikenal dalam dua jalur.Yang pertama adalah SP Atas, itu artinya mata kuliah yang dkontrak dalam SP adalah mata kuliah untuk semeter selanjutnya, dengan demikian dapat di estimasikan bahwa mahasiswa yang mengikuti SP dan lebih tekun dibanding yang lainnya bisa menyelesaikan studinya lebih cepat atau kurang dari empat tahun. Dan kedua adalah SP bawah, artinya mata kuliah yang dikontrak dalam SP tersebut adalah mata kuliah yang sudah pernah dikontrak pada semester-semester yang lalu atau tepatnya adalah remedial.
  Sebagian orang memandang mempercepat kelulusan dengan SP Atas adalah hal yang baik karena biasanya mata kuliah SP adalah mata kuliah yang bersifat materi sosial sehingga tidak perlu pendalaman khusu di kelas dan mahasiswa bisa dan wajib mengeksplornya sendiri di luar kelas melalui berbagai media yang ada karena luasnya informasi yang berkaitan dengan mata kuliah tersebut. Sedangkan SP Bawah, bertujuan untuk memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk memperbaik kesalahan dan kesulitannya dalam belajar.
  Ada yang pro, tentu adapula yang kontra. SP Atas adakalanya dinilai kurang baik oleh sebagian orang. Sesuatu yang instan itu kurang baik hasilnya, begitu pandangan dari pihak kontra.  Lain halnya dengan SP Bawah, saya merasa Sp Bawah tidak perlu dilakukan karena termasuknya merugikan mahasiswa meskipun esensinya baik, yakni memberi kesempatan pada mahasiswa untuk memperbaiki kesalahan dan kesulitan belajarnya. SP bawah berarti mengontrak ulang mata kuliah yang sudah dikontrak dan itu artinya setinggi apapun IPK ketika kelulusan mahasiswa tersebut tidak bisa mencapai cumlaud. Tentu saja hal itu sangat disayangkan meskipun nilai bukanlah hal yang berharga dibandingkan ilmu pengetahuan yang diperoleh, tetapi perlu juga diperhatikan bahwa dunia menuntut nilai.

Mengapa saya mengikuti SP?
  Selama ini saya mengikuti SP Atas di Jurusan Pendidikan Geografi, Universitas Pendidikan Indonesia dikarenakan beberapa hal berikut ini:
  1. mata kuliah dalam SP bersifat sosial, materi menuntut mahasiswa banyak membaca dan mengeksplor materi karena tidak berupa hitungan (fisik)
  2. mengurangi beban SKS pada semester akhir dengan harapan lebih lapang waktu mengerjakan skripsi
  3. mempercepat kelulusan (telah diperhitungkan) setidaknya satu semester akhir dapat dipercepat
  4. mengisi waktu liburan, karena libur tahun ajaran baru bagi mahasiswa biasanya 2-3 bulan
  5. memanfaatkan fasilitas yang diberikan orang tua dan karunia Tuhan, tidak semua orang mampu untuk kuliah dan tidak semua orang pula yang mampu mengikuti SP atas karena berbagai alasan
  Oleh karena itu, dalam menjalani perkuliahan SP Atas, saya berusaha sebaik mungkin dalam memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada. Dengan harapan saya dapat membuktikan bahwa SP Atas bukanlah hal yang sia-sia dan instan belaka.
 

Notes Of Gea Template by Ipietoon Cute Blog Design