Wednesday, October 17, 2012

Hujan - UTOPIA

Rinai hujan basahi aku
temani sepi yang mengendap
kala, aku mengingatmu
dan semua saat manis itu
segalanya seperti mimpi
kujalani hidup sendiri
andai, waktu berganti
aku tetap takkan berubah
aku selalu bahagia, saat hujan turun
karna aku dapat mengenangmu,
untukku sendiri
oo..oo.ooh
selalu ada cerita
tersimpan di hatiku
tentang kau dan hujan
tentang cinta kita yang mengalir,
seperti air
aku selalu bahagia, saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu
untukku sendiri
oo..oo..ooh
aku bisa tersenyum sepanjang hari
karena hujan pernah menahanmu disini, untukku

*ini lagu yang sangat-sangat manis..sempat berfikir, loh ini kan lagu galau? liriknya ajah sedih, ditinggalin orang yang berharga banget dan hanya hujan yang tersisa untuk mengenang semuanya.
jangan lihat dari satu sudut pandang dong..
aku tidak akan segalau itu kok *mungkin8 kalau ditinggal seseorang seperti dalam lirik lagu itu
tapi, yang penting abgiku dalam lagu ini adalah 'hujan'. betapa hujan sangat manis dan hangat
hujan mengingatkan kita pada memori yang sudah terkubur dalam
seperih apapun ceritanya, tapi hujan menghadirkannya sedemikian rupa hingga aku merasa cerita yang pernah dilalui, seperih apapun itu, bukanlah untuk ditangisi.. tapi untuk dibiarkan mengalir seperti air yang kelak akan bermuara
di muara itulah segalanya bermula, karena ketika mengalir.. semuanya bisa tanpa kendali
aku selalu suka hujan ^_^

Ini namanya surat cinta..

Subuh (Titian Teras, 2009)

apakah kamu sudah lupa?
apa kamu pernah tanya?
aku baru saja makan pagi, sambil mengingatmu
cuma khawatir, kalau-kalau nanti aku lupa wajahmu
kegiatan ini sudah resmi masuk dalam daftar harianku
sudah lama...
sejak adzan waktu itu
padahal aku begitu yakin
aku tak akan lupa wajahmu
karena aku selalu mengulangi untuk mengingatnya lebih sering dari jadwalku mengulang pelajaran
aku berencana menghampirimu
tapi aku takut dan ragu
tapi aku lebih takut ingatanku hilang
jadi dengar ya, ini rahasia kita,
"adzan subuh tadi, kaukah itu?"

Saturday, October 6, 2012

Ah, ini hanya sekedar renungan...

Suatu hari dalam perjalanku menggunakan kereta Malabar di kelas ekonomi, aku merasa ada hal-hal yang telah berlalu dengan begitu cepatnya. Dengan kesadaran penuh, aku mulai menuliskan kata demi kata yang bermunculan dalam benakku yang hingga akhirnya terangkai menjadi rangkaian kalimat, baris demi baris. Tanpa judul. Ah, ini hanya sekedar renungan...

Sesungguhnya tiada daya dan upaya melainkan kekuasaan-Nya
saya merasa ada nista dalam asa
saya merasa ada dusta dalam kata
dan saya merasa sedang mempermainkan separuh hidup ini dengan sia-sia
padahal...
tak akan ada kabar berita manakala bumi berhenti berputar
dan tak akan ada yang bisa menghalau apabila mentari tak bersinar lagi
sesungguhnya semua kabar gembira berasal dari-Nya,
siapapun saya pada waktu itu..
bagaimanapun rupa jiwa raga saya, ternyata ayah dan bunda berlapang dada bahkan bersuka cita menerima segalanya
saat itu, saya merasa ada cinta dalam tawa
saya merasa betapa saya hanyalah titipan Tuhan, tetapi menjadi beban terindah bagi mereka
tak akan sanggup saya menebak apa yang akan terjadi
dan lebih tak sanggup lagi bila saya harus menentukan apa yang akan terjadi,
dan begitulah kisah ini dimulai...
ketika saya beranjak dewasa,
Tuhan mengingatkan saya melalui berbagai hal
dengan meneguk air dalam gelas, saya merasakan perjalanan panjangnya dari gunung-gunung dan melalui lembahnya
dari sebutir nasi, saya seperti melihatnta berjuang tumbuh dari dalam tanah
Tuhan melindungi saya melali sayap-sayap indah bunda
Tuhan memanjakan saya melalui teguhnya lengan ayah
dan kemudian Tuhan memberi saya sebuah permata
kepercayaan... itulah permata yang Tuhan berikan
ketika separuh dari hidup saya akan terlampaui
saya harus melangkah
menapaki tanah di bumi antah berantah
menghirup udara dengan jumawa
mungkin kisah ini akan segera berakhir...
saya merasa ada asa dalam upaya
saya merasa ada pelita dalam cahaya, sia-sia
dan saya merasa apalah artinya permata yang Tuhan berikan bila hanya ada kehampaan
tapi, Tuhan yang menentukan
Tuhan memberikan apa yang saya butuhkan
di hadapan cermin diri,
saya merasa banyak dusta dalam kata
saya merasa bergelimang dosa dalam upaya
dan saya merasa sedang mempertaruhkan permata untuk hal yang tiada berguna
oh..ternyata belum telambat untuk membuka lembar baru
saya tidak perlu menghapus masa lalu
karena saya diliputi rasa malu
saya merasa orang lain tidaklah perlu tahu..
karena saya bukanlah orang penting yang harus menjadi baik,
tetapi yang penting bagi saya adalah menjadi baik
sesungguhnya tiada daya dan upaya melainkan atas kehendak-Nya..
saya merasa rendah bila mengabaikan amanah
saya merasa lenyap bila mematahkan sayap-sayap bunda
saya merasa pantas dicaci bila melukai lengan ayah
dan saya merasa Tuhan masih sudi memberikan kesempatan
Nah... begitulah kisah ini akan diteruskan.


 

Notes Of Gea Template by Ipietoon Cute Blog Design